Bahasa Gaul di Sekolah: Kreativitas Remaja atau Ancaman Bahasa Baku?

Berkerja dan kuliah di universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andreas margate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa gaul di sekolah kini menjadi fenomena yang sulit dihindari. Perkembangan bahasa selalu berjalan seiring perubahan zaman, dan di tengah derasnya arus digital serta budaya populer, penggunaan bahasa gaul di kalangan pelajar semakin mencolok. Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah bahasa gaul merupakan ancaman bagi bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau justru bagian alami dari perkembangan bahasa?
Fenomena Bahasa Gaul di Kalangan Pelajar
Di ruang kelas, kantin, hingga grup chat sekolah, kita mudah mendengar istilah seperti “gabut”, “baper”, “cringe”, atau “healing”. Tak jarang guru pun kebingungan mendengarnya. Fenomena ini bukan sekadar kesan. Penelitian Sagala (2026) terhadap 32 siswa kelas X SMA Negeri 3 Medan menunjukkan bahwa bahasa gaul, singkatan, dan campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah masih sering digunakan siswa dalam komunikasi sehari-hari. Penyebab utamanya adalah media sosial, lingkungan pergaulan, dan kebiasaan berkomunikasi.
Sebagian pihak khawatir penggunaan bahasa gaul yang berlebihan dapat merusak kaidah bahasa Indonesia. Kekhawatiran ini punya dasar. Penelitian yang sama menemukan bahwa kesalahan berbahasa yang paling sering dilakukan siswa adalah penggunaan kata tidak baku, kesalahan ejaan, singkatan berlebihan, dan bahasa yang tidak sesuai konteks formal. Temuan serupa muncul di SMA Negeri 1 Meureudu, Pidie Jaya, yaitu adanya penyimpangan tata bahasa dan munculnya kosakata tidak baku dalam komunikasi formal. Bahkan di jenjang sekolah dasar, Panggabean (2026) mencatat bahwa penggunaan bahasa baku belum optimal. Penyebabnya adalah kebiasaan berbahasa gaul, paparan konten media sosial, dan rendahnya penguasaan kosakata formal. Secara nasional, hasil Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif tahun 2025 dari Badan Bahasa mencatat Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia sebesar 64,23. Angka ini menunjukkan bahwa kemahiran berbahasa masyarakat kita masih perlu ditingkatkan. Jika kesenjangan antara bahasa informal dan formal dibiarkan, dampaknya bisa terbawa hingga ke dunia kerja.
Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya suram. Penelitian di MA Al Hilaal yang dimuat dalam Leksikal: Jurnal Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menemukan delapan pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia siswa: empat negatif dan empat positif. Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa gaul dipandang sebagai ragam bahasa nonstandar yang lahir dari kebutuhan kelompok penuturnya. Ragam ini berfungsi sebagai penanda identitas, keakraban, dan kreativitas remaja. Bahasa memang terus tumbuh dan menyesuaikan diri dengan zaman. Melalui proses ini, pelajar secara tidak langsung ikut memperkaya kosakata dan menghidupkan bahasa di ruang sosial.
Yang menarik, berbagai penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa siswa sebenarnya mampu membedakan konteks berbahasa. Di SMA Negeri 1 Meureudu, sebagian siswa masih bisa memilah kapan menggunakan bahasa gaul dan kapan bahasa baku. Di SMA Negeri 3 Medan, sebagian besar siswa memahami pentingnya bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan sekolah. Artinya, masalah utamanya bukan pada keberadaan bahasa gaul, melainkan pada kurangnya pembiasaan berbahasa formal.
Karena itu, solusinya bukan melarang bahasa gaul, melainkan mengarahkan penggunaannya secara tepat dan seimbang. Panggabean (2026) merekomendasikan intervensi pedagogis yang terstruktur, misalnya program pembiasaan bahasa baku di sekolah, untuk memperkuat kompetensi berbahasa Indonesia sejak dini. Guru dapat memanfaatkan bahasa gaul sebagai bahan ajar untuk membandingkan ragam formal dan informal. Dengan cara ini, siswa memahami bahwa setiap situasi menuntut pilihan bahasa yang berbeda.
Sebagai generasi yang melek tren dan teknologi, siswa sebenarnya mampu memilah bahasa sesuai konteks. Bahasa gaul bukan musuh bahasa Indonesia baku. Yang penting adalah kesadaran untuk tahu kapan harus “santai” dan kapan harus “resmi”. Jika keseimbangan ini dijaga, bahasa Indonesia akan terus hidup, dinamis, dan relevan sepanjang zaman tanpa kehilangan arah dan jati dirinya.
Referensi
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2026). Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa Indonesia: Hasil UKBI Adaptif 2025. Diakses dari RRI.co.id.
Panggabean, R. (2026). Pengaruh Bahasa Gaul dan Media Sosial terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Baku pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i2.39642
Sagala, Y. N. (2026). Analisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia pada Siswa SMA Negeri 3 Medan. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i2.41207
Dampak Penggunaan Bahasa Gaul dalam Penggunaan Bahasa di SMA Negeri 1 Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. Jurnal Pendidikan dan Keguruan, Universitas Jabal Ghafur.
Analisis Pengaruh Bahasa Gaul pada Media Sosial terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Siswa di MA Al Hilaal. Leksikal: Jurnal Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, IAIN Ambon.
