TNI Temukan Black Box MI-17 yang Jatuh Saat Misi Pemadaman Karhutla di Seruyan

TNI berhasil menemukan dan mengevakuasi Flight Data Recorder (FDR) atau perekam data penerbangan helikopter MI-17V5 HA-5235 yang jatuh di perairan Kuala Pembuang, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Temuan ini diharapkan membantu mengungkap penyebab kecelakaan helikopter tersebut.
Selain FDR, tim gabungan juga mengevakuasi bagian ekor helikopter. Operasi pencarian dan evakuasi dilakukan pada Sabtu (7/11), dengan melibatkan penyelam TNI AL, personel Penerbad, Polairud, dan Basarnas.
Informasi tersebut disampaikan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) melalui akun Instagram resminya, @puspentni, Sabtu (7/11). Operasi evakuasi dipimpin Kasi Ops Rem 102/Pjg selaku ketua tim.
Dalam keterangannya, Puspen TNI menjelaskan proses pencarian dilakukan melalui penyelaman. Operasi diawali dengan persiapan peralatan dan briefing teknis untuk memastikan seluruh tahapan berjalan aman sesuai prosedur.
"Setelah berhasil dievakuasi, FDR selanjutnya diserahkan kepada Tim Investigasi Puspenerbad untuk mendukung proses penyelidikan lebih lanjut terkait kecelakaan helikopter tersebut," tulis Puspen TNI.
Puspen TNI juga menyebut temuan tersebut diharapkan dapat membantu proses investigasi dalam mengungkap penyebab kecelakaan.
"Temuan ini diharapkan dapat membantu proses investigasi dalam mengungkap penyebab kecelakaan," ucap Puspen TNI.
Kecelakaan MI-17V5 HA-5235 sebelumnya terjadi pada Rabu (4/11/2026), saat helikopter tersebut menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Helikopter yang lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB itu membawa delapan personel. Dalam pelaksanaan misi, helikopter dilaporkan mengalami kendala saat melakukan pengambilan air (water scooping) sekitar pukul 11.18 WIB.
Peristiwa tersebut mengakibatkan tiga prajurit TNI gugur, sementara lima personel lainnya berhasil selamat.
Penemuan FDR menjadi salah satu bagian penting dalam proses penyelidikan kecelakaan. Perangkat tersebut merekam data penerbangan yang dapat digunakan tim investigasi untuk merekonstruksi kondisi dan parameter penerbangan sebelum helikopter mengalami kecelakaan.
Puspen TNI menyatakan keberhasilan operasi evakuasi mencerminkan sinergi antarlembaga dalam penanganan kecelakaan. TNI juga menjadikan setiap pelaksanaan tugas sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit.
TNI menegaskan komitmennya untuk melakukan perbaikan berkelanjutan serta memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai tantangan tugas ke depan.
