Konten dari Pengguna

Sentinel di Gerbang Barat: Menjaga Energi Dunia dari Selat Malaka

Andreas Halomoan Silalahi

Andreas Halomoan Silalahi

Activist - Founder Lembaga Kajian Indonesia Digdaya. Share a common interest in Geopolitics and Enviromental Issue.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andreas Halomoan Silalahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapal Tanker di Selat Malaka. Foto: apiguide/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kapal Tanker di Selat Malaka. Foto: apiguide/Shutterstock

Bayangkan, ada sebuah jalur air yang sempit, yang menentukan hidup matinya lampu-lampu di Tokyo, pabrik-pabrik di Shanghai, hingga kendaraan di Seoul. Jalur air itu terletak di halaman rumah kita, Selat Malaka dalam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Tempat mengalirnya 40% perdagangan minyak global dan 80% pasokan energi untuk Asia Timur.

Saat ini, ketika Timur Tengah membara akibat ketegangan di Selat Hormuz yang mengancam 20% pasokan minyak dunia, mata internasional mulai berpaling ke arah timur, ke perairan kita. Indonesia bukan sekadar penonton dalam gejolak ini. Kita adalah pemegang kunci gerbang energi alternatif dunia. Namun, kunci tersebut hanya akan berarti jika kita memiliki penjaga yang tangguh.

Di pesisir Belawan, Sumatera Utara, perubahan besar telah terjadi. Pada Agustus 2025, sebuah transformasi fundamental dilakukan melalui Peraturan Kasal Nomor 18 Tahun 2018: Lantamal I resmi bersalin rupa menjadi Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I). Ini bukan sekadar urusan estetika atau pergantian papan nama di depan gerbang markas. Transformasi ini adalah pernyataan sikap.

Menaikkan pangkat pemegang Komando menjadi Laksamana Muda (bintang dua) menandakan bahwa Kodaeral I kini memegang otoritas organisatorik yang setara dengan kompleksitas ancaman modern. Di pundak komando regional inilah, tanggung jawab menjaga 2 juta kilometer persegi perairan yurisdiksi nasional diletakkan. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga Sabang sebagai ujung barat negeri, hingga mengamankan Dumai yang menjadi pusat industri minyak nasional.

Seorang petugas melakukan kontrol di Kilang Pertamina Internasional Unit Dumai, Kota Dumai, Riau. Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Kehadiran Kodaeral I adalah manifestasi dari visi Presiden Prabowo Subianto yang dilantik pada Oktober 2024. Dalam doktrin "Perisai Trisula Nusantara", pertahanan maritim tidak lagi dipandang sebagai pengeluaran, tetapi sebagai investasi strategis senilai 125 miliar dolar AS untuk memastikan Indonesia memiliki kekuatan yang kredibel dan disegani. Sebagaimana ditekankan oleh pengamat pertahanan, Iwan Septiawan, ini adalah perubahan fundamental yang mengintegrasikan seluruh dimensi pertahanan kita.

Namun, bercerita tentang kejayaan laut kita juga berarti harus berani menatap luka yang belum kering. Meski kita memiliki cadangan minyak bumi sebesar 3,6 miliar barel dan gas alam 96,9 triliun kaki kubik, celah keamanan di halaman rumah sendiri masih menganga. Riset dari Satyawan Pudyatmoko mengungkapkan fakta pahit: setiap tahunnya, wilayah barat Indonesia kehilangan hingga Rp3,5 triliun akibat praktik illegal fishing.

Dengan melihat potensi yang ada saat ini, transformasi kekuatan laut sangat dibutuhkan, salah satunya dengan memperkuat Lanal Sabang yang kini sudah tidak tepat hanya difungsikan sebatas pos pantau, tetapi juga sudah harus ditransformasikan menjadi sebuah pangkalan—yang dapat menampung kapal kelas destroyer dengan fasilitas pemeliharaan yang lengkap.

