Kebangkitan Bukan Seremoni: Mencari Makna 20 Mei di Tengah Indonesia yang Letih

Sosiolog dan Analis Stratejik
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dr Andree Armilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap 20 Mei, kita kembali mematri jargon “Kebangkitan Nasional” sembari mengenang lahirnya Boedi Oetomo, yang menandai tumbuhnya kesadaran kolektif bangsa Indonesia terhadap identitas, kemerdekaan, dan harga diri. Namun satu abad lebih telah berlalu, dan pertanyaan penting muncul: apa yang sebenarnya harus dibangkitkan hari ini?
Kebangkitan sejatinya adalah soal keberanian menata ulang arah bangsa. Sayangnya, realitas sosial kita hari ini justru menunjukkan sebaliknya: ketimpangan melebar, kepercayaan publik menyusut, dan konflik sosial meruncing.
Apa yang dulu lahir sebagai kesadaran atas penjajahan fisik, kini harus menjelma menjadi kesadaran atas penjajahan struktural dan ketimpangan yang membusuk dari dalam.
Saat kekayaan nasional terpusat pada segelintir orang, jutaan warga harus bertahan hidup di tengah tekanan harga, pendidikan yang timpang, dan layanan kesehatan yang tidak setara. Ada yang sekali makan malam keluarga bertarif lima puluh juta, ada keluarga yang bingung besok pagi mesti makan apa. ada yang bebas menikmati fasilitas medi kelas satu, ada paeien miskin yang meninggal di instalasi rawat darurat karena tak ditangani dan terlalu lama menunggu. Sementara itu, selebriti, oknum pejabat, atau artis cum pejabat -berikut keluarga dan handai taulannya- terus-menerus flexing tanpa empati. Api kemiskinan terus saja disirami minyak kesedihan dan rasa iri.
Di sisi lain, wajah negara tampak lelah dan kehilangan empati. Pejabat publik sibuk menata pencitraan, bukan keadilan. Kita menyaksikan bagaimana publik lebih percaya pada media sosial ketimbang institusi resmi. Bukan karena rakyat bodoh, tapi karena negara kerap tak hadir saat dibutuhkan.
Dalam masyarakat yang lelah, konflik horizontal mudah dipantik. Di berbagai daerah, lahan jadi sumber sengketa antara rakyat dan korporasi; sentimen SARA kembali dipolitisasi; dan di media sosial, algoritma memperuncing polarisasi. Kebangsaan kita retak, perlahan tapi nyata.
Di level global, geopolitik dunia sedang memasuki era ketidakpastian. Krisis pangan dan energi, dominasi kekuatan besar, serta kerusakan iklim memaksa negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk waspada. Tapi bagaimana mungkin kita bisa memainkan peran strategis, jika di dalam rumah sendiri kita sibuk menambal atap yang bocor dan lantai yang lapuk?
Namun, harapan belum mati. Kebangkitan sejati justru lahir di masa-masa sulit. Di banyak sudut negeri, komunitas-komunitas kecil mulai menyalakan lilin. Generasi muda yang muak dengan basa-basi elite mulai membangun inisiatif: koperasi digital, gerakan lingkungan, pendidikan berbasis komunitas, hingga advokasi akar rumput. mereka tidak menunggu negara turun tangan, melainkan turun secara mandiri dengan segala keterbatasan.
Bangkit itu bukan tentang nostalgia sejarah, tapi tentang keberanian untuk memperbaiki arah. Jika negara berani jujur menata ulang prioritasnya—meletakkan keadilan sosial, kedaulatan rakyat, dan etika publik di depan segalanya—maka 20 Mei bisa kembali punya arti.
Karena kebangkitan bukan semata ritual tahunan. Ia adalah sikap. Ia adalah pendirian yang mengarahkan tindakan.
Dan bangsa ini terlalu besar untuk terus dikerdilkan oleh kepentingan sempit, narasi remeh-temeh dan sikap palsu yang menipu.
***
