Viral Sport Massage di GBK Diduga Lakukan Pelecehan Seksual ke Sejumlah Perempuan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelecehan seksual.  Foto: Fatah Afrial/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelecehan seksual. Foto: Fatah Afrial/kumparan

Seorang terapis sport massage diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah perempuan saat memberikan layanan pijat olahraga. Dugaan tersebut mencuat setelah salah satu korban membagikan pengalaman yang dialaminya melalui media sosial Threads.

Dalam unggahan nya di Threads, korban mengaku mengalami pelecehan seksual ketika menjalani sesi sport massage di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Minggu (18/10).

Saat dikonfirmasi kumparan terkait kasus ini, korban menceritakan awalnya membuat janji dengan terapis tersebut untuk menjalani sport massage karena mengalami keluhan pada bagian kaki dan punggung. Keduanya kemudian bertemu sekitar pukul 12.00 WIB di GBK.

Sebelum kejadian, korban mengaku tidak memiliki kecurigaan terhadap terapis tersebut. Ia mengetahui jasa pelaku dari rekomendasi seorang temannya yang juga perempuan.

Korban kemudian melihat akun Instagram terapis tersebut dan menemukan banyak perempuan menjadi kliennya. Sejumlah klien itu juga dikenal di komunitas lari Jakarta hingga tingkat nasional.

Kondisi tersebut membuat korban merasa percaya untuk menggunakan jasa terapis tersebut.

"Kalau awal tau pelaku ini dari teman. Teman rekomendasikan dia ke saya. Teman saya ini perempuan, dan waktu saya lihat di Instagram, klien pelaku ini ada banyak perempuan dan orang-orang yang well known di-running scene di Jakarta atau nationwide. Jadi saya merasa percaya tidak akan ada yang aneh-aneh," kata korban kepada kumparan, Jumat (6/11).

Namun, saat sesi pemijatan berlangsung, korban mulai merasa janggal ketika diminta melepas kaitan bra. Terlebih, sesi terapi dilakukan di area terbuka atau outdoor di kawasan GBK.

"Saya merasa janggal saat diminta melepas kaitan bra, terlebih treatment dilakukan di area publik (outdoor)," jelasnya.

Kecurigaan korban semakin muncul ketika terapis mulai memijat bagian punggung dan pundaknya. Menurut pengakuannya, tangan terapis kemudian berlanjut ke bagian dada dan meraba sisi payudaranya dari atas ke bawah selama beberapa kali.

"Saat memijat punggung dan pundak, tangannya berlanjut ke dada dan meraba sisi payudara saya dari atas ke bawah selama beberapa repetisi," jelasnya.

"Meski tidak nyaman, saya mengikuti arahannya karena menganggap dia lebih expert," lanjutnya.

Suasana keseruan kegiatan fun run yang diadakan oleh Komunitas lari kumparan Running Club di kawasan Car Free Day (CFD) Gelora Bung Karno (GBK), Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (26/4/2026) pagi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ia mengaku tidak memahami alasan terapis memijat bagian dada, sementara keluhan yang disampaikannya sejak awal berada di bagian punggung dan kaki.

Meski merasa tidak nyaman, korban mengaku tetap mengikuti arahan terapis karena menganggap orang tersebut lebih memahami teknik pemijatan.

Setelah sesi pemijatan selesai, terapis tersebut kembali menyampaikan permintaan maaf. Namun, ia mengaku saat itu sudah tidak fokus dan hanya ingin segera meninggalkan lokasi.

Korban mengatakan akhirnya memutuskan menceritakan pengalaman tersebut ke publik setelah mendengar adanya perempuan lain yang diduga mengalami kejadian serupa.

"Aku mendengar ada korban lain. Aku jadi yakin kalau korbannya nggak cuma satu atau dua orang," ujarnya.

Ilustrasi lari. Foto: ChrisVanLennepPhoto/Shutterstock

Ia juga mengungkapkan terapis tersebut telah menyampaikan permintaan maaf. Meski demikian, ia menilai permintaan maaf itu tidak menunjukkan kesungguhan dan terkesan generik.

"Aku kecewa karena permintaan maaf dia terlihat tidak sincere dan terkesan generik, seolah-olah ini adalah hal yang remeh," kata dia.

Dalam unggahannya, korban turut mengingatkan para pelari, khususnya perempuan, agar lebih berhati-hati dalam memilih pelatih maupun tenaga profesional yang memberikan layanan terkait olahraga dan pemulihan tubuh, termasuk terapis sport massage.

Ia juga menegaskan bahwa layanan sport massage yang dimaksud berbeda dengan fisioterapi.

"Ini bukan fisio ya. Ini sport massage. Ini berbeda dengan fisio," tegasnya.