Keyboard Warrior, Budaya yang Memperlihatkan Keganasan Netizen Indonesia

merupakan mahasiswa aktif Teknologi Informasi UIN Walisongo
Tulisan dari Andri Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara kalian yang sering aktif sosial media pasti sudah tak asing bagaimana ke-bar-bar-an netizen Indonesia khususnya saat terjadi kasus viral. Kalian akan sangat mudah menemukan komentar pedas baik berupa cacian, makian, penghinaan, pelecehan, dan sejenisnya dari netizen yang kadang bikin kalian jengkel sendiri.
Orang-orang yang melakukan ini biasa disebut keyboard warrior. Keyboard warrior sendiri bisa dibilang "pejuang dunia maya" yaitu seseorang yang membuat postingan/komentar kasar maupun agresif di internet.
Biasanya, para netizen akan menyasar akun sosial media dari "pelaku" dan membanjiri kolom komentar akun sosial media tersebut. Alasannya pun beraneka ragam, ada yang karena emosi atas tindakan "pelaku", opini yang tidak sependapat, dan sebagainya.
Contohnya saat kasus yang melibatkan pecatur internasional GothamChess dengan seorang dari Indonesia, DewaKipas (Dadang Subur) pada Maret 2021 lalu. Saat itu, anak dari DewaKipas mengungkapkan jika GothamChess menuduh akun dari DewaKipas melakukan kecurangan yang berimbas akun DewaKipas terkena banned. Hal ini pun menyulut emosi para netizen, ribuan tweet langsung membanjiri akun Twitter milik GothamChess hingga dia harus membatasi akun Twitter dan YouTube miliknya.
Hal ini diperkuat hasil riset dari Microsoft yang menyebutkan bahwa Netizen Indonesia paling tidak sopan dalam berinternet. Riset Microsoft tersebut mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Hasilnya, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei.
Yang menjadikan Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. Mirisnya, setelah menerbitkan survei tersebut, instagram milik Microsoft langsung diserbu netizen Indonesia yang tak terima dengan hasil riset tersebut hingga membuat pihak Microsoft menutup komentarnya.
Alasan kenapa mereka menjadi keyboard warrior dan rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melakukan ‘perang online’ ini biasanya karena nama disamarkan dan identitas tidak diketahui, seseorang merasa bebas menghujat tanpa dikenai risiko. Hal ini yang mendasari para netizen lebih berani mengekspresikan emosinya karena tidak ada yang tahu identitasnya. Alasan lainya adalah karena lebih mudah mengeluarkan emosi lewat tulisan ketimbang berbicara langsung. Biasanya, pelaku akan merasa lebih berani untuk menghujat di belakang layar dibanding mengutarakan langsung di depan orang yang tidak disukainya.
Cara menyikapi keyboard warrior apalagi saat kita menjadi korban dari keyboard warrior ini paling mudah adalah dengan tetap tenang dan tidak menanggapi secara emosi. Karena jika saat kita membalasnya dengan emosi maka akan terjadi debat yang tiada henti yang sama saja kita menjadi bagian dari keyboard warrior ini. Peribahasa “mulutmu harimaumu” pun kini telah berevolusi menjadi “jarimu harimaumu” karena dari tulisan itu dapat membuat sakit hati seseorang ataupun malah berakhir merugikan diri sendiri.
Maka dari itu, bijaklah dalam berinternet, selalu "tabayyun" atau teliti dulu sebelum menerima dan menyebarkan informasi dan kontrol emosi dalam menanggapi sesuatu.
