Gelombang Panas Ekstrem Pecahkan Rekor di AS, Salt Lake City Tembus 43 Derajat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria menyeka keringatnya saat orang-orang menghadapi panas ekstrem di AS Jumat (3/7/2026). Foto: AMID FARAHI/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria menyeka keringatnya saat orang-orang menghadapi panas ekstrem di AS Jumat (3/7/2026). Foto: AMID FARAHI/AFP

Gelombang panas ekstrem menghantam wilayah tengah Amerika Serikat (AS) pada Minggu (12/7) waktu setempat. Bahkan suhu di sana memecahkan rekor di sejumlah kota dari kawasan Great Plains hingga Pegunungan Rocky.

Berdasarkan data awal Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS), suhu di ibu kota negara bagian Utah, Salt Lake City, dan Billings, kota terbesar di Montana, mencapai 43 derajat Celsius.

Angka tersebut menjadi suhu tertinggi sepanjang sejarah pencatatan di kedua kota yang telah berlangsung lebih dari 150 tahun. Rekor sebelumnya di Salt Lake City tercatat sebesar 42 derajat Celsius, sementara Billings sebelumnya mencapai 42 derajat Celsius.

Gelombang panas juga memperburuk upaya pemadaman kebakaran hutan besar yang tengah melanda Colorado dan Utah. Kondisi cuaca panas diperkirakan masih akan bertahan hingga Selasa (14/7) waktu setempat.

Fenomena ini terjadi hanya sepekan setelah wilayah timur AS dilanda gelombang panas lain yang mendorong suhu di kota-kota besar seperti New York dan Philadelphia mendekati 40 derajat Celsius.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas tercatat semakin sering terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi di berbagai belahan dunia.

Para ilmuwan mengaitkan tren tersebut dengan perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.

Dampak gelombang panas juga dirasakan di kawasan lain. Eropa Barat baru saja mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cuaca ekstrem tersebut menyebabkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia di Eropa.