Konten dari Pengguna

Pisang Goreng dan Kisah Cinta

Junius Andria

Junius Andria

Halo, saya Junius Andria, Founder dari komunitas literasi Kampus Cerita di Kutai Timur. Saya lulusan Ilmu Komunikasi Univesitas Mulawarman-Kalimantan Timur.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Junius Andria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pisang Goren dan Kisah Cinta. Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pisang Goren dan Kisah Cinta. Dokumentasi Pribadi

Kau ini, sudah sehat ya?"

“Bisa jadi tidak.”

“Lalu kenapa buka jualan?”

Ditatapnya aku sekilas, mendengus lalu tersenyum. “Tidak ada yang membayar tagihan rumah sakit, kalau aku terus disana.” Dia kembali mengadon tepung yang siap untuk di goreng dengan pisang. Penggorengan yang sejak tadi mengepul, menjadi begitu riuh, saat pisang dan tepung bertemu. Mengisi dialog kami yang kini terputus. Harum pisang goreng Rahayu mulai menyeruak, mengisi semua udara di Kota Tua sore itu.

----

Tidak ada yang tahu asal-usul Rahayu. Semua orang yang aku temui, hampir memiliki ceritanya sendiri, mengenai Rahayu. Ada yang bilang Rahayu anak haram, yang dibuang orang tuanya di panti asuhan. atau ada yang bilang, Rahayu anak setan yang dibesarkan dihutan oleh hantu hutan. Rumornya, Rahayu perempuan nakal yang menyamar jadi penjual gorengan. Macam-macam. Aku menjadi agak gregetan sendiri, mendengar orang-orang ini, membicarakan Rahayu, seperti sedang membicarakan kucing peranakan.

“Apalagi Won, kamu mau cari Rahayu?”

“Dia sudah pergi berhari-hari dan tidak ada kabar,” kataku, gusar.

“Lha, memangnya kenapa?” jawab Surtinah, tetangga indekos Rahayu.

“Aku ingin menemuinya,” jawabku singkat.

“Kan sudah aku bilang, janganlah kau ributkan keberadaan Rahayu. Kalau dia tidak pulang, bisa jadi sedang ada urusan yang harus diselesaikan,” katanya lagi.

“Kabari aku, jika dia pulang, Sur,” pintaku.

“Aku tidak janji.”

“Lha kenapa?”

“Ya untuk apa aku harus repot-repot memberi tahumu?”

“Tolonglah, aku perlu berbicara dengannya.” Ku berikan sebungkus martabak manis yang sejak tadi ku tenteng dalam kresek hitam, maksud hati ku beli untuk Rahayu. Tapi, sekarang aku memberikannya pada Surtinah.

Dia menerima dengan sumringah lantas mengangguk-angguk setuju. Cepat sekali.

Aku segera pergi meninggalkan lorong indekos Surtinah. Di sela-sela perjalanan, aku dapati tikus dan curut saling berkerjaran tanpa rasa takut manusia. Bunyinya berdecit-decit seperti pintu indekos Rahayu yang reyot. Sangat tidak asyik di dengar, namun malam ini, suara tikus dan curut bisa membangkitkan rinduku pada Rahayu. Ah, Rahayu, dimana gerangan. Apa kau sudah makan? atau sudah redakah pusingmu?

Mendadak, ponselku bergetar, sebuah orderan ojek masuk. Aku segera menyetujuinya dan menjemput pelangganku yang letaknya satu kiloan meter dari indekos Rahayu.

-----

“Panggil saja Kliwon.”

“Aku Rahayu,” ujarnya lembut.

“Ayo, naik,” ajakku pada Rahayu.

Dia pun bergegas naik motorku, duduk tenang dibelakangku menggunakan helm hijau khas helm ojek online.

“Kamu pelanggan pertamaku hari ini,” terangku sambil menjoki Nyimax, tanpa terganggu. Menerjang jalanan Jakarta, yang kebetulan saja gerimis siang itu.

“Oh begitu,” jawab Rahayu singkat.

“Ini juga hari pertamaku kerja,” tambaku lagi.

“Oh iya? Bagaimana rasanya mendapatkan pelanggan?”

“Senang. Hehe.”

Tak sadar tawaku membuat kedua bahuku berguncang. Aku begitu senang mendapatkan pelanggan dan aku tidak pernah terpikir jika pelangganku, perempuan ayu seperti Rahayu. Meski tawanya tak terdengar, dari spion, sekilas aku melihat bibirnya ikut tersenyum membuatku semakin senang.

“Mbak Rahayu, kerja di mana?”

“Panggil Rahayu saja,” pintanya. “Aku jualan pisang goreng di depan Kota Tua.”

“Oh pembisnis rupanya.”

Rahayu tersenyum lagi. “Bisnis pisang goreng.”

“Kapan-kapan, aku akan mampir.”

“Aku akan ingat itu.”

