Pemakaman 'Tukang Jagal Bosnia' Dihadiri Ribuan Orang, Uni Eropa Berang

Ribuan orang memadati upacara pemakaman penjahat perang Ratko Mladic di Beograd, Serbia, Senin (7/9). Peristiwa itu menuai kecaman dari Uni Eropa yang memandang penghormatan tersebut sebagai bentuk glorifikasi terhadap pelaku genosida dan kejahatan perang Bosnia pada era 1990-an.
Mladic meninggal dunia pada akhir Agustus saat menjalani hukuman penjara seumur hidup di Den Haag, Belanda. Ia terbukti bersalah atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan selama perang Bosnia.
Karena kekejamannya, Mladic dijuluki sejumlah media internasional sebagai “tukang jagal Bosnia”.
Sebelumnya, Menteri Kehakiman Serbia Nenad Vujic berencana memberikan penghormatan militer dan kenegaraan terhadap Mladic. Setelah keputusan itu menuai kecaman, Presiden Aleksandar Vucic kemudian melunakkan rencana penghormatan terhadap Mladic.
Vucic memastikan acara pemakaman berlangsung aman, tetapi menegaskan dirinya tidak akan hadir dalam pemakaman tersebut.
Upacara pemakaman digelar di Gereja St Luka, bukan di Gereja Saint Sava yang kerap digunakan untuk pemakaman kenegaraan. Saat upacara dimulai, putra Mladic berdiri di depan peti jenazah. Sejumlah pelayat juga tampak mencium peti jenazah Mladic.
Kendati divonis sebagai penjahat perang, Mladic dipandang sebagai pahlawan dan pelindung oleh kelompok nasionalis Serbia. Penghormatan besar terhadap Mladic juga datang dari Republika Srpska, entitas Serbia Bosnia di Bosnia dan Herzegovina.
“Saya di sini untuk melihat jenderal, seorang pahlawan nasional,” ujar seorang warga Serbia, Radojka Visic, seperti dikutip AFP.
Warga lainnya, Rade Bajic, menyebut Mladic sebagai pria yang luar biasa dan seorang pejuang yang hebat.
Sementara itu, Uni Eropa kembali menyampaikan kecaman keras terhadap penghormatan besar yang diberikan dalam upacara pemakaman Mladic di Beograd.
“Segala bentuk pengagungan terhadap penjahat perang, penyangkalan genosida, dan revisionisme bertentangan dengan nilai-nilai Eropa yang paling mendasar serta tidak memiliki tempat di Uni Eropa maupun di negara-negara kandidat anggota Uni Eropa,” ujar juru bicara Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.
Kejahatan Mladic
Perang Bosnia berlangsung pada 1992-1995 dan menewaskan sekitar 100 ribu orang. Sebanyak 2,2 juta orang lainnya kehilangan tempat tinggal akibat perang tersebut.
Saat itu, Mladic merupakan salah satu tokoh militer utama dalam kepemimpinan Serbia Bosnia. Ia berada dalam lingkaran kepemimpinan Serbia Bosnia bersama pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic dan Presiden Yugoslavia saat itu, Slobodan Milosevic.
Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) memvonis Mladic bersalah atas genosida di Srebrenica pada 1995. Ketika itu, pasukan Serbia Bosnia membunuh sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia di Srebrenica, yang saat itu dinyatakan sebagai zona aman PBB.
Pembantaian Srebrenica menjadi salah satu kekejaman paling parah di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Mladic ditangkap pada 2011, sekitar 16 tahun setelah dakwaan terhadapnya pertama kali dijatuhkan. Pada 2017, ia divonis penjara seumur hidup. Putusan tersebut kemudian dikuatkan pada tingkat banding pada 2021.
