Konten dari Pengguna

Risiko dan Peluang FOMO

Andri Pratama Saputra

Andri Pratama Saputra

Analis Yunior di Bank Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: generate gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber: generate gemini

Terkadang ketika kita melihat kenaikan harga, ada rasa terburu-buru ingin membeli. Tak jarang “bandar” menurunkan harganya sehingga terjadi kerugian. Pertanyaannya mengapa ketika itu kita terburu-buru tanpa dianalisis terlebih dahulu? Itu yang dinamakan Fear of Missing Out (FOMO)

Fenomena FOMO atau rasa khawatir ketinggalan peluang tmenjadi salah satu faktor psikologis dalam pasar keuangan modern. FOMO menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa takut tidak ikut meraih keuntungan, sehingga terdorong untuk mengambil keputusan investasi cepat tanpa menganalisis.

Dalam pasar keuangan, fenomena ini terjadi ketika harga suatu suatu emiten mengalami kenaikan yang signifikan dan menjadi isu luas di media. Seseorang yang melihat orang lain memperoleh keuntungan besar dari saham, obligasi, emas, mata uang kripto, atau instrumen keuangan lainnya acapkali merasa terdorong untuk membeli aset tersebut dengan harapan mendapatkan keuntungan serupa. Dampaknya, keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada nilai fundamental, melainkan pada tekanan sosial dan emosi sesaat.

Digitalisasi dan media sosial semakin memperkuat FOMO. Jika pada masa lalu informasi pasar hanya diakses oleh kalangan tertentu, kini berbagai platform digital memungkinkan setiap orang memperoleh informasi secara real time. Berita mengenai kenaikan harga saham tertentu, keuntungan atau kisah investor sukses dapat mudah menjadi viral. Di satu sisi, kondisi ini meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat dalam pasar keuangan. Namun di sisi lain, arus informasi menciptakan persepsi bahwa peluang keuntungan besar hanya tersedia dalam waktu yang singkat sehingga harus segera dimanfaatkan. Ketika narasi tersebut terus berulang, risiko rugi kian menanti.

Secara psikologis, FOMO berkaitan dengan perilaku herding atau perilaku ikut-ikutan. Investor bersifat rasional dan selalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Namun, acapkali manusia dipengaruhi oleh emosi, bias kognitif, dan tekanan sosial. Dalam situasi tertentu, seseorang merasa lebih aman mengikuti tindakan mayoritas. Ketika banyak investor membeli suatu aset, muncul keyakinan bahwa tindakan tersebut pasti benar. Akibatnya, semakin banyak orang masuk ke pasar dan mendorong harga aset naik lebih tinggi lagi. Fenomena ini menghadirkan lingkaran umpan balik yang memperbesar kenaikan harga tidak wajar.

FOMO menjadi salah satu pemicu terbentuknya gelembung aset (asset bubble). Gelembung terjadi ketika harga suatu aset meningkat jauh di atas nilai intrinsiknya karena didorong oleh spekulasi. Dalam kondisi seperti ini, investor membeli aset bukan karena fundamentalnya, melainkan karena berharap menjualnya kepada investor lain dengan harga tinggi dalam waktu singkat sebelum akhirnya mengalami koreksi tajam.

Dampak FOMO terhadap investor individu adalah ketika harga sudah berada pada level tinggi karena khawatir kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan. Sayangnya, keputusan tersebut sering kali dilakukan tanpa memahami karakteristik aset yang dibeli maupun risiko yang melekat di dalamnya. Ketika harga berbalik turun, investor yang terlambat masuk justru menjadi pihak yang menanggung kerugian terbesar. Dalam banyak kasus, rasa takut kehilangan peluang berubah menjadi rasa takut kehilangan modal. Kondisi ini memicu kepanikan dan penjualan secara besar-besaran yang semakin memperdalam penurunan harga aset.

Selain memengaruhi investor individu, FOMO dapat meningkatkan volatilitas pasar secara keseluruhan. Ketika banyak investor mengambil keputusan berdasarkan emosi, pergerakan harga menjadi lebih sulit diprediksi. Kenaikan harga yang terlalu dapat diikuti oleh koreksi yang tajam. Volatilitas yang tinggi dapat meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi lainnya. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat menimbulkan risiko terhadap instabilitas sistem keuangan.

Fenomena FOMO semakin relevan karena munculnya influencer atau komunitas keuangan. Banyak individu memperoleh informasi investasi dari media sosial dibandingkan dari sumber resmi atau analisis profesional. Tidak jarang rekomendasi investasi disampaikan dalam bentuk konten yang mudah dipahami tetapi berisiko. Ketika aset menjadi tren, investor baru sering kali masuk ke pasar hanya berdasarkan popularitas aset tersebut. Kemampuan untuk memilah informasi menjadi penting dalam menghadapi arus informasi.

Mengatasi FOMO memerlukan disiplin dan pemahaman yang baik mengenai prinsip-prinsip investasi. Investor perlu menyadari bahwa tidak semua peluang harus diikuti dan setiap keputusan harus didasarkan profil risiko, analisis dan tujuan keuangan. Salah satu cara untuk mengurangi pengaruh FOMO adalah dengan memiliki rencana investasi yang konsisten, jelas, dan tidak ikut-ikutan. Dengan berpegang pada strategi yang telah ditetapkan, investor dapat menghindari keputusan emosi sesaat. Diversifikasi portofolio juga menjadi langkah penting untuk mengelola risiko dan mengurangi ketergantungan.

Peran regulator dan otoritas keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesa, dan Bursa Efek Indonesia menjadi penting dalam menghadapi fenomena FOMO. Lebih lanjut, Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang terdiri dari Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS turut memperhatikan aspek ini untuk mencegah gelembung aset dan kejadian krisis 2008 tidak kembali terulang.

Peningkatan literasi keuangan masyarakat terus dilakukan agar investor memahami hubungan risiko dan imbal hasil. Edukasi mengenai investasi yang sehat dapat membantu masyarakat membedakan antara peluang investasi yang rasional dan spekulasi yang berlebihan. Selain itu, pengawasan terhadap penyebaran informasi yang menyesatkan di media sosial juga perlu diperkuat untuk melindungi investor dari praktik manipulasi pasar

Fenomena FOMO adalah dinamika pasar keuangan yang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Selama ada peluang keuntungan yang besar dan informasi yang menyebar dengan cepat, kecenderungan manusia untuk mengikuti tren akan selalu muncul. Namun, investor harus mengendalikan emosi dan berpegang pada prinsip investasi. Investor yang berhasil mengendalikan FOMO akan lebih mampu menghindari kerugian, menjaga stabilitas portofolio, dan menghasilkan cuan secara konsisten tanpa menyebabkan instabilitas sistem keuangan.