Dampak Kebijakan Suku Bunga terhadap Keyakinan Konsumen

Analis Yunior di Bank Indonesia
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ingatkah kita membawa uang seratus ribu bisa membeli banyak sembako, namun kini tinggal kenangan. Uang seratus ribu hanya dapat membeli beberapa kilo ikan. Makan terasa mahal, inilah yang dinamakan inflasi.
Pemerintah telah menetapkan angka inflasi 2,5% plus minus 1%, artinya target inflasi rentang 1,5%-3,5%. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam rentang tertentu, menjadikan harga semakin mahal meskipun penghasilan semakin meningkat. Hal ini merupakan tujuan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga inflasi melalui kebijakan suku bunga
Kebijakan suku bunga salah satu instrumen BI dalam menjaga mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi melalui penetapan BI-Rate yang menjadi acuan bagi suku bunga perbankan. Perubahan suku bunga akan berdampak terhadap dunia usaha sektor keuangan, dan keyakinan konsumen. Keyakinan konsumen menggambarkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi kini maupun prospek ekonomi di masa mendatang. Ketika konsumen merasa yakin terhadap kondisi ekonomi, mereka cenderung meningkatkan konsumsi dan investasi rumah tangga.
Suku bunga dan keyakinan konsumen terjadi saluran transmisi ekonomi. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, biaya pinjaman akan meningkat. Kredit konsumsi seperti kredit rumah, bermotor dan lainnya menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat mengurangi minat masyarakat untuk melakukan pembelian barang tahan lama yang umumnya memerlukan pembiayaan kredit. Selain itu, kenaikan suku bunga juga dapat mengurangi kemampuan rumah tangga dalam mengalokasikan pendapatan untuk konsumsi karena sebagian pendapatan digunakan untuk membayar. Dampaknya, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan keyakinan konsumen dapat menurun.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga sering kali dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Jika masyarakat memahami kenaikan suku bunga untuk stabilisasi nilai tukar, maka dampak negatif terhadap keyakinan konsumen dapat diminimalkan. Dalam kondisi tertentu, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi justru mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan suku bunga terhadap keyakinan konsumen tidak selalu bersifat negatif, melainkan bergantung pada persepsi masyarakat terhadap efektivitas kebijakan tersebut.
Data Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen Indonesia relatif tetap berada pada zona optimis selama tahun 2026. Survei Konsumen BI pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 120,9.
Namun demikian, dinamika suku bunga dan kondisi ekonomi global turut memengaruhi perkembangan keyakinan konsumen sepanjang tahun. Pada Maret 2025, IKK menurun menjadi 121,1 dari posisi sebelumnya, meskipun masih berada pada level optimis. Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, dan kehati-hatian masyarakat dalam melakukan konsumsi. Meski demikian, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen masih bertahan di atas level 100, yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat belum mengalami pelemahan signifikan.
Pengaruh suku bunga terhadap keyakinan konsumen dapat dijelaskan melalui pendapatan dan substitusi. Ketika suku bunga naik, masyarakat memperoleh insentif lebih besar untuk menabung karena tingkat imbal hasil yang meningkat. Sebaliknya, konsumsi saat ini menjadi relatif lebih mahal dibandingkan konsumsi di masa depan. Akibatnya, sebagian rumah tangga memilih menunda belanja dan meningkatkan tabungan. Perubahan perilaku ini dapat menyebabkan perlambatan konsumsi rumah tangga.
Lebih lanjut, kebijakan suku bunga berdampak terhadap pasar tenaga kerja. Kenaikan suku bunga yang terlalu agresif dapat memperlambat investasi perusahaan karena modal meningkat. Jika investasi menurun, penciptaan lapangan kerja baru dapat terhambat sehingga memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap pendapatan masa depan. Oleh sebab itu, bank sentral harus menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, keyakinan konsumen menjadi indikator penting untuk prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika masyarakat optimis terhadap kondisi ekonomi, mereka meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari maupun barang tahan lama. Peningkatan konsumsi ini mendorong investasi, produksi, dan penyerapan tenaga kerja.
Faktor lain yang memengaruhi hubungan antara suku bunga dan keyakinan konsumen adalah literasi keuangan. Konsumen yang memahami tujuan kebijakan moneter cenderung merespons perubahan suku bunga secara lebih rasional. Mereka tidak hanya melihat dampak jangka pendek berupa kenaikan kredit, tetapi juga memahami manfaat jangka panjang seperti pengendalian inflasi. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan yang efektif dari BI menjadi penting
