Konten dari Pengguna

Hubungan SKDU, PMI Manufaktur, dan Pertumbuhan Industri Pengolahan

Andri Pratama Saputra

Andri Pratama Saputra

Analis Yunior di Bank Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: generate gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber: generate gemini

Hubungan antara Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur, dan pertumbuhan sektor industri pengolahan adalah hal penting dalam analisis ekonomi karena ketiga indikator tersebut mampu memberikan gambaran mengenai kondisi sektor riil baik dari sisi ekspektasi pelaku usaha maupun realisasi aktivitas produksi. Di Indonesia, sektor industri pengolahan adalah kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi berkisar 18–19 persen terhadap PDB dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan aktivitas pada sektor industri pengolahan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi nasional, dan ekspor. Analisis yang digunakan biasanya melalui indikator dini (leading indicators), di antaranya SKDU yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) dan PMI Manufaktur yang diterbitkan oleh S&P Global. Kedua indikator ini sering kali menjadi acuan utama dalam memperkirakan arah pertumbuhan industri pengolahan sebelum data resmi PDB sektoral dirilis.

SKDU merupakan survei triwulanan yang dilakukan BI terhadap perusahaan sektor ekonomi. Tujuan utama survei ini adalah memperoleh gambaran mengenai perkembangan kegiatan usaha dan kondisi 6 bulan ke depan. Hasil utama SKDU disajikan dalam bentuk Saldo Bersih Tertimbang (SBT). Nilai SBT positif menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang melaporkan peningkatan aktivitas dibandingkan penurunan aktivitas.

Sementara itu, PMI Manufaktur merupakan indikator bulanan yang mengukur kondisi sektor manufaktur berdasarkan survei manajer pembelian perusahaan. PMI dibangun dari lima komponen utama, yaitu pesanan baru, produksi, waktu pengiriman pemasok, tenaga kerja, dan persediaan barang. Nilai PMI berada pada skala 0–100, dengan angka 50 sebagai batas ekspansi dan kontraksi. PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang berkembang, sedangkan PMI di bawah 50 menandakan adanya kontraksi. PMI memiliki keunggulan dalam menangkap perubahan kondisi industri secara lebih cepat dibandingkan indikator ekonomi lainnya karena tiap bulanan

Hubungan antara SKDU dan PMI Manufaktur pada dasarnya erat karena keduanya sama-sama mengukur persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis. Ketika perusahaan mengalami peningkatan permintaan, produksi meningkat, kapasitas utilisasi bertambah, dan optimisme terhadap prospek usaha membaik, maka nilai SBT SKDU cenderung meningkat. Pada saat yang sama, PMI Manufaktur juga biasanya bergerak naik karena komponen produksi dan pesanan baru mengalami ekspansi.

Hubungan positif tersebut terlihat dalam berbagai periode pemulihan ekonomi Indonesia. Sebagai contoh, setelah pandemi COVID-19 mereda, PMI Manufaktur Indonesia kembali berada di atas level 50 selama sebagian besar periode 2022 hingga pertengahan 2024, yang menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami ekspansi. Pada periode yang sama, hasil SKDU Bank Indonesia juga menunjukkan SBT kegiatan usaha tetap berada pada zona positif,.

Industri pengolahan berkarakter sama terhadap perubahan permintaan agregat. Ketika konsumsi rumah tangga meningkat, perusahaan manufaktur akan menerima lebih banyak pesanan sehingga meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan SBT produksi pada SKDU. Dalam kondisi tersebut, baik PMI maupun SKDU biasanya memberikan sinyal peningkatan sebelum data pertumbuhan industri pengolahan diumumkan oleh BPS.

SKDU melengkapi informasi yang diberikan PMI karena cakupannya lebih luas. Jika PMI hanya berfokus pada sektor manufaktur, SKDU mencakup berbagai lapangan usaha seperti konstruksi, pertanian, perdagangan, transportasi, pertambangan, dan lainnya. Dengan demikian, SKDU mampu menjelaskan apakah perubahan pada industri pengolahan dipengaruhi oleh sektor lain, misalnya meningkatnya sektor konstruksi yang meningkatkan kebutuhan terhadap semen, baja, dan berbagai produk industri lainnya. Informasi lintas ini berguna dalam memahami keterkaitan antarindustri.

Hubungan antara SKDU dan pertumbuhan industri pengolahan juga terlihat melalui indikator kapasitas produksi. Dalam SKDU, BI mengukur tingkat utilisasi kapasitas. Ketika utilisasi kapasitas meningkat hingga mendekati tingkat optimal, perusahaan melakukan ekspansi investasi berupa pembangunan pabrik, pembelian mesin baru, atau penambahan tenaga kerja. Fenomena tersebut mendorong peningkatan output industri pengolahan dalam beberapa triwulan berikutnya. Oleh karena itu, tingkat utilisasi kapasitas dalam SKDU sering dianggap sebagai indikator awal bagi pertumbuhan investasi sektor manufaktur.

Selain faktor domestik, hubungan ketiga indikator tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Sebagai contoh, ketika terjadi gangguan rantai pasok global, perusahaan manufaktur mengalami kesulitan memperoleh bahan baku yang menyebabkan produksi melambat. PMI menunjukkan penurunan pada komponen waktu pengiriman pemasok, sedangkan SKDU mencatat penurunan aktivitas penjualan dan. Pertumbuhan industri pengolahan pada periode berikutnya juga mengalami perlambatan. Dengan demikian, kedua indikator tersebut memiliki kemampuan sebagai leading indicators yang cukup baik dalam memprediksi arah pertumbuhan sektor manufaktur.

Bagi pengambil kebijakan, hubungan antara SKDU, PMI Manufaktur, dan pertumbuhan industri pengolahan memiliki nilai strategis. BI menggunakan hasil SKDU sebagai salah satu dasar dalam mengevaluasi kondisi sektor riil dan transmisi kebijakan moneter. Di sisi lain, pemerintah dapat memanfaatkan informasi dari PMI untuk merancang kebijakan industri, mempercepat investasi, serta menjaga rantai pasok. Investor dan pelaku pasar juga menjadikan kedua indikator ini sebagai referensi dalam memperkirakan prospek pertumbuhan.

Meskipun demikian, kedua indikator tersebut tetap memiliki keterbatasan. SKDU dan PMI merupakan survei berbasis persepsi sehingga hasilnya dipengaruhi oleh ekspektasi responden. Selain itu, cakupan responden PMI lebih terbatas dibandingkan keseluruhan populasi industri pengolahan di Indonesia. Oleh sebab itu, analisis yang komprehensif sebaiknya mengombinasikan SKDU dan PMI dengan data resmi BPS, seperti pertumbuhan PDB industri pengolahan, indikator perdagangan dan investasi, dan Indeks Produksi Industri Manufaktur Besar.