Konten dari Pengguna

Selain Tidur, Ini yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Subuh di bulan Ramadan

Andri Saleh

Andri Salehverified-green

Humas, Penulis, Sutradara, Desainer Grafis

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Saleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Pedro Figueras dari Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Pedro Figueras dari Pexels

Di antara sekian banyak hobi yang saya punya, tidur adalah satu yang paling favorit. Makanya nggak aneh kalau di setiap kesempatan lihat kasur, sofa, atau tikar, saya reflek rebahan dan tidur. Maaf, bukannya malas ya, tapi saya memegang teguh pepatah "Kesuksesan berawal dari mimpi, mimpi berawal dari tidur. Maka tidurlah sebanyak-banyaknya agar memperoleh kesuksesan hakiki". Absurd memang, tapi memang itulah kenyataannya.

Bahkan, saking pentingnya tidur bagi umat manusia, Tuhan menciptakan malam supaya manusia beristirahat (tidur). Dan, Nabi Muhammad Saw pun mengajarkan tidur di tiga waktu: sesaat sebelum waktu duhur, selepas salat isya, dan waktu antara salat malam dan waktu subuh. Ini menunjukkan bahwa tidur itu penting. Penting buat tubuh dan psikologis manusia.

Tapi, ternyata ada waktu-waktu yang jadi warning untuk tidur. Maksudnya, kalau nggak ada hal darurat, jangan tidur di waktu-waktu itu. Salah satunya adalah tidur setelah subuh. Hadeh. Padahal ini salah satu kebiasaan yang saya lakukan di bulan Ramadan ini.

Jujur saja, ini berat. Bisa dibayangkan kan nikmatnya tidur setelah subuh ketika bulan Ramadan? Perut kenyang, mata ngantuk, dan suhu udara dingin. Jelas, tidur adalah pilihan paling utama. Meski pas bangun nanti perut agak mual dan badan lemas, tetap saja susah menghilangkan kebiasaan tidur setelah subuh.

Akhirnya, setelah membaca berbagai referensi, ternyata waktu subuh itu punya pengaruh baik untuk tubuh manusia, salah satunya adalah otak. Jadi, pada waktu subuh inilah gelombang otak manusia ada di frekuensi alpha.

Menurut Hans Berger, seorang psikiater asal Jerman yang menemukan alat pengukur gelombang otak (EEG), frekuensi alpha adalah kondisi dimana otak manusia dalam keadaan rileks dan tenang. Ini sangat cocok untuk pemrograman alam bawah sadar dan memunculkan kreativitas dan potensi diri. Nah, kan. Sayang juga kalau otak sudah siap diberdayagunakan tapi saya malah pilih tidur. Mengkerut lagi deh itu otak.

Sebenarnya ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan setelah subuh - tentunya selain tidur - sekaligus memaksimalkan gelombang otak di frekuensi alpha. Ini adalah beberapa di antaranya.

Pertama, menghapal. Beberapa rumah tahfiz ada yang menerapkan metode menghapal Alquran di sepertiga malam, bersamaan dengan salat malam. Ini disebabkan karena di waktu-waktu itu, gelombang otak berada di frekuensi alpha sehingga lebih cepat menangkap dan menyimpan informasi. Jadi, gunakan waktu setelah subuh dengan menghapal. Bisa menghapal Alquran, materi pelajaran, atau lainnya. Hasilnya dijamin lebih cepat dan optimal.

Kedua, berpikir. Nah, karena kondisi otak dalam keadaan terbaik, maka gunakan otak untuk berpikir keras. Misalnya mencari inspirasi untuk inovasi di tempat kerja, perencanaan pribadi di masa depan, atau memikirkan konten-konten kreatif. Oh ya, tulisan artikel ini pun hasil mikir tadi subuh. Lumayan, kan? Kalau tadi setelah subuh saya memilih tidur, artikel ini bisa jadi tidak akan pernah tayang di Kumparan.

Ketiga, olahraga. Sambil menunggu matahari terbit, bisa juga olahraga kecil semacam senam ringan. Atau, biar lebih efektif, beres-beres rumah saja. Entah itu nyapu atau ngepel, lanjut nyuci (jika mampu). Selain menggerakkan otot-otot tubuh, rumah pun jadi bersih. Double kill, begitulah kalau meminjam istilah zaman sekarang.

Mudah-mudahan saja dengan melakukan ketiga aktivitas tadi, tidur setelah subuh bisa dihindari dan diganti dengan aktivitas lain yang lebih produktif dan bermanfaat. Tapi, kalau memang badan lelah dan capek, yo wes tidur saja. Habis mau gimana lagi coba?