Buzz
·
21 Juli 2021 10:51

Bapak adalah Pendidik yang Baik

Konten ini diproduksi oleh Andrias Pujiono
Bapak adalah Pendidik yang Baik (484156)
searchPerbesar
Morgan-David-de-Lossy_unsplash
Minggu lalu, mbak perempuan saya menelepon dan memberitahukan bahwa bapak kami, yang sering kami panggil ‘pak e’ ingin membeli alkon atau pompa air. Untuk apa lagi? Untuk mengairi ‘sayuran’, jawab mbak saya. Bapak ingin bertani sayuran kembali, menanam tanaman terung tepatnya. Beberapa hari sebelumnya bapak terlihat membeli ratusan bibit terung siap tanam.
ADVERTISEMENT
Alasan bapak membeli pompa air karena curah hujan yang tidak menentu. Takutnya, terung sudah ditanam dan tumbuh dengan baik, tapi hujan tidak turun sehingga kekurangan air. Bisa gagal total. Bukannya untung tetapi malah buntung. Jika lama tidak turun hujan, bapak akan menyedot air dengan alkon dari kali yang dekat dengan ladang kami. Hal itu tidak asing bagi saya. Karena sewaktu remaja saya pernah membantu bapak untuk mengairi sayuran dengan pompa air sewaan.
Kembali lagi ke telepon mbak saya tadi. Dia berkata bahwa bapak akan minta tolong saya untuk membelikan alkon. Kebetulan saat ini saya tinggal di kota dan dekat toko penjual pompa air. Mendengar hal itu, saya langsung menolak secara halus. Saya katakan kalau saya sibuk kerja dan juga sedang ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM.
ADVERTISEMENT
Saya menolak karena tidak ingin bapak susah payah atau 'ngoyo' lagi dalam bertani. Karena berdasarkan pengalaman saya dahulu, yaitu ketika membantu bapak bertani sayur, menanam sayuran akan jauh lebih capek, membutuhkan banyak modal dan pikiran. Saya tidak ingin, bapak yang berusia hampir tujuh puluh empatba tahun itu harus ‘ngoyo’ menanam terung.
Satu Minggu berlalu, saya pergi mengunjungi bapak dan ibu, sambil membawa barang dagangan untuk warungnya ibu. Ketika ketemu bapak, beliau dengan sumringah berkata, bapak sudah beli alkon. Mas mu (sepupu) yang membelikannya.
Bapak tampak bersemangat untuk bertani sayuran. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, semangatnya untuk bertani tetap tinggi. Walaupun terkadang keterbatasan fisik menahannya untuk tidak bekerja sekeras dulu lagi.
ADVERTISEMENT
Di sela perbincangan kami, saya berkata, nanti kecapekan , apa masih kuat pak? Bapak jawab, yang namanya kerja ya capek. Jangankan kerja, tidur aja capek, imbuhnya. Jika mendengar kata-kata itu, saya tidak bisa bicara apa-apa lagi. Itu sinyal bahwa bapak akan melakukan apa yang sudah jadi tekadnya.
Bapak terkenal dengan pekerja keras dan ulet. Ia orangnya rajin dan bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Dari dulu bapak jarang sekali libur, hampir tiap hari beliau pergi ke ladang. Kalaupun tidak pergi ke ladang, bapak biasanya tetap beraktivitas melakukan pekerjaan di sekitar rumah.
Bapak sering berkata, bahwa ia akan merasakan sakit badan jika tidak bekerja. Dan akan merasa sehat dan segar jika sudah melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas. Jadi kerjaan bisa menjadi ‘obat’ bagi bapak.
ADVERTISEMENT
Bapak paling semangat pergi ke ladang pada saat pagi hari, ya sekitar jam 6 pagi. Pada waktu saya masih remaja, jam 6 jalanan sedikit gelap, namun cukup jelas untuk melihat beberapa meter ke depan. Bapak suka berangkat sekitar jam 6 pagi dan pulang sekitar jam 11-an siang. Menurutnya, hasil pekerjaan akan lebih banyak jika dimulai pada pagi hari, dan pulang sebelum sinar matahari terik.
