Inflasi dan Pengaruhnya terhadap Konsumsi

Analis Yunior di Bank Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ingatkah kita membawa uang seratus ribu bisa membeli banyak sembako, namun kini tinggal kenangan. Uang seratus ribu hanya dapat membeli beberapa kilo ikan. Makan terasa mahal, inilah yang dinamakan inflasi.
Pemerintah telah menetapkan angka inflasi 2,5% plus minus 1%, artinya target inflasi rentang 1,5%-3,5%. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam rentang tertentu, menjadikan harga semakin mahal meskipun penghasilan semakin meningkat. Hal ini merupakan tujuan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga inflasi.
Inflasi adalah salah satu indikator ekonomi yang berpengaruh besar dan merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode tertentu. Ketika inflasi terjadi, jumlah uang akan memiliki daya beli rendah dibandingkan sebelumnya. Dengan kata lain, uang yang sama hanya mampu membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit. Oleh karena itu, inflasi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Inflasi yang meningkat terlalu tinggi, dampaknya terhadap konsumsi masyarakat menjadi signifikan.
Pengaruh paling langsung dari inflasi terhadap konsumsi adalah menurunnya daya beli. Ketika harga kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, daging, listrik, dan transportasi mengalami kenaikan, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Jika pendapatan stagnan, maka kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa akan menurun. Akibatnya, rumah tangga mulai menyesuaikan pengeluaran dengan mengurangi konsumsi barang tertentu khususnya atau mencari alternatif yang lebih murah.
Ketika inflasi meningkat, masyarakat akan mengubah prioritas konsumsi mereka. Pengeluaran untuk kebutuhan primer seperti makanan, minuman, kesehatan, pendidikan, dan transportasi akan tetap dipertahankan. Sebaliknya, konsumsi barang sekunder dan tersier seperti hiburan, rekreasi, atau produk gaya hidup cenderung dikurangi. Perubahan perilaku menunjukkan inflasi dapat memengaruhi struktur konsumsi rumah tangga. Masyarakat menjadi lebih selektif dalam membelanjakan uang dan lebih fokus pada kebutuhan yang benar-benar mendesak.
Inflasi turut memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap ekonomi. Ketika harga-harga meningkat, masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk meskipun indikator ekonomi lainnya menunjukkan pertumbuhan yang positif. Persepsi ini dapat menyebabkan masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Mereka cenderung meningkatkan. Akibatnya, konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan. Dalam banyak negara, termasuk Indonesia, konsumsi rumah tangga berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga perubahan perilaku konsumsi akibat inflasi memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional.
Selain memengaruhi jumlah konsumsi, inflasi juga berpengaruh terhadap kualitas konsumsi. Ketika harga barang meningkat, sebagian masyarakat memilih untuk mengganti produk. Fenomena ini menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya mengurangi kuantitas konsumsi, tetapi juga dapat menurunkan kualitas barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menggerus tingkat kesejahteraan masyarakat.
Rumah tangga berpenghasilan rendah umumnya lebih rentan terhadap inflasi karena sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Ketika harga pangan dan energi meningkat, kelompok ini akan merasakan tekanan yang Oleh karena itu, inflasi sering kali memiliki dampak yang tidak merata dan dapat memperlebar kesenjangan ekonomi apabila tidak diimbangi dengan kebijakan.
Inflasi yang tinggi memengaruhi perilaku konsumsi melalui perubahan ekspektasi masyarakat. Ketika masyarakat memperkirakan inflasi naik di masa depan, mereka cenderung mempercepat pembelian barang sebelum mahal. Fenomena ini dikenal sebagai perilaku konsumsi antisipatif. Misalnya, masyarakat dapat membeli kebutuhan rumah tangga dalam jumlah besar atau melakukan pembelian barang tahan lama. Dalam jangka pendek, perilaku ini dapat meningkatkan konsumsi dan semakin meningkatkan harga karena kelangkaan.
Di sisi lain, inflasi juga berkaitan dengan tingkat suku bunga. Untuk mengendalikan inflasi, Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat, seperti menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga kemudian akan meningkatkan biaya pinjaman. Kredit konsumsi seperti kredit kendaraan bermotor, kredit rumah, maupun kartu kredit menjadi lebih mahal. Akibatnya, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi. Dengan demikian, dampak inflasi terhadap konsumsi tidak hanya terjadi melalui kenaikan harga, tetapi melalui kebijakan yang diterapkan.
Dalam konteks perekonomian nasional, inflasi yang terkendali sebenarnya dapat memberikan dampak positif terhadap konsumsi masyarakat. Inflasi pada tingkat yang rendah dan stabil sering kali mencerminkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan permintaan yang sehat. Kondisi ini dapat mendorong produsen meningkatkan produksi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ketika pendapatan tumbuh lebih cepat dibandingkan inflasi, daya beli masyarakat akan meningkat sehingga konsumsi dapat terus berkembang. Oleh karena itu, yang menjadi masalah bukanlah inflasi itu sendiri, melainkan inflasi yang terlalu tinggi dan tidak terkendali.
Perkembangan teknologi digital juga memengaruhi bagaimana masyarakat merespons inflasi. Saat ini, konsumen memiliki akses untuk membandingkan harga melalui platform perdagangan elektronik dan aplikasi digital. Kemampuan untuk mencari produk dengan harga terbaik membantu masyarakat mengurangi dampak inflasi terhadap pengeluaran mereka. Selain itu, berbagai promosi dan diskon yang ditawarkan platform digital turut membantu menjaga daya beli.
Pemerintah dan otoritas moneter Bank Indonesia berperan mengurangi dampak inflasi terhadap konsumsi masyarakat. Berbagai kebijakan dapat dilakukan, seperti menjaga ketersediaan pasokan, memperkuat distribusi barang, memberikan bantuan sosial, serta menjaga stabilitas harga energi dan transportasi. Selain itu, koordinasi antara pemerintah dan bank sentral diperlukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam rentang yang terkendali.
Tantangan dalam menjaga konsumsi masyarakat di tengah tekanan inflasi akan semakin besar. Gejolak geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, serta fluktuasi harga energi dunia berpotensi meningkatkan harga komoditas. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat. Peningkatan produktivitas, penguatan sektor pangan, dan perluasan akses keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli konsumsi masyarakat.