Selain itu, alih-alih hanya mengandalkan patroli fisik yang mahal secara bahan bakar, Indonesia harus memperbanyak "mata" digital melalui pengadaan radar pantai dan pesawat tanpa awak (UAV) maritim untuk meningkatkan Maritime Domain Awareness (MDA). Dengan teknologi, satu operator bisa mengawasi area yang sebelumnya membutuhkan sepuluh kapal patroli.

Kapal Patroli Bakamla RI Kapal Negara (KN) Gajah Laut-404 yang dikomandani oleh Letkol Bakamla Agus Tri Haryanto, S.T., M.T., mengamankan kapal MV Lakas yang dicurigai membawa barang ilegal di perairan Gorontalo, Jumat (16/08/2024). Foto: Humas Bakamla RI

Namun, celah ini bukan hanya soal kurangnya armada yang terjadi—hal yang krusial juga ada terletak pada kerumitan birokrasi di atas air. Penelitian Kolonel Laut (P) Dr. Surya Darma mencatat bahwa 68% personel pengaman ALKI sering kali "terjebak" dalam kebingungan koordinasi antarinstansi karena perbedaan prosedur. Di tengah krisis energi global yang membutuhkan respons cepat, tumpang tindih kewenangan antara TNI AL, Bakamla, dan KKP bisa berakibat fatal jika tidak segera disinkronkan melalui mandat koordinasi yang lebih kuat.

Pemerintah harus segera merumuskan mandat koordinasi yang lebih kuat dan tunggal. Kodaeral I perlu diberikan wewenang penuh sebagai dirigen operasional di wilayahnya. Kita tidak bisa lagi membiarkan kapal pencuri ikan melenggang hanya karena satu instansi menunggu izin dari instansi lainnya. Penyatuan sistem Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) adalah harga mati agar deteksi ancaman bisa direspons secara real-time oleh unit mana pun yang terdekat.

Selain itu, segala kemajuan alutsista—mulai dari kerja sama transfer teknologi kapal perang dengan Turki, pengadaan kapal induk dari Italia, hingga kontrak kapal selam dengan Prancis—hanya akan menjadi benda mati tanpa dukungan jiwa dari pemiliknya. Di sinilah letak tantangan terbesar kita: membangun maritime consciousness atau kesadaran samudera di kalangan rakyat sendiri.

Data dari Survei Nasional Pemuda Indonesia 2024 menunjukkan kenyataan yang ironis: hanya 32% pemuda kita yang memahami konsep poros maritim dunia. Mayoritas dari mereka mencintai laut hanya sebagai objek foto pariwisata, tanpa menyadari bahwa di bawah gelombangnya tersimpan kunci geostrategis yang menentukan martabat bangsa.

Ilustrasi laut. Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Kita membutuhkan pendekatan whole of nation atau gotong royong nasional. Contoh sederhananya adalah kolaborasi dengan komunitas nelayan di 14 desa pesisir wilayah Kodaeral I. Penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat lokal dalam menjaga ekosistem laut mampu meningkatkan efektivitas pengamanan hingga 45%.

Di saat mata dunia tertuju pada kobaran api di Timur Tengah, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk muncul sebagai aktor maritim yang bermartabat.

Kita tidak boleh lagi hanya menjadi "penonton" di jalur perdagangan yang melintasi halaman rumah kita sendiri. Kodaeral I layaknya adalah sang sentinel—penjaga gerbang yang tidak pernah tidur. Dengan penguatan maritim yang kokoh , kita sedang mengatakan kepada dunia, "Jalur energi Anda aman di tangan kami."

Karena pada akhirnya, kedaulatan bukan sekadar soal siapa yang memiliki kapal paling besar, melainkan juga soal siapa yang memiliki keberanian untuk memastikan bahwa setiap tetes air di wilayahnya adalah ruang bagi kemandirian dan martabat bangsa. Laut adalah masa depan Indonesia, dan masa depan itu harus kita jaga bersama melalui persatuan nasional yang kokoh.