Persepsi Masyarakat terhadap Kenaikan Barang

Analis Yunior di Bank Indonesia
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ingatkah kita membawa uang seratus ribu bisa membeli banyak sembako, namun kini tinggal kenangan. Uang seratus ribu hanya dapat membeli beberapa kilo ikan. Makan terasa mahal, inilah yang dinamakan inflasi.
Pemerintah telah menetapkan angka inflasi 2,5% plus minus 1%, artinya target inflasi rentang 1,5%-3,5%. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam rentang tertentu, menjadikan harga semakin mahal meskipun penghasilan semakin meningkat. Hal ini merupakan tujuan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga inflasi.
Kenaikan harga barang adalah hal yang langsung dirasakan oleh masyarakat karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan indikator ekonomi makro lainnya yang hanya dipahami kalangan tertentu, perubahan harga makanan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, gula, daging memengaruhi pola konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu, persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga barang kebutuhan menjadi indikator menilai kondisi ekonomi suatu negara. Persepsi tersebut dipengaruhi oleh besarnya kenaikan, tingkat pendapatan, ekspektasi terhadap kondisi ekonomi, serta kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan.
Kenaikan harga barang kebutuhan acapkali identik dengan menurunnya daya beli. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat sementara pendapatan tetap, masyarakat akan tertekan oleh kondisi keuangan. Akibatnya, rumah tangga harus menyesuaikan untuk mengkonsumsi barang tertentu, menunda pembelian kebutuhan sekunder, atau mencari alternatif produk yang lebih murah. Kondisi ini dirasakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Semakin besar proporsi pendapatan untuk kebutuhan pokok, semakin sensitif masyarakat terhadap harga.
Persepsi masyarakat turut dipengaruhi oleh frekuensi dan durasi kenaikan tersebut. Jika kenaikan harga bersifat sementara akibat faktor musiman, seperti meningkatnya permintaan menjelang hari keagamaan atau terganggunya pasokan akibat cuaca ekstrem, masyarakat cenderung lebih menerima kondisi tersebut. Namun, jika kenaikan harga berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan terjadi pada komoditas secara bersamaan, maka persepsi negatif akan semakin kuat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat mulai cemas terhadap kondisi ekonomi.
Persepsi masyarakat juga dibentuk dari faktor psikologis. Dalam banyak kasus, masyarakat merasa harga naik lebih cepat dibandingkan kenyataan yang tercermin dalam data inflasi. Fenomena ini terjadi karena masyarakat lebih mudah mengingat kenaikan harga dibandingkan penurunan harga barang lain yang jarang dikonsumsi. Misalnya, kenaikan harga beras mendapat perhatian besar karena kedua komoditas tersebut dikonsumsi secara rutin. Sebaliknya, penurunan harga barang elektronik atau kendaraan mungkin tidak terlalu memengaruhi persepsi masyarakat karena pembelian barang tersebut tidak dilakukan setiap hari. Akibatnya, persepsi inflasi yang dirasakan masyarakat dapat lebih tinggi dibandingkan angka inflasi.
Media massa dan sosial turut penting dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga barang. Informasi tentang lonjakan harga dapat menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform. Di satu sisi, media membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perkembangan ekonomi. Namun, di sisi lain, pemberitaan yang berlebihan memperkuat persepsi negatif dan menimbulkan kepanikan. Ketika masyarakat terus-menerus menerima informasi mengenai kenaikan harga, mereka cenderung menganggap bahwa seluruh harga barang sedang meningkat.
Persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga tur berkaitan dengan tingkat kepercayaan terhadap pemerintah dan otoritas ekonomi terkait. Jika masyarakat yakin bahwa pemerintah memiliki kemampuan untuk mengendalikan harga dan menjaga pasokan barang, maka dampak psikologis dari kenaikan harga cenderung lebih kecil. Sebaliknya, jika kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi rendah, kenaikan harga sekecil apa pun dapat memicu kekhawatiran yang lebih besar. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga ekspektasi masyarakat. Transparansi mengenai penyebab kenaikan harga, mitigasi, serta target pengendalian inflasi dapat mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan publik.
Persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga barang kebutuhan berdampak luas. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk akibat kenaikan harga, mereka cenderung mengurangi konsumsi. Sedangkan konsumsi rumah tangga adalah salah satu komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi. Penurunan konsumsi dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, yang akhirnya memengaruhi aktivitas produksi dan investasi.
Kenaikan harga barang kebutuhan juga dapat memperlebar kesenjangan sosial jika tidak dibarengi dengan pendapatan. Kelompok berpendapatan rendah lebih rentan karena ruang untuk mengurangi pengeluaran sangat terbatas. Dalam kondisi ini, persepsi mengenai ketidakadilan ekonomi dapat muncul dan memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat. Oleh karena itu, subsidi, perlindungan sosial dan subsidi yang tepat sasaran, menjadi instrumen penting untuk menjaga kesejahteraan masyarakat.
Di era digitalisasi, persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga turut dipengaruhi oleh kemudahan akses informasi. Masyarakat dapat membandingkan harga antarwilayah, perubahan harga secara real time, serta berbagi pengalaman melalui media sosial. Kondisi ini menciptakan kesadaran yang lebih tinggi terhadap dinamika harga dan meningkatkan sensitivitas terhadap setiap perubahan yang terjadi. Oleh karena itu, pengelolaan informasi yang akurat dan terpercaya menjadi sangat penting
Selanjutnya, tantangan dalam mengelola persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga barang kebutuhan semakin kompleks seiring meningkatnya ketidakpastian global. Perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga memengaruhi harga komoditas. Dalam situasi seperti ini, pemerintah, otoritas ekonomi seperti Bank Indonesia, dan pelaku usaha perlu bekerja sama untuk menjaga stabilitas harga sekaligus membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat. Upaya menjaga inflasi tetap rendah dan stabil disertai dengan edukasi publik mengenai faktor-faktor yang memengaruhi harga serta langkah-langkah yang dapat dilakukan.
