Perbedaan Keyakinan Konsumen Antar Kelompok

Analis Yunior di Bank Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keyakinan konsumen adalah salah satu indikator penting mengukur persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan di masa mendatang. Tingkat keyakinan konsumen acapkali berbeda antar kelompok karena perbedaan pola konsumsi, menabung, dan karakteristik ekonomi. Perbedaan itu menyebabkan tanggapan masyarakat terhadap perubahan inflasi, harga, suku bunga, maupun tenaga kerja tidak selalu sama. Oleh karena itu, analisis keyakinan konsumen berdasarkan kelompok pendapatan menjadi penting untuk memahami bagaimana kondisi ekonomi.
Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) rutin dilakukan dan mengelompokkan responden berdasarkan pendapatan dan pengeluaran. Secara umum, kelompok berpendapatan tinggi cenderung memiliki tingkat keyakinan yang lebih stabil dibandingkan kelompok berpendapatan rendah. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kelompok berpendapatan tinggi dalam mengelola ekonomi melalui tabungan dan investasi.
Data Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen Indonesia relatif tetap berada pada zona optimis selama tahun 2026. Survei Konsumen BI pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 120,9. Namun, kelompok rumah tangga dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan menunjukkan tingkat optimisme yang lebih tinggi dibandingkan kelompok rumah tangga dengan pengeluaran di bawah Rp2 juta per bulan. Kelompok pendapatan tinggi memiliki persepsi yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan karena mereka relatif lebih mampu menghadapi tekanan inflasi dan perubahan suku bunga.
Jika dari teori ekonomi dan perilaku konsumen, kelompok pendapatan tinggi memiliki proporsi pengeluaran lebih kecil dibandingkan total pendapatan mereka. Dengan demikian, ketika terjadi kenaikan harga pangan, dampaknya terhadap daya beli terbatas. Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan dasar. Akibatnya, inflasi yang tinggi dapat mengurangi kemampuan konsumsi dan tingkat keyakinan terhadap kondisi ekonomi.
Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi menjadi faktor yang memengaruhi perbedaan keyakinan konsumen. Ketika harga pangan naik, kelompok pendapatan rendah merasakan dampak yang lebih besar karena proporsi pengeluaran untuk makanan dapat mencapai lebih dari 50 persen dari total pengeluaran. Oleh karena itu, dalam periode inflasi tinggi, kesenjangan keyakinan antara kelompok pendapatan rendah dan tinggi cenderung melebar.
Selain inflasi, kondisi tenaga kerja juga berperan dalam membentuk keyakinan konsumen. Kelompok berpendapatan rendah umumnya lebih bergantung pada pekerjaan informal atau sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi. Ketika terjadi perlambatan ekonomi, risiko kehilangan pekerjaan atau berkurangnya pendapatan lebih besar pada kelompok ini. Sebaliknya, kelompok berpendapatan tinggi sering kali bekerja di sektor formal dengan tingkat pendapatan yang lebih stabil.
Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada berbagai periode menunjukkan bahwa Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) untuk kelompok berpendapatan tinggi secara konsisten berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan kelompok berpendapatan rendah. Kondisi ini mencerminkan keyakinan yang lebih kuat terhadap peluang kesempatan kerja, aktivitas ekonomi, dan peningkatan pendapatan. Kelompok berpendapatan tinggi juga lebih mudah mengakses informasi ekonomi dan layanan keuangan sehingga mampu mengambil keputusan ekonomi.
Perbedaan keyakinan konsumen antar kelompok pendapatan terlihat dalam pola konsumsi barang tahan lama. Ketika keyakinan ekonomi meningkat, kelompok pendapatan tinggi cenderung meningkatkan konsumsi barang tahan lama seperti kendaranaan dan rumah. Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Kebijakan suku bunga turut memengaruhi perbedaan keyakinan antar kelompok pendapatan. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya kredit konsumsi maupun kredit perumahan. Kelompok berpendapatan menengah dan tinggi yang memiliki akses terhadap kredit akan menunda pembelian rumah atau lainnya ketika bunga meningkat. Namun, mereka masih memiliki alternatif berupa tabungan dan investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembiayaan formal lebih merasakan dampak kenaikan harga barang dan penurunan daya beli.
Aspek literasi keuangan juga menjadi faktor pembeda yang signifikan. Kelompok berpendapatan memiliki literasi keuangan yang lebih baik. Mereka memahami kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, serta peluang investasi yang tersedia. Pemahaman tersebut membantu mereka menjaga optimisme meskipun terjadi gejolak ekonomi jangka pendek. Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah lebih rentan terhadap perubahan sentimen akibat ketidakpastian ekonomi.
Dari perspektif kebijakan publik, perbedaan keyakinan konsumen antar kelompok pendapatan memiliki implikasi yang penting. Pemerintah perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan sosial menjadi instrumen penting untuk menjaga keyakinan kelompok berpendapatan rendah. Jika kelompok ini mengalami penurunan keyakinan secara signifikan, konsumsi rumah tangga secara keseluruhan dapat melemah.
Selain itu, kebijakan peningkatan inklusi keuangan dapat membantu memperkecil kesenjangan. Akses yang lebih luas terhadap layanan perbankan, kredit produktif, asuransi, dan instrumen investasi memungkinkan rumah tangga berpendapatan rendah memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik.
Dalam konteks perekonomian Indonesia, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, memahami perbedaan keyakinan konsumen antar kelompok penting untuk memprediksi arah pertumbuhan ekonomi. Optimisme yang hanya terkonsentrasi pada kelompok pendapatan tinggi tidak cukup untuk mendorong konsumsi secara luas. Sebaliknya, peningkatan keyakinan pada kelompok berpendapatan rendah dan menengah dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi karena jumlah populasi yang lebih besar.
