Dampak Smartphone Mengubahku

Mahasiswa Jurnalistik
Tulisan dari Reza Andrafirdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah menciptakan smartphone adalah bumerang untuk manusia?
Bijak, kata-kata yang cocok untuk mengetahui permasalahan di atas benar atau tidak. Petuah orang tua juga memang cocok untuk kehidupan di era digital, bila menggunakan sesuatu secara berlebihan akan memberikan dampak yang buruk untuk diri kita. Apa lagi kalau sudah kita lakukan dengan jangka waktu yang lama.
Awal mula aku mengenal benda canggih nan pintar itu pada tahun 2013. Aku ingin memilikinya atas dasar kegengsian seorang anak remaja yang ingin menyamai teman-temannya. Tapi lambat laun teknologi juga berkembang dengan pesat. Menyisihkan uang jajan untuk menabung supaya aku lakukan agar kemauan terpenuhi dan akhirnya aku tersadar ini memberikan dampak yang luar biasa.
Renggangnya Hubungan dengan Keluarga
Melansir dari bisnis.com, Profesor psikoanalisis kontemporer dan perkembangan sains dari University College London, Peter Fonagy mengatakan kesenjangan komunikasi antara anak dan orang tua memang telah terjadi sejak berakhirnya perang dunia kedua, tetapi era modernisasi saat ini makin menajamkan kesenjangan tersebut. Seolah ada dunia yang berbeda antara orang tua dengan anak, dan keduanya merupakan dunia masing-masing.
Datangnya smartphone ke kehidupanku memang sangat membantu, apalagi persoalan berkomunikasi dengan keluarga ketika aku jauh dari mereka. Tapi semua berubah ketika kecanggihan itu aku salah gunakan.
Bermain game lupa waktu adalah permasalahan utama bagi diriku. Sering kali ketika pulang sekolah aku dimarahi orang tua karena langsung bercumbu dengan smartphone. Kesalahanku yang menghiraukan mereka berdampak besar. Bisa dibilang “Satu atap tapi jarang menatap” hubunganku dengan mereka. Aku masih mencari formula yang tepat agar kerenggangan ini dapat diperbaiki dan keharmonisan kembali tercipta.
Mengalami Kerusakan Mata
Menatap layar smartphone secara terus-menerus memberikan siksaan untuk mata.
Melansir dari Riaupos.co, Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Awal Bros Panam, dr Rudi Sinaga SpM, mengatakan penggunaan gadget pada anak juga sangat berpengaruh terjadinya kelainan refraksi mata. Karena gadget dan komputer tablet memancarkan sinar biru (blue light) yang berdampak buruk bagi mata. Jarak smartphone dan pengaturan cahaya pun harus diperhatikan dengan baik.
Hal ini aku rasakan pada pertengahan tahun 2016. Mataku yang normal tanpa gangguan akhirnya rusak karena ketika aku bermain smartphone jarak dengan mata sangat dekat dan cahaya yang aku atur sangat terang. Saat mengecek kesehatan mata, aku dan Ibu terkejut, hasilnya aku miopi atau mata minus dengan ukuran -1,5 dan harus menggunakan kaca mata.
Sakit Kepala
Permasalahan yang aku alami makin serius. Karena Kembali kurang baik mengatur jarak, waktu, dan pencahayaan smartphone aku sering mengalami sakit kepala.
Menurut sebuah studi pada jurnal Cephalalgia, menatap layar ponsel terlalu lama bisa menjadi salah satu pencetus di balik kambuhnya migrain. Hal ini dibuktikan setelah Montagni dan tim meneliti sebanyak 5.000 orang dewasa muda dengan rata-rata usia 20 tahun, kemudian mengukur seberapa lama mereka menatap layar HP, komputer, atau televisi setiap harinya.
Sakit kepala sering aku alami pada tahun 2019 karena sedang hitsnya salah satu game mobile. Aku terbawa sensasi serunya permainan itu sehingga intensitas memaikannya sangat tinggi. Bermain tak kenal waktu tanpa istirahat yang cukup membuat kepalaku “memberontak” dan menuntut untuk istirahat. Sakit sekali yang aku alami, seperti ditariknya saraf-saraf yang ada di kepala.
Setelah beristirahat dengan cukup dan mengurangi intensitas bermain smartphone, aku jadi jarang terserang sakit kepala. Memang istirahat yang cukup adalah kuncinya. Kepala memang pusat pemerintahan untuk setiap anggota tubuh. Bila terlalu sering dipaksakan bekerja akan memberikan dampak buruk untuk diri sendiri.
Sikap bijak sangat diperlukan untuk memanfaatkan smartphone supaya kehidupan kita dengan lingkungan sekitar tetap terjalin harmonis. Era digital ini juga merupakan tantangan kita untuk membuktikan, bila kita menggunakan teknologi secara berlebihan akan menjadi bumerang untuk diri sendiri.
