Halal Expo Indonesia 2026: Memperkuat Ekosistem Halal

Analis Yunior di Bank Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam pengembangan ekonomi syariah melalui pelaksanaan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026. Ajang internasional ini bukan hanya memamerkan produk halal, melainkan ajang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, investor, hingga akademisi, dari berbagai negara anggota D-8 (Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Iran, Turki, Mesir, dan Nigeria) yang membangun kolaborasi ekonomi syariah. HEI menjadi komitmen Indonesia dalam mendorong investasi, perdagangan, serta pengembangan rantai halal.
Penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia 2026 bermakna penting karena Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah dalam D-8 periode 2026–2027. Momentum ini memberikan kesempatan untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri halal dunia. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, didukung pertumbuhan industri makanan dan minuman, fesyen muslim, kosmetik, farmasi, hingga keuangan syariah yang terus berkembang, dapat dikatakan Indonesia memiliki modal menjadi penggerak utama ekonomi halal global.
D-8 sendiri adalah organisasi kerja sama ekonomi yang terdiri atas delapan negara yang memiliki populasi gabungan lebih dari 1,2 miliar jiwa dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari USD 5 triliun. Potensi ini menjadikan D-8 sebagai kawasan strategis pengembangan perdagangan produk halal lintas negara. Melalui D-8 Halal Expo Indonesia 2026, peluang tersebut diwujudkan dalam bentuk pertemuan investasi, bisnis, dan kerja sama antar pelaku industri.
Ajang Membangun Jejaring
Mengusung konsep Business to Business (B2B) dan Business to Government (B2G), D-8 Halal Expo Indonesia 2026 menghadirkan pertemuan perusahaan, UMKM, eksportir, importir, investor, hingga regulator dapat saling bertemu untuk membangun jaringan bisnis yang produktif. Expo ini menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk unggulan mereka kepada pasar internasional sekaligus membuka peluang ekspor baru.
Salah satu program unggulan dalam penyelenggaraan ini adalah Business Matching. Melalui program tersebut, peserta mempertemukan bisnis secara terjadwal dengan calon pembeli atau investor dari berbagai negara anggota D-8. Model bisnis seperti ini dinilai lebih efektif karena menghasilkan komunikasi yang terarah dan menghasilkan transaksi maupun kerja sama jangka panjang. Selain memperluas akses pasar, business matching mempercepat ekspansi bisnis ke global.
Selain aktivitas perdagangan, D-8 Halal Expo Indonesia 2026 menghadirkan D-8 HEI Talk, sebuah forum diskusi yang mempertemukan para akademisi, pelaku industri, regulator, hingga generasi muda dalam membahas perkembangan ekonomi halal dunia. Forum ini mengangkat isu strategis seperti inovasi produk halal, regulasi, digitalisasi industri, pembiayaan syariah, serta peluang investasi di sektor halal. Dengan menghadirkan berbagai pembicara dari negara anggota D-8, HEI Talk diharapkan menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat mempercepat pertumbuhan industri halal global.
Tidak hanya fokus pada aspek bisnis, penyelenggaraan HEI 2026 juga memperkenalkan D-8 HEI Cultural Festival. Festival budaya ini menjadi ruang memperkenalkan kekayaan budaya negara anggota D-8 melalui n seni, kuliner, kerajinan tangan, hingga berbagai tradisi yang menjadi identitas masing-masing negara. Kehadiran festival budaya memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi pengunjung karena mereka tidak hanya melihat produk, tetapi juga memahami nilai budaya yang menjadi bagian dari perkembangan industri halal.
Indonesia memperoleh manfaat dari penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia 2026. Bagi pelaku usaha nasional, terutama UMKM, expo ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan produk kepada pembeli internasional. Kesempatan bertemu langsung dengan importir, investor, maupun mitra strategis dapat mempercepat proses ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Di sisi lain, pemerintah memperoleh manfaat melalui peningkatan kerja sama ekonomi antarnegara. Berbagai pertemuan bilateral maupun multilateral selama penyelenggaraan expo membuka peluang lahirnya nota kesepahaman (MoU), investasi baru, hingga penguatan rantai pasok halal antarnegara anggota D-8. Dalam pelaksanaan HEI 2026 sejumlah penandatanganan kerja sama perdagangan komoditas seperti rempah-rempah, kopra, dan bahan makanan beku yang memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok utama produk halal di kawasan.
Lebih jauh lagi, penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia 2026 berdampak terhadap sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, jasa, hingga industri kreatif. Ribuan delegasi, peserta pameran, investor, dan pengunjung dari berbagai negara berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas ekonomi di Jakarta selama penyelenggaraan acara. Efek berganda (multiplier effect) tersebut menjadi salah satu alasan mengapa penyelenggaraan event internasional memiliki nilai strategis.
Perkembangan industri halal sendiri saat ini tidak lagi terbatas pada makanan dan minuman. Berbagai sektor seperti kosmetik, farmasi, teknologi digital, hingga keuangan syariah telah berkembang menjadi bagian penting dalam ekosistem halal global. Oleh karena itu, D-8 Halal Expo Indonesia 2026 dirancang untuk mengakomodasi seluruh sektor tersebut agar dapat saling terhubung dalam satu platform kolaborasi internasional.
Keberhasilan penyelenggaraan HEI menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan antar pemerintah, tetapi melalui keterlibatan aktif dunia usaha. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, masyarakat, dan akademisi menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem halal yang kompetitif dan inovatif. Sinergi inilah yang diharapkan mampu memperkuat posisi negara-negara anggota D-8 sebagai pemain utama dalam industri halal dunia.
