Kemhan AS Rilis Kontrak Jet Tempur F-15 Dengan Boeing, Indonesia Masuk Skema FMS

Departemen Perang Amerika Serikat (AS) merilis kontrak dengan Boeing untuk program F-15 Eagle Crest. Kontrak itu berisi sebuah skema yang mencakup perawatan, peremajaan, sistem avionik, hingga produksi armada jet tempur andalan itu. Dilansir dari situs resmi Departemen, nilai kontrak ini mencapai USD 131,23 miliar atau Rp 2.000 triliun lebih.
Menariknya, dalam rilis tersebut, tercantum nama Indonesia yang masuk dalam skema Foreign Military Sales (FMS). Skema ini merupakan mekanisme pemerintah AS untuk memfasilitasi penjualan alutsista buatan AS kepada pemerintah negara lain. Dalam skema tersebut, pemerintah AS menjadi perantara dalam proses pengadaan, bukan transaksi komersial langsung antara Indonesia dan Boeing.
"Kontrak ini mencakup FMS ke Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, Indonesia dan Polandia," demikian keterangan Departemen Perang AS dalam pengumuman kontrak tersebut, Selasa (25/8).
Dari sejumlah negara yang disebut dalam dokumen, hanya Indonesia dan Polandia yang belum mengoperasikan jet tempur F-15. Namun, pencantuman Indonesia dalam daftar tersebut tidak secara otomatis berarti Indonesia telah membeli atau memesan jet tempur F-15 melalui kontrak ini.
Pekerjaan kontrak akan dilakukan di St. Louis, Missouri, dan diperkirakan selesai pada Agustus 2037. Periode pemesanan kontrak diperkirakan berakhir pada 24 Agustus 2031, dengan opsi perpanjangan hingga 24 Agustus 2036.
Kontrak tersebut juga mencakup pembangunan kemampuan pemeliharaan untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan sistem senjata F-15 Eagle. Pengadaan dilakukan melalui mekanisme pengadaan dari satu sumber.
Ketertarikan Indonesia dan F-15
Pada 2023, Prabowo Subianto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan sudah selangkah lebih dekat dalam proses akuisisi F-15.
Momen itu terjadi saat Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Marsekal Muda Yusuf Jauhari selaku Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI dan Mark Sears selaku Wakil Presiden Direktur dan Manajer Program Boeing Fighters, di fasilitas Boeing yang berlokasi di St. Louis, AS, pada Senin, 21 Agustus 2023.
Saat itu, Indonesia tertarik membeli varian F-15EX, versi paling canggih dari F-15 dan akan ditingkatkan jadi varian khusus F-15IDN.
"Dengan senang hati kami mengumumkan kesepakatan pengadaan pesawat tempur F-15EX yang penting bagi Indonesia," kata Prabowo.
"Pesawat tempur canggih ini akan melindungi dan mengamankan negara kami dengan kemampuan mutakhirnya," lanjutnya.
Boeing Promosi ke Indonesia
Pada 16 April 2025, Boeing menggelar konferensi pers di kantor perwakilan Indonesia, di Menara Astra, Jakarta Pusat. Saat itu Direktur Eksekutif Pengembangan Bisnis Pesawat Tempur Boeing Defense, Space & Security Robert Novotny menjelaskan langsung kapabilitas pesawat ini.
Katanya, pesawat mampu mencapai 20 ribu jam terbang, dan telah dikembangkan selama 40 tahun. Ketahanan inilah yang 'dijual' Boeing.
"Ini juga pesawat yang terus berkembang, dalam artian selama 40 tahun, kami telah mempelajari hal-hal yang kami sukai dan kami buat lebih baik, serta hal-hal yang tidak kami sukai dan kami perbaiki. Dan karena itu, sekarang diperkirakan umur pesawat bisa mencapai 20.000 jam terbang,” kata Novotny.
Novotny juga menjelaskan dari sisi ongkos. Katanya, biaya operasional jet tempur ini diklaim cukup 'terjangkau, yakni sekitar 29.000 dolar AS atau setara Rp487,8 juta per jam terbang.
Biaya tersebut sudah mencakup seluruh biaya perawatan dan pemeliharaan pesawat.
