Kabut Asap Jambi Berdampak ke Anak-anak, Siswa Batuk hingga Mata Perih

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Jambi dan sekitarnya mulai berdampak terhadap aktivitas serta kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
Keluhan kesehatan mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Warga dan siswa mengeluhkan batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas hingga mata terasa perih.
Dampak kabut asap juga dirasakan siswa SD Negeri 68, Desa Sekumbung, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi.
Ima, salah seorang guru di SD Negeri 68, mengatakan kegiatan belajar mengajar masih berlangsung seperti biasa. Namun, siswa dianjurkan menggunakan masker selama berada di lingkungan sekolah.
“Masih sekolah, tapi dianjurkan memakai masker,” ujar Ima, Senin (24/8).
Menurut Ima, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi kesehatan saat mengikuti pembelajaran akibat kabut asap. Keluhan yang dirasakan antara lain batuk dan mata terasa perih.
“Kalau anak di sekolah ada yang mengeluh batuk saat belajar karena kabut asap ini, ada. Batuk dan mata perih,” katanya.
Ia juga menyebut, terdapat empat siswa kelas IV yang izin tidak masuk sekolah karena sakit dan mengalami batuk.
“Kalau hari ini, di kelas saya ada empat orang yang izin karena sakit dan batuk,” ujarnya.
Meski demikian, Ima mengatakan kondisi kesehatannya hingga kini masih baik.
“Alhamdulillah saya sampai sekarang sehat walafiat,” katanya.
Tiga Anak Warga Simpang IV Sakit
Sementara itu, dampak kabut asap juga dirasakan keluarga Iskandar, warga kawasan Simpang IV, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Iskandar mengatakan, ketiga anaknya yang masing-masing berusia 9 bulan, 10 tahun dan 13 tahun mengalami keluhan kesehatan.
Anak bungsunya yang berusia 9 bulan telah sakit selama sekitar empat hari. Sedangkan dua anak lainnya mulai mengalami keluhan dalam dua hari terakhir.
Keluhan yang dialami antara lain sesak napas disertai batuk dan pilek. Sementara anak yang lebih besar mengalami sakit tenggorokan dan batuk.
Iskandar mengatakan, anaknya telah diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). Dari pemeriksaan tersebut, tenaga kesehatan menjelaskan bahwa kondisi yang dialami dapat dipengaruhi kualitas udara yang buruk.
Melihat kondisi tersebut, ia kemudian membatasi aktivitas anak-anaknya di luar rumah untuk sementara waktu hingga kondisi kesehatan mereka membaik.
Namun, kondisi tersebut menjadi dilema bagi keluarga Iskandar karena ia tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sebenarnya ingin libur, cuma kalau aktivitas di luar rumah tidak dilakukan, kami tidak bisa kerja. Kalau tidak kerja, tidak ada uang,” ujarnya.
Ia berharap kabut asap segera membaik sehingga masyarakat, khususnya anak-anak, tidak terus terpapar udara yang buruk.
