Langit Kalimantan Jadi Oranye Pekat di Tengah Karhutla, Apa Sebabnya?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal Jepang JS Kunisaki meninggalkan Mempawah menuju Ketapang, Kalbar, untuk membantu pemadaman karhutla, 20/9/2026. Foto: Dok Kemhan Jepang
zoom-in-whitePerbesar
Kapal Jepang JS Kunisaki meninggalkan Mempawah menuju Ketapang, Kalbar, untuk membantu pemadaman karhutla, 20/9/2026. Foto: Dok Kemhan Jepang

Langit di sejumlah wilayah Kalimantan tampak berwarna oranye pekat di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah di pulau itu. Salah satunya langit di Kalimantan Barat (Kalbar).

Pekatnya langit ini nampak foto yang dibagikan Kementerian Pertahanan Jepang, saat terjadi pergeseran JS Kunisaki dan helikopter Chinook mereka, dari Mempawah menuju Ketapang—sama-sama di Kalbar.

Armada militer Jepang ini berada di Kalbar untuk membantu Indonesia menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kapal Jepang JS Kunisaki pindah posisi dari Mempawah ke Ketapang, Kalbar, 20-21 September 2026, untuk membantu memadamkan karhutla. Foto: Dok Kemhan Jepang
Kapal Jepang JS Kunisaki pindah posisi dari Mempawah ke Ketapang, Kalbar, 20-21 September 2026, untuk membantu memadamkan karhutla. Foto: Dok Kemhan Jepang

Pergeseran Kunisaki yang juga membawa heli Chinook itu dilakukan lewat upacara pelepasan oleh personel TNI AL pada Minggu (20/9). Kapal angkut Kunisaki tiba di laut lepas pantai Ketapang keesokan harinya.

Dalam video yang diunggah Kemhan Jepang, tampak suasana oranye muram menyelimuti prosesi pindah posisi itu.

Suasana langit oranye, merah-oranye, dan kekuningan sebelumnya juga banyak dibagikan oleh warga Kalimantan di media sosial, untuk mengabarkan kondisi di sekitar mereka mereka akibat asap karhutla.

Penjelasan Ahli BRIN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena tersebut terjadi karena langit dipenuhi asap.

“Itu hal yang biasa ketika langit dipenuhi asap. Cahaya Matahari sesungguhnya campuran beragam warna yang tampak seperti warna pelangi, merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu,” kata Thomas, Selasa (22/9).

Pekerja mengendarai forklift melintas di area Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Jessica Helena Wuysang/ANTARA FOTO

Menurut dia, asap membuat warna dengan panjang gelombang pendek, seperti ungu, biru, hingga hijau, sulit menembus atmosfer. Akibatnya, warna dengan gelombang lebih panjang menjadi lebih dominan.

“Ketika langit dipenuhi asap, warna-warna dengan gelombang pendek (warna ungu, biru, sampai hijau) tidak bisa menembus asap. Jadi cahaya Matahari yang tersisa hanya warna kuning, jingga, dan merah,” ujarnya.

“Itulah yang dilihat warga di wilayah terdampak asap karhutla,” sambungnya.

Sebuah pemandangan dari drone menunjukkan sebuah tongkang yang ditarik di sepanjang Sungai Kapuas, diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan, di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, 15 September 2026. Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Lebih lanjut, Thomas menjelaskan fenomena ini disebut Mie Scattering yang merupakan proses penghamburan cahaya.

Mie scattering adalah hamburan gelombang pendek yang biasanya tampak pada langit sore ketika warna birunya sudah dihamburkan di wilayah yang dilalui cahaya. Hamburan cahaya biru itu yang menyebabkan langit biru, yang tersisa cahaya merah yang tampak di ufuk barat saat Matahari terbenam atau saat Matahari terbit,” ujarnya.

Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat hingga 22 September 2026, termasuk di Ketapang dan Kayong Utara. Asap tebal dilaporkan menghambat operasi water bombing karena jarak pandang terbatas.