Kemhan Sebut Peserta SPPI Tak Lagi Disiapkan Jadi Komcad, Fokus Manajerial

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Kementerian Pertahanan mengevaluasi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yang selama ini dilatih dengan pola militer sebagai bagian dari Komponen Cadangan (Komcad). Hasil evaluasi ini membuahkan keputusan, program SPPI tak lagi dapat pelatihan militer atau bagian Komcad.

Perubahan itu disampaikan Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto usai rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7). Revisi dilakukan sebagai bagian dari evaluasi penyelenggaraan SPPI setelah lima peserta meninggal dunia saat mengikuti pendidikan militer.

"Yang semula mereka juga akan menjadi Komponen Cadangan, kami sudah tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan bela negara yang sangat berbeda sekali dengan Komcad," kata Donny.

Menurutnya, perubahan tersebut membuat seluruh materi penggunaan senjata maupun taktik militer dihapus dari kurikulum SPPI.

"Intinya adalah tidak ada lagi pelajaran-pelajaran terkait dengan senjata ataupun taktik-taktik militer," ujarnya.

Sebagai gantinya, peserta akan memperoleh materi bela negara yang berfokus pada pembentukan karakter, seperti nasionalisme, patriotisme, disiplin, kepemimpinan, kerja sama, dan koordinasi.

"Jadi mereka hanya diberikan pelajaran terkait dengan nasionalisme, terkait dengan patriotisme, terkait dengan disiplin," kata Donny.

"Kita memberikan pelajaran kepada mereka terkait dengan kepemimpinan lapangan, bagaimana mereka nantinya memimpin koperasi tersebut," lanjutnya.

Peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berlatih PBB saat Pelatihan Dasar Kemiliteran calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Pangkas Waktu Pendidikan Bela Negara, Perpanjang Pelatihan Manajerial

Selain mengubah materi, Kemhan juga memangkas durasi pendidikan bela negara. Jika sebelumnya pelatihan dengan konsep Komcad berlangsung selama satu bulan, kini pendidikan bela negara hanya berlangsung selama dua minggu.

"Dari segi waktu juga berkurang. Yang tadinya Komponen Cadangan selama satu bulan, ini bela negara kami perpendek menjadi dua minggu. Kemudian sisanya yang satu bulan itu adalah untuk pendidikan dan pelatihan manajerial," kata Donny.

Ia menjelaskan materi manajerial akan disesuaikan dengan penugasan para peserta setelah lulus. Peserta yang diproyeksikan mengelola koperasi akan memperoleh modul dari Kementerian Koperasi, sedangkan peserta yang ditempatkan pada program kampung nelayan akan mendapatkan materi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Tergantung SPPI ini arahnya ke mana. Kalau yang ke koperasi, mereka akan lebih banyak diberikan materi modul-modul terkait dengan koperasi. Kalau yang kampung nelayan, mereka akan diberikan modul-modul terkait dengan kampung nelayan tersebut," jelas Donny.

"Tentunya yang memberikan materi adalah dari kementerian masing-masing. Dari Kementerian Koperasi sudah menyiapkan modul-modulnya. Demikian juga dari KKP sudah menyiapkan modul-modul pembelajaran," tambahnya.

Meski kurikulum berubah, lokasi pendidikan tidak berubah. Donny mengatakan peserta SPPI tetap akan menjalani pendidikan di 67 satuan pendidikan (Satdik) yang selama ini digunakan.

"Namun tempat pembelajaran, tempat pendidikan tetap di 67 Satdik tersebut. Cuma waktunya saja yang berubah," kata dia.