Kultur Disiplin Sekolah: Membentuk Karakter atau Menyeragamkan Mentalitas?
Tulisan dari Andrea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kultur disiplin telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sekolah. Kewajiban memakai atribut seragam secara lengkap, menjaga kerapian rambut atau hijab, hingga pemberian sanksi pada peserta didik yang terlambat atau melanggar tata tertib merupakan pemandangan lazim yang ditemui. Bagi banyak alumni, kultur tersebut bahkan menjadi memori tersendiri, mengingat betapa riuhnya suasana ketika ada peserta didik yang melanggar aturan dan harus menjalani sanksi, seperti razia rambut misalnya.
Di balik itu semua, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji: apakah kultur disiplin tersebut benar-benar mampu membentuk karakter peserta didik, atau justru mendorong keseragaman perilaku dan cara berpikir? Dalam sosiologi pendidikan, ada dimensi lain yang bekerja secara tidak langsung melalui berbagai aturan dan kebiasaan di sekolah, yang dikenal sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi.
Melihat dari perspektif The New Sociology of Education (NSE) dan konsep hidden curriculum, praktik disiplin dapat dipahami bukan sekadar sebagai seperangkat aturan sekolah untuk menjaga ketertiban, tetapi juga sebagai sarana penanaman nilai dan norma tertentu kepada peserta didik. Menariknya, hampir semua bentuk disiplin tersebut selalu dibenarkan dengan alasan yang sama: demi membentuk karakter dan kedisiplinan siswa.
Dalam perspektif The New Sociology of Education (NSE) sekolah dipandang sebagai lembaga yang tidak sepenuhnya netral. NSE melihat bahwa berbagai aturan dan nilai yang diterapkan di sekolah merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh pihak yang memiliki otoritas. Oleh karena itu, kultur disiplin dipahami sebagai mekanisme yang digunakan sekolah untuk membentuk tipe peserta didik yang dianggap ideal dan bersifat top-down.
Di sinilah hidden curriculum menjadi relevan. Berbeda dengan kurikulum formal yang tertulis jelas pada mata pelajaran dan tujuan pembelajaran, sebaliknya hidden curriculum diimplementasikan melalui rutinitas, kebiasaan, serta sanksi yang dialami peserta didik. Ketika seorang siswa diwajibkan mengenakan seragam yang sama atau mengikuti tata tertib tertentu, mereka tidak hanya belajar mengenai tata tertib. Mereka juga menyerap nilai-nilai tertentu mengenai kepatuhan, keteraturan, dan hubungan dengan otoritas.
Namun, nilai yang tersampaikan melalui praktik disiplin tidak selalu berupa pemahaman atas pentingnya sebuah aturan. Dalam banyak kasus, peserta didik justru belajar untuk patuh karena adanya sanksi, sehingga yang terbentuk bukan kesadaran disiplin, melainkan kebiasaan untuk taat tanpa mempertanyakan alasan di balik aturan tersebut.
Akibatnya, peserta didik dapat menjadi lebih takut melanggar aturan daripada memahami tujuan dari aturan tersebut. Ketika kepatuhan lebih dihargai daripada sikap kritis, disiplin berpotensi mendorong keseragaman perilaku dan cara berpikir.
Pada akhirnya, kultur disiplin di sekolah tidak hanya membantu menjaga ketertiban tetapi juga membantu menanamkan nilai melalui "hidden curriculum". Melalui perspektif The New Sociology of Education (NSE), disiplin dapat membentuk karakter peserta didik, namun juga berpotensi mendorong keseragaman perilaku jika terlalu menekankan kepatuhan. Oleh karena itu, disiplin sebaiknya diterapkan dengan mendorong pemahaman dan sikap kritis, bukan sekadar ketaatan terhadap aturan.

