Kekaguman Putri Mahkota Swedia akan Terowongan Silaturahmi Katedral-Istiqlal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Goodwill Ambassador UNDP Putri Mahkota Victoria dari Swedia bersama Menag Nasaruddin Umar dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo melewati Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Dok. UNDP
zoom-in-whitePerbesar
Goodwill Ambassador UNDP Putri Mahkota Victoria dari Swedia bersama Menag Nasaruddin Umar dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo melewati Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Dok. UNDP

Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée, mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, Jumat (4/9). Dalam kunjungannya, Victoria merasa kagum melihat Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan kedua rumah ibadah tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat ditemui wartawan usai mendampingi kunjungan Victoria bersama Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo.

Nasaruddin mengatakan, Victoria bersama rombongan terlebih dahulu melihat bagian dalam Masjid Istiqlal. Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan dengan melewati Terowongan Silaturahmi menuju Gereja Katedral.

“Mereka sangat terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang seperti ini, dua rumah ibadah yang dihubungkan dengan sebuah tunnel, sebuah terowongan, Friendship Tunnel,” ujar Nasaruddin.

Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (tengah) berbincang dengan Putri Mahkota Swedia yang juga Duta Kehormatan UNDP, Victoria (kiri) saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Menurut Nasaruddin, keberadaan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdampingan menjadi salah satu hal yang membuat Victoria terkesan. Keduanya juga terhubung melalui Terowongan Silaturahmi yang dinilai mencerminkan toleransi di Indonesia.

“Datang ke Istiqlal dijemput oleh jemaah banyak, di sini (Katedral) masuk juga dijemput oleh jemaah sangat ramah juga banyak ya. Jadi ini simbol toleransi yang sangat luar biasa,” jelas dia.

Nasaruddin turut menjelaskan sejumlah hal yang menarik perhatian Victoria saat berada di Istiqlal. Di antaranya luas masjid yang dapat menampung hingga 250 ribu orang, kubah utama, serta bedug yang berada di dalam masjid.

“Dia melihat begitu luasnya ya kan, dan bisa menampung sampai 250 ribu orang. Kubah yang paling besar ya, dan pasti menarik juga karena arsiteknya adalah seorang Kristen, Silaban. Dan ada bedug yang paling besar juga sangat takjub melihat,” tutur Nasaruddin.

Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Nasaruddin untuk memperkenalkan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Menurut dia, keberadaan terowongan itu kini menjadi salah satu ikon tersendiri bagi Indonesia.

“Jadi ini semenjak dibangun tunnel ini ya banyak sekali tamu-tamu kenegaraan yang datang. Sebelum-sebelumnya itu jarang. Jadi betul-betul tunnel ini menjadi ikon tersendiri di Indonesia,” ungkap Nasaruddin.

Dalam kunjungan itu, Victoria juga melanjutkan perjalanan ke Gereja Katedral. Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo, mengatakan Victoria menunjukkan sikap terbuka dengan mengajak anak-anak yang berada di Katedral untuk berfoto.

Menag sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kiri) dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo (kanan) mendampingi Putri Mahkota Swedia Victoria mengisi buku tamu di Katedral, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

“Saya melihat Putri Mahkota itu mengajak foto anak-anak yang kebetulan ada di sini. Ini menarik sekali, artinya beliau tidak menjaga jarak terhadap siapa pun ya, sangat manusiawi, sangat gembira dengan anak-anak,” tutur Ignatius.

Kunjungan Victoria, kata Ignatius, tidak berhenti di Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Ia menyebut, Victoria akan mengunjungi sejumlah komunitas di Lombok untuk melihat langsung kehidupan masyarakat.

“Dan pada perjalanan tadi ke sini, saya mendengar bahwa beliau akan mengunjungi komunitas-komunitas di Lombok. Jadi tidak hanya bertemu dengan para pejabat, itu juga penting tentu saja, tetapi justru ingin tahu realitas yang sesungguhnya,” terang Ignatius.