Konten dari Pengguna

Neto Pembiayaan Hijau

Andri Pratama Saputra

Andri Pratama Saputra

Analis Yunior di Bank Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: generate gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber: generate gemini

Pernahkah kita merasakan kini panas menjadi semakin terik, polusi semakin terasa, dan udara segar kini seolah berlalu saja. Hal ini menjadikan kita tidak nyaman dan terbiasa menggunakan pendingin. Hal ini disebabkan lapisan udara yang semakin tipis dan memerlukan aktivitas keberlanjutan atau yang biasa disebut hijau.

Transisi menuju ekonomi berkelanjutan menjadi fokus banyak negara termasuk Indonesia. Perubahan iklim, polusi semakin merajalela, emisi gas rumah kaca, mendorong negara menerapkan lingkungan dalam mengambil kebijakan. Salah satu peran strategis ialah perbankan melalui pembiayaan hijau.

Pembiayaan hijau adalah pembiayaan kegiatan ekonomi yang bermanfaat untuk lingkungan dan ekonomi. Dalam Survei Perbankan Bank Indonesia (BI), ekspektasi mengenai pn pembiayaan hijau dapat tercermin melalui Saldo Bersih Tertimbang (SBT) atau Neto, yang menunjukkan kecenderungan perbankan dalam meningkatkan atau menurunkan penyaluran pembiayaan pada sektor-sektor berkelanjutan.

Pembiayaan hijau mengacu penyediaan dana untuk aktivitas ekonomi yang berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan, efisiensi sumber daya, pengurangan karbon, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan lainnya. Lembaga keuangan ber tidak hanya berfungsi sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mengarahkan aliran investasi menuju sektor-sektor yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dalam Survei Perbankan, indikator neto pembiayaan hijau menggambarkan keseimbangan antara bank yang memperkirakan peningkatan penyaluran pembiayaan hijau dengan bank yang memperkirakan penurunan, setelah mempertimbangkan bobot masing-masing bank berdasarkan pangsa usaha atau nilai pembiayaan yang dimiliki. Apabila nilai neto berada pada level positif, berarti secara tertimbang lebih banyak bank yang optimistis terhadap pertumbuhan pembiayaan hijau dibandingkan bank yang memperkirakan penurunan. Begitu pula sebaliknya.

Peningkatan neto pembiayaan hijau mencerminkan semakin kuatnya komitmen perbankan dalam mendukung transformasi ekonomi rendah karbon. Pemerintah menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC), sementara sektor jasa keuangan didorong untuk mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance atau ESG) dalam proses bisnis.

Dalam hal lain, otoritas keuangan juga mendorong penerapan prinsip keuangan berkelanjutan melalui berbagai regulasi yang memberikan arah industri perbankan untuk meningkatkan porsi pembiayaan kepada sektor-sektor hijau. Kenaikan nilai neto pembiayaan hijau menjadi sinyal mulai direspons secara positif oleh industri perbankan.

Hubungan antara neto pembiayaan hijau dan pertumbuhan ekonomi semakin erat. Pembiayaan terhadap energi surya, pembangkit listrik, kendaraan listrik, pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan pembangunan gedung hemat energi menghasilkan manfaat lingkungan dan menciptakan inovasi, lapangan kerja, dan daya saing.

Pembiayaan hijau turut berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan. Risiko perubahan iklim semakin diakui sebagai salah satu sumber risiko sistemik yang memengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Oleh sebab itu, bank yang mulai mengalihkan portofolio pembiayaan menuju sektor-sektor yang lebih berkelanjutan berpotensi memiliki ketahanan yang lebih baik. Dalam konteks ini, peningkatan neto pembiayaan hijau dapat mencerminkan strategi mitigasi risiko jangka panjang.

Dalam pengembangannya, diperlukan usaha dalam mengantispasi tantangan yaitu keterbatasan proyek hijau yang memenuhi kriteria pembiayaan. Banyak proyek ramah lingkungan memerlukan investasi awal yang besar dengan periode pengembalian modal yang relatif panjang. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian bank masih berhati-hati dalam memberikan pembiayaan. Selain itu, standar aktivitas hijau terus berkembang sehingga membutuhkan penyesuaian

Di sisi permintaan, tidak semua pelaku usaha memiliki pemahaman manfaat pembiayaan. Tidak sedikit UMKM yang sebenarnya menjalankan praktik bisnis ramah lingkungan, tetapi belum memiliki sertifikasi dan standar pelaporan memadai. Kondisi ini menyebabkan potensi pembiayaan hijau belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan.

Perkembangan neto pembiayaan hijau menjadi indikator dini BI dan otoritas ekonomi untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan. Apabila hasil survei menunjukkan tren peningkatan neto secara konsisten, hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor perbankan semakin siap mengalokasikan sumber daya ke sektor-sektor hijau. Begitu pula sebaliknya.

Dari perspektif investor, meningkatnya optimisme perbankan terhadap pembiayaan hijau sejalan dengan meningkatnya investasi pada perusahaan yang menerapkan prinsip ESG, maupun berkembangnya instrumen keuangan berkelanjutan lainnya. Oleh karena itu, indikator ini dimanfaatkan sebagai salah satu leading indicator yang mengidentifikasi perubahan arah investasi