Konten dari Pengguna

Dunia yang Terlipat dan Makna yang Tersayat

Dr Andree Armilis

Dr Andree Armilis

Sosiolog dan Analis Stratejik

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Andree Armilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dahulu kala, Nabi Muhammad SAW pernah memberi isyarat tentang datangnya sebuah zaman, ketika pengalaman manusia terhadap waktu mengalami perubahan yang drastis. Beliau bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat hingga waktu menjadi berdekatan; setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Ilustrasi manusia yang kebingungan di tengah kemajuan, -AI generated.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manusia yang kebingungan di tengah kemajuan, -AI generated.

Nyatanya, di kehidupan modern memang bukan hanya dunia yang berubah, tetapi cara manusia mengalami dan memaknai dunia itu sendiri mengalami distorsi. Kita hidup dalam percepatan yang belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Tapi justru di tengah percepatan itu, makna mengalami penyusutan. Waktu terasa semakin sempit, ruang semakin dekat, informasi semakin melimpah, tetapi manusia justru semakin jauh dari kedalaman pemahaman. Apa yang dahulu diisyaratkan sebagai tanda zaman, kini sudah menjelma menjadi realitas eksistensial yang saban hari kita rasakan.

Maka konsep “dunia yang dilipat” yang diusung diantaranya oleh Yasraf Amir Piliang sejak lebih dua dekade lalu menemukan relevansinya. Pelipatan dunia bukan sekadar metafora, melainkan diagnosis atas transformasi radikal dalam struktur pengalaman manusia. Dunia tidak lagi dihayati sebagai ruang yang terbentang dan waktu yang mengalir, tetapi sebagai sesuatu yang dipadatkan, diringkas, dan disimulasikan.

Apa yang terjadi saat Ini bukan sebatas efisiensi, melainkan reduksi. Reduksi atas ruang, waktu, bahasa, relasi, bahkan kesadaran.

Pelipatan ruang dan waktu yang difasilitasi teknologi telah menghapus jarak sebagai pengalaman eksistensial. Namun penghapusan jarak ini tidak otomatis melahirkan kedekatan. Ia justru menukar relasi yang utuh dengan konektivitas yang dangkal. Pertemuan fisik yang sarat makna digantikan oleh kehadiran digital yang serba instan. Dalam situasi demikian, manusia kehilangan pengalaman keberjarakan yang justru menjadi syarat lahirnya neragam makna: rindu, sabar, penantian, dan perjumpaan yang otentik.

Pelipatan waktu membawa implikasi yang lebih subtil tetapi mendasar. Bila waktu dipercepat, maka ruang refleksi dipersempit. Aktivitas manusia menjadi padat, tetapi kesadaran menjadi dangkal. Tindakan dilakukan dalam jumlah yang lebih banyak, tetapi dengan kualitas penghayatan yang semakin menurun. Terjadilah inflasi aktivitas dan deflasi makna. Manusia terus sibuk, senantiasa bergerak, tetapi tidak sempat untuk benar-benar merenungi dan memahami apa yang mereka lakukan.

Bahasa sebagai medium kebudayaan pun mengalami pemadatan. Kata-kata dipersingkat, makna dikompresi, ekspresi diringkas. Lihatlah bahasa kita di media sosial hari ini, ringkas, laju dan sering tak tentu. Memang pemadatan membawa konsekuensi meningkatnya ambiguitas. Bahasa tidak lagi menjadi sarana artikulasi kebenaran, melainkan sering kali menjadi instrumen permainan tanda. Ia tidak lagi menunjuk realitas, tetapi menciptakan ilusi tentang realitas.

Fenomena ini menemukan penjelasan radikal dalam pemikiran Jean Baudrillard tentang simulakra. Dalam masyarakat kontemporer, tanda-tanda tidak lagi merepresentasikan realitas, melainkan menggantikannya. Manusia hidup dalam hiperrealitas, di mana batas antara yang nyata dan yang semu menjadi kabur. Yang dikonsumsi bukan lagi realitas, tetapi citra dari realitas tersebut. Dalam kondisi tersebut, kesadaran manusia kehilangan pijakan ontologis untuk membedakan antara yang hakiki dan yang artifisial.

Kondisi ini merembet ke ranah etis dan spiritual. Ketika realitas digantikan oleh simulasi, nilai-nilai pun mengalami relativisasi. Kebenaran tidak lagi diukur dari kesesuaiannya dengan kenyataan ataupun wahyu, tetapi dari daya tarik citra dan daya sebar informasi. Dalam konteks ini, spiritualitas rentan direduksi menjadi simbol dan gaya hidup. Keberagamaan tampil sebagai identitas visual, bukan sebagai kesadaran batin. Yang hadir adalah estetika religius, bukan etika religius.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk keterasingan manusia dari fitrahnya. Fitrah adalah orientasi dasar manusia kepada kebenaran yang transenden. Ketika manusia larut dalam dunia yang dilipat —dunia yang penuh simulasi, percepatan, dan citra— orientasi ini menjadi kabur. Manusia tidak lagi hidup berdasarkan kesadaran tujuan, tetapi berdasarkan dorongan instan yang dibentuk oleh lingkungan simbolik di sekitarnya.

Implikasinya terhadap kebudayaan pun sangat mendasar. Kebudayaan, yang semestinya merupakan ekspresi nilai dan makna, bergeser menjadi sistem tanda dan konsumsi. Apa yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai "budaya massa" menjadi dominan. Dalam budaya massa, manusia tidak lagi menjadi subjek yang mencipta makna, tetapi objek yang mengonsumsi makna. Ia tidak lagi menafsirkan dunia, tetapi ditafsirkan oleh sistem simbol yang mengitarinya.

Dalam konteks Indonesia, kondisi ini melahirkan kegamangan identitas. Arus globalisasi membawa nilai dan simbol secara masif, sementara fondasi nilai lokal tidak cukup kuat untuk menyaringnya. Kebudayaan kehilangan pusat gravitasinya. Ia tidak lagi berakar pada sistem nilai yang kokoh, tetapi mengambang dalam arus simbol global yang terus berubah.

Karena itu, rekonstruksi kebudayaan tidak bisa berhenti pada permukaan. Ia tidak cukup dilakukan melalui pelestarian simbol atau penguatan identitas formal. Yang dibutuhkan adalah rekonstruksi pada level kesadaran: bagaimana manusia memahami realitas secara benar, dan bagaimana ia menata ulang orientasi hidupnya berdasarkan kebenaran yang diyakini.

Manusia perlu merebut kembali ruang refleksi yang telah direduksi oleh percepatan. Ia perlu mengembalikan bahasa pada fungsi aslinya sebagai sarana pemaknaan. Ia juga perlu menghidupkan kembali spiritualitas sebagai pengalaman batin yang otentik, bukan sekadar atribut sosial.

Dunia mungkin akan terus dilipat dan terlipat. Itu adalah keniscayaan sejarah. Namun manusia tidak harus ikut tergulung dalam situasi kehilangan makna. Kita masih memiliki kemungkinan untuk menjaga kedalaman di tengah percepatan, menjaga kebenaran di tengah simulasi, dan menjaga orientasi di tengah kekacauan simbolik.

Yang jelas kita perlu mawas diri, bahwa pesoalan utama kemanusiaan hari ini bukanlah perubahan dunia, melainkan keutuhan manusia itu sendiri.

Wallāhu a‘lam.

***