Konten dari Pengguna

Indahnya Rajutan Wastra Binaan

Andri Pratama Saputra

Andri Pratama Saputra

Analis Yunior di Bank Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: generate gemini
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: generate gemini

Wastra Indonesia telah mendunia, masyarakat lokal bahkan “bule” bangga mengenakan wastra kita. Hal ini merupakan sebuah kebanggan tersendiri sebagai warga Indonesia.

Wastra Nusantara adalah warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, identitas, dan ekonomi. Kata wastra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain dan mewakili nilai budaya, filosofi, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Berbagai jenis wastra seperti batik, tenun, songket, ulos, tapis, hingga daerah lainnya menjadi simbol keberagaman budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Penguatan Wastra Nusantara menjadi keharusan agar mampu bertahan sebagai warisan dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter berperan melalui pembinaan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif (ekraf), serta pemberdayaan industri.

BI yang memiliki mandat utama menjaga stabilitas nilai rupiah. Tidak sekedar itu, melalui UUP2SK BI turut serta mendukung perekonomian berkelanjutan salah satunya melalui ekonomi kerakyatan inklusif yaitu pengembangan UMKM dan ekraf.

Salah satu bentuk implementasi UMKM dan ekraf adalah pembinaan perajin wastra di berbagai daerah melalui peningkatan produksi, desain, inovasi produk, pemasaran dan promosi. Hal ini menggambarkan pentingnya ekonomi riil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Indonesia memiliki lebih dari seribu motif kain tradisional yang menggambarkan makna dan filosofi setiap daerah. Misalnya, batik menggambarkan nilai kehidupan masyarakat Jawa, songket mencerminkan budaya Melayu, tapis menggambarkan budaya Lampung, dan kain khas lainnya.

Kekayaan budaya menjadi menjadi modal budaya yang besar yang didominasi oleh UMKM dan perajin ekraf. Keterbatasan seperti modal, inovasi desain, dan akses pasar menjadi tantangan tersendiri yang dikembangkan oleh BI dalam mendorong tujuan ekonomi riil ini.

Program pembinaan BI dilakukan melalui pendekatan end-to-end, mulai dari penguatan pengrajin hingga perluasan pasar. Pengrajin mendapatkan pelatihan produk, mutu, pewarna alami, pengembangan desain dan branding. Pendampingan awal menjadi penting karena konsumen modern turut membeli cerita dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Selain peningkatan kualitas produksi, BI turut membantu dalam memperluas akses dan jariangan salah satunya melalui kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) untuk memperkenalkan produk unggulannya. Dalam pameran tersebut, Wastra Nusantara tidak hanya diposisikan sebagai produk budaya, tetapi sebagai produk fesyen modern yang mampu bersaing di pasar global.

Digitalisasi menjadi penting melalui platform digital mendorong BI membekali para pelaku UMKM dengan kemampuan pemasaran digital dan penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS. Transformasi digital memungkinkan pengrajin menjangkau pasar yang jauh lebih luas tanpa harus membuka toko fisik. Hal ini akan meningkatkan efisiensi biaya pemasaran dan memperbesar peluang ekspor.

Keberhasilan pembinaan BI terlihat dari meningkatnya kualitas produk UMKM binaan yang memenuhi standar ekspor. Banyak produk wastra kini telah memasuki pasar internasional melalui berbagai ajang promosi perdagangan dan kerja sama bisnis. Permintaan dari pasar global menunjukkan bahwa produk budaya Indonesia memiliki daya tarik yang kuat jika memiliki branding yang kuat.

Penguatan Wastra Nusantara memberikan dampak sosial yang signifikan. Dengan meningkatnya permintaan terhadap produk wastra, maka kesempatan kerja semakin luas. Pendapatan masyarakat meningkat dan pemerataan pendapatan menjadi lebih terjamin karena generasi muda mulai melihat industri wastra sebagai sektor yang menjanjikan.

Di sisi lain, pembinaan BI turut mendorong produksi yang berkelanjutan. Banyak UMKM binaan mulai menggunakan pewarna alami, memanfaatkan limbah, dan menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam proses pembuatan kain. Pendekatan ini sejalan dengan konsep sustainable fashion. Konsumen internasional kini lebih menghargai produk yang indah dan memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan sosial. Oleh karena itu, penguatan Wastra Nusantara melalui konsep ekonomi hijau menjadi strategi yang relevan dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan pengembangan Wastra Nusantara. BI tidak dapat bekerja sendiri, tetapi bersinergi bersama kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, akademisi, perbankan, dan industri fesyen. Kolaborasi menghasilkan ekosistem pembinaan yang kuat sehingga setiap pelaku mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya. Pemerintah menyediakan regulasi, BI memberikan pembinaan dan promosi, akademisi mendukung riset dan inovasi, sedangkan sektor swasta memperluas akses pasar. Sinergi multipihak inilah yang mempercepat transformasi UMKM wastra menuju industri yang lebih modern dan berdaya saing. Lebih lanjut, sinergi dalam meningkatkan literasi masyarakat agar lebih mencintai dan menggunakan produk wastra dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya nasional.