Karhutla 2026 Capai 202 Ribu Hektare, Menhut Soroti El Nino Datang Lebih Cepat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lahan gambut Desa Kayee Unou, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Aceh, Kamis (4/6/2026).  Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lahan gambut Desa Kayee Unou, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Aceh, Kamis (4/6/2026). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkap luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 202 ribu hektare. Angka tersebut disebut sudah melampaui luas karhutla pada periode yang sama pada 2019 dan 2023.

Raja Juli mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena Indonesia saat ini menghadapi fenomena El Nino yang seharusnya secara siklus baru terjadi pada 2027. Namun, fenomena El Nino justru datang lebih cepat pada 2026.

“Pada tujuh bulan pertama tadi 2026 luas Karhutla tercatat 202 ribu hektare. Angka ini memang lebih tinggi dibanding 2019-2023, masih jauh lebih rendah dibanding 2015 yang mencapai 600 ribu hektare. Dari total luas tersebut, sekitar 57% atau 115.896 hektare ya berada di kawasan hutan,” jelas Raja Juli saat rapat dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).

“Yang warna hijau itu kawasan hutan, sementara 43% ya itu di APL. Ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan juga tidak hanya di kementerian kita ini, tapi juga di kementerian yang mengurus di sektor APL,” lanjutnya.

Raja Juli menjelaskan, El Nino selama ini dikenal sebagai siklus yang terjadi secara periodik sekitar empat tahunan. Fenomena tersebut tercatat terjadi pada 2015, 2019, dan 2023. Dengan pola itu, El Nino berikutnya semestinya baru terjadi pada 2027.

Namun, kondisi iklim saat ini menunjukkan fenomena tersebut datang lebih cepat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (ketiga kiri) didampingi bupati Probolinggo Mohammad Haris Damnhuri Romly (kanan) memantau penanganan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya

“El Nino merupakan siklus empat tahunan dan terjadi secara periodik. Kalau ada yang merah itu berarti El Nino. Jadi ada terjadi 2015, kemudian 2019, 2023, dan mestinya 2027 baru El Nino-nya akan datang,” tutur Raja Juli.

“Namun sekarang ya climate change is real, ya, ternyata justru cepat, satu tahun sebelumnya,” sambungnya.

Raja Juli pun membandingkan luas karhutla pada sejumlah periode El Nino. Pada 2015, luas karhutla secara keseluruhan mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Kemudian pada 2019 mencapai 1,6 juta hektare dan pada 2023 sekitar 1,16 juta hektare.

Sementara pada Januari-Juli 2026, luas karhutla telah mencapai sekitar 202 ribu hektare.

“Pada tahun 2015, ini yang menjadi referensi kita karena El Nino-nya sama, hampir sama dengan 2015, Karhutla mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Pada tahun 2019 1,6 juta hektare, pada tahun 2023 1,16 juta hektare. Di luar El Nino alhamdulillah terkontrol, termasuk tahun yang lalu ya 2025 itu juga menurun dari 2024,” katanya.

Raja Juli mengatakan angka 202 ribu hektare tersebut masih bersifat sementara karena proses pengecekan di lapangan masih berlangsung.

El Nino 2026 Sangat Kuat

Selain luas karhutla yang meningkat, pemerintah juga mewaspadai kondisi iklim yang dapat memperburuk potensi kebakaran dalam beberapa bulan ke depan.

Raja Juli mengatakan berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino yang terjadi pada 2026 kini berada pada kategori sangat kuat.

“Dari sisi kondisi iklim, berdasarkan data BMKG, hasil pemantauan menunjukkan bahwa El Nino saat ini berada pada intensitas yang sangat kuat. Ini harus kita garisbawahi. Di awal tahun ada prediksi El Nino cepat, tapi dikatakan moderat,” kata Raja Juli.

Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock

“Kemudian beranjak menjadi kuat dan baru bulan yang lalu, BMKG secara resmi mengatakan El Nino pada saat ini sangat kuat, sering dikatakan El Nino Godzilla, meski teman-teman BMKG kurang pas dengan istilah itu. Istilah baku mereka adalah sangat kuat,” sambungnya.

Dia menjelaskan kondisi tersebut tercermin dari indeks Nino 3.4 yang mencapai +2,19. Angka tersebut menggambarkan kondisi suhu muka laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat dari kondisi normal dan dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko karhutla karena berkurangnya curah hujan dapat membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Tak hanya El Nino, pemerintah juga mewaspadai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Raja Juli mengatakan IOD diprediksi memasuki fase positif pada September-November 2026.

“Selain El Nino, kondisi IOD atau Indian Ocean Dipole diprediksi memasuki fase positif pada September hingga November 2026. Kondisi ini berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia,” ungkap dia.

Raja Juli menyebut kondisi El Nino 2026 memiliki kemiripan dengan El Nino kuat pada 2015. Bahkan, indeks Nino 3.4 pada 2026 saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan periode Juli-September 2015.

“Juli sampai September 2015 Indeks Nino nya hanya +1,5. Sementara sekarang sudah 2,19 artinya lebih tinggi dari itu. Namun di bulan November 2015 +2,57. Jadi kita berharap kita tidak akan sampai di 2,57 seperti di 2015. Tapi per hari ini, itu lebih tinggi dari 2015, yaitu +1,5,” jelas Raja Juli.