Ketika masih remaja dan tinggal bersama bapak, saya sering merasa jengkel dan marah karena dibangunkan pagi-pagi sekali. Saya dibangunkan sekitar jam 5 pagi, disuruh berdoa dan baca kitab suci. Sehabis itu, bapak memintaku untuk bersiap mengikutinya ke ladang. Hal itu sering saya lakukan, terlebih jika waktu musim panen mendekat.
ADVERTISEMENT
Saya masih ingat rasa jengkel dan marah waktu masih remaja dahulu. Ia, dengan segala cara mencoba membangunkan saya di pagi hari. Padahal, di sekitar jam seperti itu banyak teman-teman yang masih terlelap tidur. Tapi bapak tidak peduli. Jika sekitar jam 5 pagi saya belum bangun, maka pintu kamar akan di ketuk dengan cukup keras. Jika saya belum bangun, bapak akan pergi ke jendela kamar, yang dekat tempat tidur saya berada. Lalu dengan cukup keras beliau akan mengetuknya sampai saya menyahut panggilannya. Alhasil, saya pasti akan bangun.
Kejengkelan lain selama tinggal di rumah bapak adalah ketika saya, setelah lulus SMA minta dibelikan motor sendiri. Saya cukup rajin membantu bapak di ladang. Jadi wajar saja jika saya minta dibelikan motor. Toh teman-teman saya juga dibelikan motor oleh orang tuanya.
ADVERTISEMENT
Pada waktu itu, saya mengutarakan keinginan saya, yaitu ingin dibelikan sepeda motor. Tidak perlu baru, yang penting masih ‘pantas’ buat dipakai jalan-jalan bersama teman-teman. Mendengar permintaan itu bapak menjawab, kalau kamu mau beli motor ya beli sendiri. Itu ada ladang, bapak pinjamkan dua musim, garap dan dari hasilnya kamu bisa beli motor sendiri. Kamu akan bangga jika bisa beli dari hasil keringatmu sendiri, kata bapak.
Alih-alih memahami maksud bapak, saya jadi jengkel dan marah. Saya tidak diperlakukan selayaknya anak-anak lain. Ini tidak adil, ini dzolim, kata hati saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk bisa memahami maksud bapak itu.
Bapak memang tidak lulus SD, tetapi dia pendidik yang baik. Dia mendidik dengan teladan dan pembiasaan. Dari bapak, saya belajar beberapa hal penting yaitu, bahwa hidup itu harus punya tekad yang kuat, giat dan semangat dalam bekerja, disiplin bangun pagi dan mandiri.
ADVERTISEMENT
Didikannya telah menjadi bagian dari hidup saya pribadi. Jika sudah punya tekad, sekuat mungkin saya akan menyelesaikan pekerjaan tersebut. Saat ini, saya bekerja dengan giat dan semangat sebagai seorang pengajar. Saya sangat menikmatinya.
Bangun pagi menjadi rutinitas harian bagi saya. Ada hal yang kurang atau hilang jika saya bangun kesiangan. Saya hampir tidak pernah bangun kesiangan, kecuali jika hari libur, itupun juga jarang sekali. Selanjutnya, bagi saya kemandirian adalah hal yang penting sekali. Saya akan berusaha sekuat tenaga mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab dengan baik. Dan hanya akan meminta bantuan orang lain, jika hal itu sudah di luar batas saya.
Saya akan tutup tulisan ini dengan tiga pertanyaan reflektif untuk kita. Pelajaran apa saja yang sudah kamu dapatkan dari bapak, ayah atau papamu? Apakah didikannya mengubah hidup kamu lebih baik? Bagaimana ajaran dari bapakmu itu akan kamu ajarkan juga kepada anak-anakmu?
ADVERTISEMENT