Banjir Genangi Sejumlah Titik di Kota Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi Minta Maaf

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Banjir di kawasan Jalan Nginden Intan, Surabaya, Selasa (23/6/2026) Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Banjir di kawasan Jalan Nginden Intan, Surabaya, Selasa (23/6/2026) Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Hujan dengan intensitas tinggi sejak Senin (22/6) hingga Selasa (23/6) mengakibatkan sejumlah genangan di Kota Surabaya. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, lantas meminta maaf atas gangguan yang terjadi itu.

"Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan," ujar Eri dalam keterangannya, Selasa (23/6).

Eri mengatakan, pihaknya saat ini masih berusaha untuk menangani banjir yang masih muncul sampai sekarang.

"Untuk mempercepat penanganan, Pemkot Surabaya mengerahkan 21 unit mobil pemadam kebakaran (PMK) serta sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan perangkat daerah terkait. Seluruh armada tersebut dan kami telah keliling sejak pukul 02.30 WIB untuk melakukan penyedotan air di titik-titik rawan genangan," ucapnya.

Ia menyebut, kondisi banjir juga dipengaruhi oleh sejumlah pekerjaan pembangunan dan normalisasi saluran drainase yang sedang berlangsung di berbagai titik kota.

Pekerjaan tersebut meliputi pengerukan saluran, pemasangan box culvert, hingga perbaikan rumah pompa di sejumlah lokasi seperti Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol (rumah pompa Dinoyo), hingga Rungkut.

Banjir di kawasan Jalan Nginden Intan, Surabaya, Selasa (23/6/2026) Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Dalam proses pengerjaan, sebagian saluran ditutup sementara untuk percepatan pembangunan infrastruktur. Hal ini membuat aliran air tidak dapat berjalan optimal saat hujan intensitas tinggi terjadi.

"Dalam situasi seperti ini, kami dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan proyek atau tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan, sambil memaksimalkan penanganan di lapangan," katanya.

Selain curah hujan tinggi, kata Eri, kondisi pasang air laut juga memperberat penanganan. Tingginya muka air laut menyebabkan aliran sungai menuju laut terhambat.

Bahkan, dalam beberapa kondisi air yang telah dipompa kembali terdorong ke daratan. Situasi tersebut membuat sistem pembuangan air tidak dapat bekerja maksimal.

"Sebagai langkah antisipasi, kami memaksimalkan fungsi boezem atau kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Sejumlah lahan juga dioptimalkan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama," ujar dia.