Ayah Tusuk Anak di Kudus Gara-gara Kesal Sering Mabuk dan Dipukuli

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah lokasi kejadian ayah dan anak cekcok diberi garis polisi di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah lokasi kejadian ayah dan anak cekcok diberi garis polisi di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Seorang ayah, T (70) menusuk anak kandungnya, FA (34) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Penyebabnya karena si ayah muak, sebab anaknya sering mabuk dan ia sering memukulinya.

Ayah-anak itu adalah warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pelaku menusuk korban dengan pisau dapur kecil.

Kapolsek Jati, AKP Subkhan membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, tersangka, ayah korban mengaku muak dengan tingkah laku korban, yang merupakan anak kandungnya. Sehingga, tersangka melakukan penusukan.

"Ayahnya sudah jengah dengan perilaku anaknya yang sering mabuk dan memukulinya. Untuk lengkapnya masih kami lakukan pemeriksaan," katanya, Jumat (25/9).

AKP Subkhan menyampaikan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (24/9) pukul 23.30 WIB. Korban sempat dibawa ke RS Mardirahayu sebelum akhirnya meninggal. Sedangkan tersangka masih diamankan di Polsek Jati.

Ia menambahkan, tersangka menusuk korban dengan pisau dapur. Tusukan mengenai bagian dada korban. Kondisi korban saat itu sedang mabuk berat.

Rumah lokasi kejadian ayah dan anak cekcok diberi garis polisi di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

"Ada luka tusukan di bagian dada. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit. Setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit, korban meninggal," terangnya.

Pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan pelaku di Polsek Jati. Selain itu kepolisian juga masih menunggu hasil autopsi dari pihak rumah sakit.

"Ancaman hukumannya masih kami dalami dulu. Saat ini kan masih melakukan pemeriksaan. Sedangkan korban dinyatakan meninggal hari ini pukul 01.45 WIB," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Kulon, Hery Supriyanto mengatakan, korban memang sering mabuk dan bikin rusuh dengan keluarganya. Setiap pulang kerja malam hari selalu bertengkar dengan ayahnya. Di sisi lain, menurutnya, kondisi pelaku memang agak linglung.

"Setiap pulang malam hari selalu cekcok dengan ayahnya. Alat pancing ayahnya juga pernah dibakar," jelasnya.

Hery menambahkan, pelaku menusuk korban dengan pisau dapur kecil. Luka tusukannya 0,5 sentimeter.

"Sebenarnya kecil luka tusukannya. Hanya 0,5 sentimeter dan darahnya juga sedikit. Saat dirawat di rumah sakit masih hidup. Kemudian ketika mau di rontgen, jantungnya berhenti dan meninggal," ujarnya.

Sementara itu, pengakuan dari Ketua RT, Supardi menjelaskan, semalam keduanya sempat ribut. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti perihal yang diributkan.

"Tidak hanya semalam. Setiap harinya memang sering ribut. Anaknya setiap pulang pasti mabuk dan ayahnya dipukuli," katanya, Jumat (25/9).

Korban juga pernah membakar alat pancing milik tersangka. Keduanya memang tinggal serumah berdua.

Korban merupakan empat bersaudara sekaligus anak terakhir. Sedangkan tiga saudara lainnya sudah tidak tinggal di rumah tersebut. Sementara istri dari pelaku sudah lama meninggal.

"Bapaknya juga sudah linglung karena usianya sudah tua. Bahkan pernah hilang tidak pulang selama tiga hari pada bulan Agustus lalu," ucapnya.

Sementara itu, kakak pertama korban, Jami'ah, membenarkan kalau keduanya sering cekcok. Adiknya itu juga sering mabuk. Lalu pulang ke rumah dengan marah-marah.

"Sasarannya pasti pukul orang tua. Dia seperti itu dengan keluarga saja. Sama tetangga tidak," jelasnya saat ditemui di lokasi, Jumat (25/9).

Terkadang kalau diberi nasihat juga marah. Selain itu juga sering mabuk. Bahkan, ketika ibunya masih hidup, adiknya itu sering marah-marah dan memukuli ibunya.

"Pekerjaan adik saya kru barongan. Kalau ayah sudah tua tidak bekerja," ucapnya.

Jami'ah mengatakan, adiknya juga sempat menjual beras bantuan yang diterima ayahnya. Namun, ia tidak mengetahui persis perihal kejadiannya.

"Kabarnya begitu tetapi saya kurang tahu pastinya seperti apa," imbuhnya.