Karhutla Jambi Capai 300 Hektare, Gubernur Ajak Warga Salat Minta Hujan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah petugas gabungan berupaya memadamkan Karhutla di Jambi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah petugas gabungan berupaya memadamkan Karhutla di Jambi. Foto: Dok. Istimewa

Gubernur Jambi Al Haris memberi perhatian khusus terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di tengah cuaca panas dan kering yang melanda Provinsi Jambi. Ia mengajak para ulama, kiai, dan imam masjid menggelar salat istisqa untuk memohon hujan segera turun.

Ajakan itu disampaikan Al Haris saat meninjau sekaligus membantu pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Minggu (9/8).

Berdasarkan data BPBD Provinsi Jambi, luas karhutla sepanjang 1 Januari hingga 9 Agustus 2026 mencapai 300,12 hektare. Karhutla terluas tercatat di Kabupaten Sarolangun dengan 87,32 hektare.

Berikutnya, Tanjung Jabung Barat 58,10 hektare, Batanghari 50,03 hektare, Muaro Jambi 37,99 hektare, Tebo 30,76 hektare, Tanjung Jabung Timur 22,71 hektare, dan Merangin 3,25 hektare.

Gubernur Jambi sekaligus Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia Al Haris di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Selasa (7/10/2025). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Di tengah kondisi tersebut, Al Haris meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan memastikan tidak ada lahan yang terbakar di wilayah masing-masing.

“Pastikan lahan-lahan di desa kita aman dari api. Saya minta tolong masyarakat desa di mana pun di Jambi ini, pastikan desanya tidak ada lahan yang terbakar,” ujar Al Haris dari siaran pers yang diterima.

Ia juga meminta desa yang memiliki kawasan gambut melakukan pemetaan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Tim relawan desa diminta menjadi pihak yang pertama bergerak jika menemukan titik api.

“Petakan daerah gambut. Yang di desa-desanya ada gambutnya, mohon betul tim relawan desa siaga duluan. Jangan sampai terjadi kebakaran hutan di desa masing-masing,” katanya.

Ajak Salat Istisqa

Selain meningkatkan kewaspadaan, Al Haris mengajak para ulama, kiai, dan imam masjid melaksanakan salat istisqa atau salat meminta hujan.

Ajakan itu disampaikan karena kondisi Jambi semakin panas dan kering. Persediaan air mulai sulit, sementara debu juga mulai terlihat di sejumlah lokasi.

Sejumlah petugas gabungan berupaya memadamkan Karhutla di Jambi. Foto: Dok. Istimewa

“Mohon pada para ulama, kiai, imam masjid, mari kiranya kita sediakan waktu kita habis salat wajib untuk melakukan salat istisqa. Meminta kepada Allah agar hujan turun dengan cepat di bumi Jambi ini,” tuturnya.

Al Haris juga meminta masyarakat mendoakan personel yang masih berjibaku menangani karhutla agar seluruh proses pemadaman berjalan lancar dan tidak menimbulkan korban.

“Mohon doakan kami, mohon doanya agar kami, tim bekerja selamat, sukses, tidak ada korban, dan api bisa dipadamkan,” kata Al Haris.

Sehari setelah meninjau lokasi karhutla, Al Haris mengikuti rapat koordinasi penanganan peningkatan eskalasi karhutla bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup, Senin (10/8).

Dalam rapat tersebut, Al Haris melaporkan perkembangan karhutla di Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan laporan yang disampaikan, lahan yang terbakar mencapai sekitar 50 hektare.

“Sudah kita laporkan, mudah-mudahan tidak akan meluas lagi. Tim masih terus bekerja sampai hari ini,” ujar Al Haris.

Menurut dia, penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman api yang terlihat, tetapi juga pendinginan dan pemantauan untuk mencegah munculnya kembali titik api, terutama di kawasan gambut.

“Kami akan terus bekerja dan saling berkoordinasi untuk memadamkan api,” tegasnya.

Al Haris memastikan Satgas Karhutla Provinsi Jambi bersama seluruh unsur terkait terus berada di lapangan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.

Ia juga meminta masyarakat ikut memantau potensi munculnya titik api di wilayah masing-masing.

“Masyarakat diminta terlibat dalam meminimalisir kejadian karhutla, karena mereka yang mengetahui kondisi di lapangan,” pungkasnya.