Dirgayuza Jelaskan Alasan Terbitkan Buku 'Presiden Solusi'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Launching & Bedah Buku "Presiden Solusi" karya Dirgayuza Setiawan, Muhammad Qodari, dan Agung Gumilar Saputra oleh University Club Jakarta (UGC), Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Launching & Bedah Buku "Presiden Solusi" karya Dirgayuza Setiawan, Muhammad Qodari, dan Agung Gumilar Saputra oleh University Club Jakarta (UGC), Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Penulis buku 'Presiden Solusi', Dirgayuza Setiawan, mengungkap menulis buku tersebut, jelang dua tahun genap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan ini mengatakan, buku itu dibuat untuk menjawab persepsi publik yang menilai Presiden Prabowo tidak memahami persoalan di lapangan.

"Banyak para komentator di media sosial menyampaikan bahwa Bapak Presiden kita tidak mengerti masalah. Disampaikan presiden kita berjarak dalam masalah, dihambat untuk mengetahui masalah-masalah apa yang ada di lapangan. Dan kami melihat itu tidak benar," kata Dirgayuza dalam peluncuran dan bedah buku “Presiden Solusi” di Jakarta Selatan, Senin (8/6).

Menurut Dirgayuza, dirinya bersama Muhammad Qodari dan Agung Gumilar Saputra merasa memiliki “beban sejarah” untuk mendokumentasikan proses pengambilan kebijakan Presiden Prabowo karena mereka melihat langsung kerja Presiden sehari-hari.

Ia mengaku terinspirasi dari kisah Ted Sorensen, penulis pidato Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

"Ted menuliskan bahwa, 'bagi orang-orang yang bekerja di kantor presiden, kalian memiliki beban sejarah seperti apa yang saya alami dulu untuk menuliskan dan merekam sejarah ini'," ujarnya.

Dirgayuza mengatakan banyak pembahasan persoalan dalam rapat kabinet dilakukan secara tertutup sehingga memunculkan kesan Presiden tidak mengetahui masalah yang terjadi di masyarakat.

"Ketika sudah mau masuk bicara yang nggak enak-nggak enak, media diminta keluar. Akhirnya terciptalah persepsi itu presiden Prabowo tidak mengetahui masalah, padahal yang kita bahas dan kita saksikan sehari-hari Bapak Presiden kita bicara masalah," kata dia.

Selain itu, kata Dirgayuza, buku tersebut juga dibuat karena publik dinilai belum memahami alasan di balik berbagai program pemerintah.

Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan dalam Kegiatan Launching & Bedah Buku "Presiden Solusi" oleh University Club Jakarta (UGC) di Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ia menyebut masyarakat mengenal sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat, tetapi belum memahami persoalan yang ingin diselesaikan melalui kebijakan tersebut.

"Publik belum memahami kenapa program-program itu lahir. Masalah apa yang ingin dipecahkan dari masing-masing program," ujarnya.

Dirgayuza mencontohkan program Koperasi Desa Merah Putih yang disebut bertujuan memotong rantai distribusi barang subsidi agar harga di masyarakat tetap terkendali.

Karena itu, menurut dia, buku “Presiden Solusi” disusun dengan format sederhana dan langsung menjelaskan masalah serta solusi yang diklaim dilakukan pemerintah.

"Di dalam buku ini bukan buku kebijakan publik pada umumnya, tidak ada teori-teori di sini. Langsung, apa yang dipermasalahkan dan apa yang disolusikan oleh Presiden, satu persatu di-before after-nya dan juga data-data statistik yang mendukung,” kata Dirgayuza.

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari menyebut buku tersebut juga dimaksudkan untuk menjelaskan arah pengelolaan ekonomi yang sedang dijalankan pemerintahan Prabowo.

"Nah semua itu ingin, semua itu mau dikoreksi oleh Pak Prabowo supaya apa? Supaya pendapatan bagi bangsa dan negara ini menjadi lebih besar dan uangnya dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat," ujar Qodari.

Ia menilai langkah-langkah tersebut memunculkan perang opini karena menyentuh perubahan mendasar dalam pengelolaan ekonomi nasional.

"Saya mau katakan begini, Pak Prabowo ini bukan mustahil under attack, under siege, dalam kepungan," kata dia.

Qodari menyebut buku “Presiden Solusi” mencatat sedikitnya 108 solusi atau kebijakan yang diklaim telah dijalankan pemerintahan Prabowo dalam sekitar 1,5 tahun pertama pemerintahannya.

Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Analisa Data Strategis sekaligus penulis ketiga buku tersebut, Agung Gumilar Saputra mengatakan bahwa buku tersebut dirancang untuk mudah dipahami dan diakses.

"Silakan dilihat sendiri untuk bukunya, kita desain, kita rancang supaya mudah dipahami. Ini jangan sampai fakta tertutup oleh opini. Jadi harus melihat secara keseluruhan buku ini, bisa di-download, dan kami terbuka untuk masukan-masukan yang tentunya akan membangun lebih baik lagi" kata Agung.