Ratko Mladic, si Jagal Bosnia Meninggal Dunia di Den Haag

Bekas Panglima Angkatan Bersenjata Serbia Bosnia Ratko Mladic, yang divonis bersalah atas genosida dan kejahatan perang terkait pembantaian Srebrenica pada 1995, meninggal dunia di rumah sakit pada Kamis (27/8) waktu Den Haag, Belanda.
Mladic, adalah pelaku genosida paling mengerikan sejak Perang Dunia 2 berakhir. Ia juga dijuluki Jagal Bosnia atas aksi pembantaian pria dan anak laki-laki Muslim di Srebrenica, saat perang Bosnia, 1992-19945.
Dilansir AFP, kabar tersebut disampaikan pengadilan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mladic diketahui mengalami beberapa kali stroke dalam beberapa bulan terakhir. Ia tengah menjalani hukuman penjara seumur hidup di Den Haag.
Mladic divonis atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan atas perannya dalam pembantaian Srebrenica. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pembantaian paling mengerikan di Eropa setelah Perang Dunia II.
Karena perannya dalam perang Bosnia 1992-1995, media menjuluki Mladic sebagai "Butcher of Bosnia" atau Jagal Bosnia. Perang tersebut menewaskan sekitar 100 ribu orang dan menyebabkan 2,2 juta warga mengungsi.
Mladic merupakan salah satu dari tiga tokoh utama Serbia Bosnia dalam perang tersebut. Di sisi politik, perang dipimpin mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan mantan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic.
Keluarga Mladic dan sejumlah pejabat Serbia sebelumnya meminta agar ia dibebaskan karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Namun, permintaan tersebut ditolak pengadilan di Den Haag.
Perwakilan asosiasi Mothers of Srebrenica, Sehida Abdurahmanovic, mengatakan kematian Mladic tidak akan menghapus kejahatan yang melekat pada namanya.
"Nama itu akan selalu melambangkan genosida. Itu tidak akan pernah terhapus dari namanya," kata Abdurahmanovic kepada AFP. Ia meyakini saudaranya yang hilang termasuk di antara korban pembantaian Srebrenica.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga mereka.
"Saya berdiri dalam solidaritas dengan para korban, penyintas, dan keluarga mereka yang menderita akibat kejahatan yang membuat Tuan Mladic dinyatakan bersalah," ujar juru bicara Guterres kepada wartawan.
Pembantaian Srebrenica
Pembantaian Srebrenica menjadi salah satu kekejaman paling terkenal dalam perang Bosnia. Pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Mladic mengeksekusi sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia yang mencari perlindungan di Srebrenica.
Wilayah tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai zona aman yang dilindungi PBB. Namun, pasukan Serbia Bosnia tetap menyerbu wilayah itu.
Jenazah para korban kemudian dibuang ke sejumlah kuburan massal. Sebagian kuburan bahkan kembali dibongkar dan jenazahnya dipindahkan untuk menyembunyikan bukti pembantaian.
Para penyintas yang berhasil melarikan diri menceritakan pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan yang dilakukan pasukan Serbia Bosnia.
Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) mendakwa Mladic pada November 1995. Ia telah diberhentikan dari jabatannya, tetapi berhasil menghindari penangkapan selama 16 tahun.
Setelah Milosevic kehilangan kekuasaan pada 2000, tekanan terhadap Mladic meningkat. Ia akhirnya ditangkap pada Mei 2011 dan dibawa ke Den Haag.
Mladic dinyatakan bersalah pada 2017. Hukuman penjara seumur hidup terhadapnya kemudian dikuatkan dalam proses banding pada 2021.
Reaksi Berbeda di Bosnia
Kabar kematian Mladic mendapat reaksi berbeda di berbagai wilayah Bosnia.
Di Sarajevo, Hava Suljic menyambut kabar tersebut. Ia merupakan warga Muslim Bosnia asal Srebrenica.
"Saya senang mengetahui bahwa ada satu penjahat perang lebih sedikit yang berjalan-jalan di dunia ini," kata Suljic kepada AFP.
Namun, reaksi berbeda muncul di wilayah Republika Srpska yang didominasi warga Serbia Bosnia.
Mantan pemimpin Serbia Bosnia Milorad Dodik mengatakan kematian Mladic "sangat memukul". Ia juga menyatakan Republika Srpska tidak akan melupakan peran Mladic.
Sejumlah warga di Banja Luka, ibu kota Republika Srpska, bahkan menyebut Mladic sebagai sosok terbesar.
"Orang terbesar telah meninggal, jenderal terbesar dari rakyat Serbia," kata seorang pensiunan bernama Dragan Beric kepada AFP.
Sementara itu, Rusia mengkritik ICTY yang menjatuhkan hukuman terhadap Mladic. Pemerintah Rusia menilai pengadilan tersebut mengabaikan prinsip ketidakberpihakan dan perlakuan yang adil terhadap narapidana karena alasan politik.
Mladic dan Wujud Kejahatan
Selain pembantaian Srebrenica, Mladic dinyatakan bersalah mengatur kampanye pembersihan etnis yang lebih luas. Tujuannya untuk mengusir warga Muslim dan Bosnia dari sejumlah wilayah guna membentuk apa yang disebut sebagai Serbia Raya.
ICTY sebelumnya menyatakan kejahatan yang dilakukan dalam konflik tersebut termasuk "di antara kejahatan paling keji yang pernah diketahui umat manusia".
Mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad al-Hussein bahkan menyebut Mladic sebagai "wujud kejahatan".
Meski demikian, sejumlah warga Serbia hingga kini masih menganggap Mladic sebagai pahlawan. Ia sendiri pernah menggambarkan dirinya sebagai "orang sederhana" yang dipercaya takdir untuk melindungi rakyatnya.
Usia Mladic juga sempat menjadi perdebatan. Ia mengaku lahir pada Maret 1943, sedangkan pengadilan mencatat tahun kelahirannya sebagai 1942. Media lokal Serbia secara luas melaporkan Mladic meninggal dunia pada usia 84 tahun.
