Disnaker Cianjur: Pemulangan TKW Ai Terkendala Dualisme Pemerintahan di Libya

Proses pemulangan Ai Juariah (43), tenaga kerja wanita (TKW) asal Cianjur, Jawa Barat, yang terjebak di Libya dan terekam dalam kondisi bersimbah darah, ternyata terkendala masalah diplomatik. Sebab, ada perbedaan pengakuan pemerintahan, antara Libya Barat dan Libya Timur.
Maka, Ai, yang berasal dari Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, itu masih berada dalam pemantauan dan perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tripoli, yang berada di Libya Barat.
"Saat ini, Ai Juariah kondisinya baik dan sudah berada di KBRI. Pemerintah, masih mengupayakan proses pemulangannya. Karena, saat ini pemerintahan Libya terbagi dua, yakni pemerintahan yang berpusat di Tripoli yang menguasai Libya Barat, dan Libya Timur, yang pemerintahanya tidak diakui. Intinya ada dualisme pemerintahan di Libya, " kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur, Denny Widya Lesmana, kepada kumparan, Rabu (1/7).
Sementara itu Deny menyampaikan Ai bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Benghazi, Libya Timur.
"Hal ini yang diprediksi akan cukup menghambat proses pemulangannya," jelasnya.
Sebelumnya, Ai Juariah (43), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dipastikan berangkat secara nonprosedural.
Deny mengungkapkan, pihaknya telah berkirim surat ke Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI untuk dibantu terkait proses pemulangan.
"Kita telah bersurat ke Kemlu RI agar dibantu dalam proses pemulangan Ai Juariah. TKW tersebut dipastikan berangkat ke Libya secara non prosedural," kata Deny.
