Konten dari Pengguna

Bahasa Indonesia di Tengah Arus Globalisasi: Masihkah Menjadi Identitas Bangsa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andra Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa Indonesia di Tengah Arus Globalisasi: Masihkah Menjadi Identitas Bangsa?
zoom-in-whitePerbesar

Sebagai masyarakat Indonesia, bahasa yang kita gunakan adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Dimana, di Indonesia memiliki beragam bahasa di setiap daerahnya ,tetapi dapat disatukan dengan menggunakan bahasa Indonesia,Sayangnya, di zaman sekarang ini pemakaian bahasa Indonesia sudah jauh dari kata yang benar. Dikarenakan di zaman sekarang ini sudah banyak digunakannya bahasa kekinian atau biasa disebut dengan bahasa gaul.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia saling berinteraksi dengan menggunakan bahasa. Bahasa adalah sebuah alat untuk berkomunikasi antar manusia. Dimana, dengan bahasa kita dapat menyampaikan ide, pikiran, gagasan, serta perasaan kita kepada orang lain. Dalam penggunaannya, bahasa tidak hanya dipahami dari satu arah saja, tetapi bahasa harus bisa dipahami dari dua arah, yaitu pembicara dan pendengar. Sehingga, dengan pemakaian bahasa yang tepat dapat terciptanya bahasa yang efektif.

Bahasa gaul adalah bahasa kekinian atau bahasa pergaulan. Bahasa gaul banyak digunakan oleh anak remaja yang biasanya sering dibicarakan dengan teman sebayanya. Alasan utama anak remaja menggunakan bahasa ini karena agar lebih keren dan lebih asyik. Biasanya percakapan biasa gaul tidak hanya digunakan secara lisan saja, tetapi juga melalui social media, seperti Twitter dan WhatsApp. Contoh Bahasa gaul yang sering digunakan oleh remaja sekarang ini, yaitu "bapak dan ibu" menjadi "bokap dan nyokap", "bagaimana" menjadi "gimana", "ini" menjadi "nih" dan sebagainya.

Selain bahasa gaul, bahasa Inggris juga salah satu faktor mengapa bahasa Indonesia sudah jarang diminati. Dikarenakan bahasa Inggris adalah bahasa Internasional atau bahasa dunia.Dimana, segala informasi sekarang ini dari banyak negara sudah dikuasai oleh bahasa Inggris, sehingga dengan menguasai bahasa Inggris kita akan lebih mudah memahami informasi dari seluruh dunia. Selain itu, disebutkan juga orang yang mahir dalam berbahasa inggris adalah orang yang dapat menguasai dunia. Inilah mengapa banyak dari remaja atapun orang dewasa pun merasa bahwa bahasa ini jauh lebih penting dibandingkan dengan bahasa indonesia.

Pada topik kali ini kita akan membahas topik kritis tentang hal tersebut, Bahasa Indonesia jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari karena dominasi bahasa daerah sebagai bahasa ibu, tingginya penggunaan bahasa gaul/slang di kalangan remaja, serta pengaruh bahasa asing (Inggris) akibat globalisasi. Selain itu, faktor psikologis seperti rasa nyaman menggunakan bahasa lokal, serta metode pengajaran bahasa Indonesia yang dianggap monoton juga berkontribusi.

Adapun faktor-faktor utama mengapa Bahasa Indonesia jarang digunakan dalam konteks informal:

1.Dominasi Bahasa Daerah (Bahasa Ibu): Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Dalam situasi santai, keluarga, atau lingkungan lokal, masyarakat lebih nyaman dan merasa lebih akrab menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia formal.

2.Pengaruh Bahasa Gaul dan Media Sosial: Di kalangan remaja dan kaum urban, penggunaan bahasa gaul (slang) dianggap lebih keren, trendy, dan santai dalam komunikasi sehari-hari maupun media sosial.

3.Persepsi "Kaku" dan Metode Pengajaran: Bahasa Indonesia yang diajarkan seringkali berfokus pada aturan baku, sehingga dianggap sulit dan kurang menarik dibandingkan bahasa santai.

4.Lingkungan Sosial dan Urbanisasi: Saat masyarakat berpindah ke kota (urbanisasi), mereka cenderung mengadopsi bahasa pergaulan lokal atau bahasa Indonesia yang tidak baku untuk mempermudah interaksi.

Karena mayoritas orang Indonesia dibesarkan dalam lingkungan masyarakat sekitar yang secara etnis homogen dan sesuku dengannya, sehingga bahasa daerah itu sudah menjadi bahasa ibunya sejak kecil, sementara bahasa Indonesia diajarkan ketika mulai masuk sekolah dan mulai belajar membaca serta menulis. Sebagian besar orang Jawa, misalnya, dibesarkan di daerah yang mayoritas warganya orang Jawa. Demikian pula orang Sunda, Minang, Madura dan lainnya.

Orang Indonesia yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama (bahasa ibu) biasanya mereka yang dibesarkan si lingkungan yang multietnis, yakni daerah yang tidak ada etnis mayoritasnya sehingga tak ada budaya etnis tertentu yang dominan. Misalnya Jakarta, Medan, Batam, Balikpapan, Sorong, dan Jayapura. Karena beragam etnis, maka bahasa Indonesia dengan logat setempat yang menjadi bahasa utama warga di sana.

Untuk mengatasi permasalahan terkait penurunan popularitas bahasa Indonesia di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

1.Meningkatkan Pendidikan Bahasa Indonesia yang Menarik

Peningkatan Kurikulum: Kurikulum pendidikan perlu diperbarui untuk menekankan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satu pendekatannya adalah dengan mengajarkan sejarah, budaya, dan literatur Indonesia melalui bahasa Indonesia, agar siswa lebih menghargai kekayaan bahasa ini.

2.Menggunakan Bahasa Indonesia dalam Media Sosial dan Konten Digital

Pengaruh Influencer dan Kreator Konten: Influencer atau kreator konten yang populer di media sosial bisa berperan penting dalam mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Dengan memanfaatkan platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, mereka bisa membuat konten menarik yang menggunakan bahasa Indonesia secara kreatif.

3.Peningkatan Penggunaan Bahasa Indonesia di Dunia Profesional

Penggunaan Bahasa Indonesia di Dunia Kerja: Di perusahaan-perusahaan atau instansi publik, bisa diterapkan kebijakan untuk lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi internal, meskipun tetap ada penggunaan bahasa asing untuk kebutuhan global.

4.Menumbuhkan Rasa Cinta terhadap Bahasa Indonesia

Pembelajaran Sejak Dini: Menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia pada anak-anak sejak usia dini bisa membantu mereka lebih menghargai bahasa dan budaya Indonesia. Hal ini bisa dilakukan melalui cerita, lagu, dan permainan edukatif yang menggunakan bahasa Indonesia.

Dari apa yang telah disampaikan saya menarik kesimpulannya yaitu meningkatnya penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, disebabkan oleh globalisasi dan dominasi media digital. Untuk mengatasi hal ini, solusi utama adalah dengan memperkuat pendidikan bahasa Indonesia di semua tingkat, mendorong penggunaan bahasa Indonesia dalam media sosial dan konten digital, serta meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia. Selain itu, dukungan dari sektor profesional dan masyarakat melalui kebijakan bahasa yang jelas serta kampanye bahasa juga penting untuk menjaga relevansi bahasa Indonesia. Semua ini harus dilakukan secara berkelanjutan agar bahasa Indonesia tetap menjadi identitas penting dalam kehidupan sehari-hari.