Konten dari Pengguna

Trilema Meningkatkan Suku Bunga

Andri Pratama Saputra

Andri Pratama Saputra

Analis Yunior di Bank Indonesia

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kenaikan suku bunga. Foto: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kenaikan suku bunga. Foto: Gemini AI

Suku bunga adalah harga penggunaan uang yang berfungsi mengendalikan jumlah uang beredar. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga acuan, peredaran uang akan berkurang karena masyarakat cenderung berinvestasi dan harga kredit menjadi naik, sehingga masyarakat cenderung mengurangi konsumsi.

Bank sentral menggunakan instrumen bunga sebagai alat mencapai sasaran inflasi. Ketika inflasi meningkat terlalu tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga agar permintaan masyarakat menurun, sehingga uang yang beredar berkurang yang berdampak terhadap inflasi. tekanan harga dapat dikendalikan.

Kebijakan ini dikenal sebagai kebijakan moneter kontraktif. Sebaliknya, ketika ekonomi melemah dan inflasi rendah, bank sentral dapat menurunkan suku bunga untuk meningkatkan uang yang beredar dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam dunia nyata, suku bunga tidak hanya memengaruhi inflasi, tetapi juga turut memengaruhi nilai tukar, pasar saham, investasi, properti, serta kondisi sosial. Oleh sebab itu, bank sentral mempertimbangkan banyak faktor sebelum mengambil keputusan menaikkan suku bunga.

Di negara berkembang dan bergantung, kebijakan suku bunga dipengaruhi kondisi global seperti kondisi di Amerika Serikat. Investor mayoritas menarik dana dan memindahkan dananya ke aset dolar AS yang menguntungkan dan aman. Dampaknya, nilai tukar mata uang negara berkembang melemah, sehingga bank sentral domestik sering kali ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah arus modal keluar.

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Meningkatkan suku bunga memiliki trilema, khususnya di tengah ketidakpastian global. Ketika inflasi meningkat misalkan karena kelangkaan energi, pasokan yang berkurang, atau nilai tukar yang anjlok, bank sentral memilih menaikkan suku bunga sebagai upaya stabilitas. Namun demikian, kebijakan ini rawan menambah beban kredit rumah tangga dan dunia usaha, sehingga aktivitas ekonomi berdampak terhadap pertumbuhan. Hal ini ditambah dengan keharusan mempertimbangkan arus modal asing yang sensitif terhadap perbedaan tingkat suku bunga antarnegara.

Bank sentral tidak hanya berupaya menjaga inflasi, tetapi juga mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, pengangguran, serta daya tahan masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup. Oleh karena itu, kebijakan peningkatan suku bunga selalu berada dalam dilema antara stabilitas dan pertumbuhan.

Trilema yang Pertama: Menahan Inflasi vs Menjaga Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu dilema utama dalam meningkatkan suku bunga yaitu antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Ketika inflasi meningkat, bank sentral perlu mengambil langkah pengetatan moneter agar harga ditahan. Inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli, meningkatkan biaya produksi, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi.

Meningkatkan suku bunga dapat mengurangi inflasi karena masyarakat akan mengurangi konsumsi karena biaya kredit yang mahal. Dunia usaha juga cenderung menunda ekspansi karena biaya pinjaman meningkat. Dengan menurunnya permintaan, tekanan harga dapat berkurang. Konsekuensinya ialah penurunan aktivitas perdagangan dan industri. Dunia usaha yang menghadapi bunga pinjaman tinggi akan menunda investasi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi melambat dan tingkat pengangguran dapat meningkat.

Trilema yang Kedua: Stabilitas Nilai Tukar vs Beban Dunia Usaha

Peningkatan suku bunga acap kali menjaga stabilitas nilai tukar. Ketika suku bunga domestik tinggi, investor asing menempatkan dananya di dalam negeri karena imbal hasil lebih menarik dan memperkuat nilai tukar mata uang domestik.

Petugas penukaran uang menunjukkan uang Rupiah di sebuah gerai penukaran mata uang di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Bagi negara berkembang, stabilitas nilai tukar akan memberikan dampak positif, seperti bahan baku dan pangan, karena ketergantungan dengan negara lain yang masih tinggi. Namun, kebijakan tersebut juga menimbulkan beban bagi dunia usaha, khususnya usaha yang bergantung pada pembiayaan kredit seperti sektor properti, manufaktur, dan UMKM. Banyak pengusaha memiliki keterbatasan modal, sehingga penciptaan lapangan kerja baru melambat dan pertumbuhan ekonomi melamban.

Trilema yang Ketiga: Stabilitas Sistem Keuangan vs Daya Beli Masyarakat

Kenaikan suku bunga berkaitan erat dengan stabilitas sistem keuangan. Dalam kondisi ketidakpastian global, bank sentral memastikan bahwa sektor keuangan tetap stabil dan berdaya tahan terhadap tekanan eksternal. Suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dan menjaga likuiditas pasar.

Kebijakan ini berdampak terhadap peningkatan risiko kredit macet. Debitur yang sebelumnya mampu membayar cicilan dapat mengalami kesulitan akibat meningkatnya bunga pinjaman. Sektor perbankan dapat menghadapi peningkatan non-performing loan atau kredit bermasalah.

Masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah rentan terhadap kenaikan suku bunga. Keterbatasan pendapatan sensitif terhadap kenaikan biaya hidup. Penurunan daya beli akan berdampak pada beberapa sektor. Jika kondisi berlangsung lama, risiko pemutusan hubungan kerja dapat meningkat.

Kebijakan meningkatkan suku bunga 5 basis poin menjadi 5,25%—dengan deposit facility menjadi 4,25% dan lending facility menjadi 6,00%—telah dipertimbangkan dampak dan manfaatnya. Kebijakan ini dilakukan di tengah tekanan nilai tukar yang tinggi dalam rangka pro stability.

Ilustrasi bank. Foto: Dok. ChatGPT

Bank sentral mempertimbangkan dampak sosial dari kebijakan suku bunga. Stabilitas sistem keuangan memang penting, dampak terhadap masyarakat juga dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, kebijakan moneter sering kali perlu didukung kebijakan fiskal, seperti ketahanan fiskal yang memadai, kondisi politik yang kuat, dan stimulus produktif.

Kredibilitas kebijakan moneter perlu dijaga untuk mengendalikan inflasi, tekanan terhadap nilai tukar, dan menjaga ekspektasi inflasi untuk mencegah tindakan spekulatif.

Pemerintah juga perlu memperkuat sektor produktif untuk pengetatan moneter. Investasi infrastruktur, peningkatan produktivitas industri, dan pengembangan UMKM dapat membantu menjaga pertumbuhan ekonomi.

Diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi juga diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas dan arus modal asing. Penguatan ekspor bernilai tambah dan hilirisasi industri dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi trilema suku bunga tidak hanya ditentukan oleh besarnya kenaikan suku bunga, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah dan bank sentral dalam membangun kepercayaan, menjaga stabilitas, dan menciptakan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan tinggi terhadap berbagai guncangan global.