Istana Sebut Menteri sampai BNPB Beri Laporan per Hari soal Penanganan Gempa NTT

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mensesneg Prasetyo Hadi memberikan keterangan terkait perbaikan buku pelajaran siswa di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (7/8). Foto: Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Mensesneg Prasetyo Hadi memberikan keterangan terkait perbaikan buku pelajaran siswa di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (7/8). Foto: Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pemerintah terus memantau penanganan dampak dari gempa bumi 7,7 M yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pras mengatakan laporan terkait kondisi dan penanganan di lapangan diterima setiap hari, mulai dari para menteri, Basarnas, hingga BNPB.

“Jadi yang penting adalah kami setiap hari memonitor, ya, para menteri juga melaporkan, Kepala Basarnas setiap hari laporan kepada kami, kemudian BNPB juga laporan,” jelas Pras di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).

Pras juga mengapresiasi bantuan yang dikirimkan oleh pemerintah daerah dari berbagai wilayah. Salah satunya bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kami juga mengapresiasi karena banyak pemerintah provinsi, pemerintah daerah yang lain juga mengirimkan bantuan-bantuan, termasuk misalnya seperti dari Pemprov Jawa Tengah. Ini bukti solidaritas kita bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah,” kata Pras.

Sementara itu, sejumlah menteri telah berada atau dijadwalkan menuju NTT untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan penanganan dampak gempa. Pras mengatakan pemerintah juga sedang merencanakan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terdampak.

Menurut dia, kunjungan Presiden ke lokasi bencana membutuhkan persiapan dan sarana pendukung yang lebih besar dibandingkan kunjungan biasa. Karena itu, pada fase awal setelah bencana, pemerintah memilih memastikan penanganan persoalan di lapangan berjalan terlebih dahulu.

“Sedang direncanakan. Sedang direncanakan, tetapi perlu juga kami sampaikan bahwa kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan bukan kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu. Karena kehadiran seorang Presiden tentu membutuhkan persiapan dan sarana-sarana yang tidak seperti kunjungan biasa,” ujar Pras.