Menkes Ungkap Alasan Banyak Orang Antivaksin: Takut Demam hingga Minim Literasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam jumpa pers usai Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 oleh BPS RI di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam jumpa pers usai Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 oleh BPS RI di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan masih adanya kelompok masyarakat yang menolak vaksin atau imunisasi di Indonesia.

Di antaranya adalah kekhawatiran terhadap efek samping seperti demam, hingga kurangnya pemahaman mengenai manfaat vaksin.

Budi menyebut, penolakan vaksin banyak dipengaruhi oleh orang tua yang melarang anaknya imunisasi karena takut terjadi efek samping.

“Kalau kita lihat dari survei, yang pertama orang tuanya yang melarang, ya. Melarangnya kenapa? Karena mereka takut ada dampak demam biasanya, atau sakit, atau demam,” ujar Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).

Selain itu, masih ada masyarakat yang menganggap imunisasi tidak penting karena tidak memahami manfaatnya secara utuh.

“Ada juga yang mereka bilang karena mereka tidak tahu manfaatnya apa. Mereka merasa ini tidak penting. Nah itu yang harus kita edukasi bersama,” katanya.

Ia menegaskan, efek demam ringan pasca imunisasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk menolak vaksin, karena manfaatnya jauh lebih besar dalam mencegah penyakit berbahaya.

“Kalau ada demam sedikit, saya ingat saya waktu kecil juga di imunisasi demam, tapi dampak positifnya melindungi dari penyakit-penyakit yang bisa mengakibatkan hilang nyawa itu jauh lebih positif dibandingkan kalau kita imunisasi kemudian kita demam,” jelasnya.

Terkait rendahnya literasi vaksin, Budi menilai hal itu juga dipengaruhi perubahan pola komunikasi di tengah masyarakat.

“Saya melihat ada pergeseran gaya komunikasi. Itu yang saya minta juga kepada para dokter-dokter ahli, teman-teman di Kemenkes, teman-teman di Dinas Kesehatan, cara komunikasi dengan masyarakat sekarang berbeda kan?” tuturnya.

Menurutnya, kelompok yang menyebarkan informasi negatif tentang vaksin justru lebih mudah diterima sebagian masyarakat.

“Sehingga ada kelompok-kelompok yang mensosialisasikan bagaimana jeleknya vaksin, itu lebih bisa diterima oleh masyarakat,” katanya.

Budi menekankan perlunya perubahan pendekatan komunikasi dari pemerintah dan tenaga kesehatan agar lebih dekat dengan masyarakat, seperti yang telah dilakukannya di media sosial.

“Itu sebabnya saya juga mulai juga kan, ‘Pak kalau ngomong jangan seperti itu’ Bikin itu yang ‘Budi Gemar Sharing’, rebus-rebusan, pasang bantal, mudah-mudahan berhasil apa nggak, oh ternyata berhasil. Jadi kita mesti mau ubah gaya komunikasi, gaya edukasi ke masyarakat kita,” ungkap dia.

Ilustrasi anak imunisasi. Foto: Shutter Stock

“Selain digital, stylenya ya. Stylenya, gayanya beda ya. Kalau dulu kan pakai presentasi, chat, foto. Sekarang kayaknya harus ngomong sendiri ya. Saya melihatnya, kalau orang yang ngomong sendiri, saya ngomong sendiri akan jauh lebih bisa diterima masyarakat, lebih menarik dibandingkan kayak press conference gitu, ada orang yang juru bicaranya, itu bukan cara komunikasi yang diterima masyarakat,” sambungnya.

Budi juga menyinggung strategi pemerintah dalam memperkuat cakupan imunisasi anak usia sekolah, termasuk integrasi dengan program pemeriksaan kesehatan gratis.

“Tadi ada kelompok-kelompoknya kan, kelompok bayi, kemudian bayi itu di bawah 1 tahun, bayi di bawah 2 tahun, bayi di bawah 5 tahun, dan anak sekolah,” katanya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan imunisasi anak sekolah akan dimulai pada Agustus dan akan diintegrasikan dengan program pemeriksaan kesehatan gratis agar lebih efisien.

“Untuk yang anak sekolah, memang nanti Agustus baru akan mulai. Dan kalau kita lihat datanya 2025 turun dari 2024, karena ada apa, sedikit konflik resources dengan cek kesehatan gratis,” jelas Budi.

“Jadi kita belajar di situ, kita akan kombinasikan antara cek kesehatan gratis dengan imunisasi sekolah. Itu yang pertama ya, supaya dilakukannya sekali saja, sekali datang, orangnya sama, kita lakukan cek kesehatan gratis dan imunisasi,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program imunisasi kejar untuk memastikan cakupan vaksinasi anak tetap optimal.

“Yang kedua, kita bikin beberapa program kejar gitu. Jadi bulan imunisasi anak sekolah yang tadinya dibikinnya pas tahun ajaran baru, kita bikin beberapa kali. Kalau nggak salah ada tiga kali jadinya ya, dua bias ditambah yang satu yang pas masuk sekolah,” jelasnya.

Budi kembali menegaskan pentingnya imunisasi dalam mencegah penyakit menular yang berpotensi fatal pada anak.

“Imunisasi itu penting untuk menyehatkan dan menyelamatkan nyawa anak-anak kita. Jadi kenapa saya di sini benar-benar mengimbau seluruh masyarakat terutama orang tua agar mengirimkan anaknya imunisasi,” tutur Budi.

“Banyak sekali contoh kemarin polio outbreak, campak, anak-anak yang wafat, itu bisa kita hindari dengan imunisasi. Jadi mohon ini disebarluaskan sehingga berita-berita hoaks yang bilang bahwa imunisasi itu tidak penting, imunisasi itu gimana, itu bisa kita (antisipasi),” pungkasnya.