Diversifikasi Pasok Mendorong Lapangan Kerja dan Investasi

Analis Yunior di Bank Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi dan globalisasi telah membawa iklim kompetisi dan mendorong negara dan swasta meninjau kembali strategi rantai pasok. Kondisi geopolitik dan biaya logistik menunjukkan seberapa bergantungnya suatu negara pada wilayah tertentu. Terdapat dua strategi yang semakin banyak diterapkan, yaitu diversifikasi dan reshoring rantai pasok. Reshoring adalah memindahkan kembali kegiatan produksi ke negara asal, sedangkan diversifikasi rantai pasok adalah kegiatan produksi ke berbagai negara untuk mengurangi risiko konsentrasi. Strategi ini memiliki peluang dan tantangan tersendiri.
Mayoritas negara atau perusahaan memindahkan pabrik mereka ke negara dengan upah yang murah. Reshoring menjadi populer untuk mengurangi ketergantungan terhadap suatu negara khususnya yang jauh dari pasar. Mayoritas. Tak jarang perusahaan mengembalikan aktivitas produksi mereka ke negara asal.
Dari sisi peluang, reshoring menciptakan lapangan kerja baru, mendorong investasi industri, serta memperkuat produksi domestik. Lebih lanjut, reshoring mempercepat teknologi dan inovasi karena kegiatan produksi, penelitian, dan pengembangan menjadi lebih terintegrasi. Negara-negara maju seperti Jepang telah membawa kembali kegiatan produksi strategis mereka kembali ke negara asal.
Selain menciptakan lapangan kerja, reshoring meningkatkan keamanan ekonomi dalam negeri. Dalam beberapa sektor strategis, ketergantungan terhadap pemasok luar negeri dianggap sebagai risiko yang mengganggu ekonomi nasional. Dengan memperkuat kapasitas produksi domestik, negara dapat mengurangi risiko kekurangan pasokan khususnya ketika krisis.
Meskipun demikian, reshoring tidak selalu dapat dilaksanakan. Salah satu tantangan utama adalah tingginya biaya produksi domestik. Banyak perusahaan sebelumnya memindahkan produksi ke luar negeri karena ingin memperoleh upah yang murah dan meningkatkan kompetisi harga produk sehingga meningkatkan penjualan. Ketika produksi dipindahkan kembali, perusahaan harus menambah biaya upah yang mengakibatkan harga meningkat dan daya saing menurun. Keberhasilan reshoring acapkali bergantung pada kemampuan perusahaan mengadopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Selain biaya, tantangan lain adalah keterbatasan tenaga domestik yang acapkali memiliki kompetensi kurang mumpuni. Ketika perusahaan mengembalikan produksi, perusahaan harus menambah biaya untuk pelatihan tenaga kerjamereka harus berinvestasi dalam pelatihan tenaga kerja untuk mengejar ketertinggalan. Hal ini memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit.
Di sisi lain, diversifikasi rantai pasok hadir seolah menjadi alternatif dalam meningkatkan meningkatkan ketahanan tanpa harus memindahkan seluruh produksi ke negara asal. Diversifikasi dilakukan dengan menambah lokasi produksi dan sumber pasokan ke negara sehingga perusahaan tidak terlalu tergantung pada negara tertentu. Salah satu negara yang menerapkan ini ialah China dengan mempertahankan sebagian operasi di China sambil mengembangkan produksi tambahan seperti Indonesia, India, Vietnam, dan Meksiko.
Diversifikasi rantai pasok berpeluang besar karena mengurangi risiko gangguan operasional yang berasal dari bencana alam, kebijakan perdagangan, dan geopolitik. Jika satu negara mengalami hambatan logistik, perusahaan masih memiliki cadangan fasilitas negara lain untuk menjaga kelangsungan pasokan. Diversifikasi memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam mengelola biaya produksi.
Bagi negara berkembang, tren diversifikasi rantai pasok membuka peluang untuk menarik investasi asing langsung. Banyak perusahaan mencari alternatif yang menawarkan upah kompetitif, infrastruktur memadai, dan lingkungan bisnis dan politik yang kondusif. Negara yang mampu memenuhi kriteria tersebut berpotensi menjadi tujuan relokasi industri berupa lapangan kerja, teknologi, dan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Indonesia berpeluang besar karena memiliki letak strategis, negara luas, dan tenaga kerja yang relatif bersaing dari sisi kuantitas dan upah.
Diversifikasi rantai pasok memiliki tantangan yaitu koordinasi. Perusahaan harus memastikan standar kualitas, kepatuhan regulasi, serta kelancaran komunikasi antarunit bisnis. Kompleksitas ini memiliki risiko meningkatkan biaya.
Tantangan lainnya adalah kebutuhan investasi untuk membangun jaringan rantai pasok baru. Perusahaan harus melakukan penelitian dan pengembangan teknologi informasi agar mampu mendukung operasi lintas negara. Selain itu, risiko ketidakpastian suatu negara juga harus dipertimbangkan.
Ke depan, reshoring dan diversifikasi rantai pasok dipandang sebagai strategi yang saling melengkapi. Banyak perusahaan mengadopsi pendekatan hibrid dengan mempertahankan sebagian produksi negara domestik sambil mendiversifikasi pemasok global yang lebih beragam. Tantangannya ialah bagaimana meningkatkan keterampilan dan produk domestik. Regulator termasuk Bank Indonesia (BI) melalui pengembangan produksi dan keterampilan UMKM turut serta dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Tentunya hal ini bersinergi bersama pemerintah dalam rangka menciptakan iklim kompetisi, investasi, dan politik yang stabil.