Kami saling bertukar nomor wa. Dan sejak saat itu, setiap kali mengantar pelanggan ke Kota Tua, aku akan mampir ke warung Rahayu. Sebenarnya hanya gerobak yang berisi pisang goreng dengan tulisan kapital berwarna kuning “PISANG GORENG KOTA TUA” dan empat bangku warung yang disiapkan olehnya untuk pelanggannya duduk.

Tapi, aku akui, warung Rahayu tak pernah sepi. Sambil melayani pelanggan, biasanya Rahayu juga menggoreng pisang-pisangnya itu. Ku lihat matanya berbinar-binar, ketika pertama kali aku mampir ke warung.

“Kau datang juga,” katanya singkat.

“Kan, aku sudah bilang akan mampir.”

Dia menyiapkan dua pisang goreng yang di iris-iris menjadi tiga sisir. Dia membubuhi sambal petis lalu menaburi remahan tepung diatasnya kemudian menyerahkannya padaku.

“Kau mau minum apa?”

“Teh manis saja.”

"Aku akan buatkan sebentar lagi."

Aku pandangi dia mengaduk-aduk teh dan gula dalam gelas yang sudah berisi air panas. Tanganya yang ramping begitu cekatan, meski begitu wajahnya, ah, wajahnya tetap saja ayu. Setiap kali bibirnya tersenyum, langit hatiku mendadak muncul pelanginya. Menjadikan aku lupa, macetnya jalanan Jakarta yang sudah membuatku lelah setiap harinya.

Kunjungan demi kunjungan, orderan demi orderan, menjadikan hubunganku dengan Rahayu berkembang. Kami bisa menjadi teman dekat. Kami pun bertukar kabar lewat wa, apabila tidak bertemu. Bertukar cerita kehidupan. Sampai pada akhirnya Rahayu mengizinkanku mampir ke indekosnya.

“Maaf tempatnya jelek,” katanya.

“Eh, tidak masalah,” kataku, tak ingin basa-basi.

Rahayu menaruh tas selempang rajutan cokelat, yang sejak tadi dipakainya dipundak. Dia menyandarkan diri ke dinding kosan bercorak daun mint lantas membuka obrolan dengan, alasannya memilih berjualan pisang goreng dan tinggal di indekos yang gangnya saja sulit dilalui motor.

Matanya menjadi basah ketika menyingung tentang kepergian orang tuanya, yang rupanya telah meninggalkan banyak hutang. Hartanya sampai habis untuk membayar rentenir. Kini, setelah Rahayu hidup sendirian di Jakarta, dia memilih berjualan pisang goreng.

Katanya, dengan bibir yang bergetar. “Aku bingung, kenapa aku harus diciptakan hanya untuk disengsarakan.” Air matanya perlaan mengalir, membekukanku. Aku tak bisa berpikir, melihat Rahayu manangis, menutupi setiap rahasia pahit yang selama ini dia sembunyikan begitu erat dari balik matanya.

Pelan, aku mengusap pundaknya, membuat dia bergerak spontan memeluk tubuhku. Aku pun menyambutnya begitu erat. Aku tak ingat sudah berapa lama, aku mendekap Rahayu. Yang ku ingat, kejadian berikutnya, menjadi sebab musabab, kenapa aku bisa mencintai Rahayu dan menjadi begitu melekat padanya seperti pisang dan tepung.

Kami mulai bercumbu. Saling melumat dan menghisap. Sampai, bulan menyongsong anggun di atas langit, aku sudah menemukan diriku tertidur di kasur Rahayu, dengan dia di sampingku tanpa sehelai kainpun.

-----

Siang ini aku kembali lagi ke indekos Rahayu. Pintu reyotnya masih rapat tertutup, meski sudah berulang kali ku ketuk. Dadaku kembali pilu. Ah, belum pulang rupanya dia. Kuputuskan untuk bertanya kepada Surtinah.

“Apa Rahayu pernah pulang?” Tanyaku.

“Tidak ada,” ucap Surtinah, tanpa menghiraukan kehadiranku. Dia sibuk memotongi kuku.

Jantungku seperti luruh ke dengkul. Padahal, ini sudah seminggu, tetapi Rahayu tetap saja tak muncul. Tak berkirim kabar, tak ber-wa bahkan tanpa mengatakan apapun. Ku hela nafas beratku.

“Tolong..” Belum genap kalimatku terucap, mendadak saja mataku menemukan tas rajut cokelat Rahayu tergantung di indekos Surtinah.

“Itu tas Rahayu kan?” tanyakuku dengan dada bergemuruh sambil menunjuk tas itu, diruang tamu Surtinah.

“Bukan!” Jawab Surtinah sedikit terkejut.

“Jangan bohong padaku Surtinah!” desakku.

“Aku tidak bohong, Kliwon. Itu tasku.”

“Coba tunjukkan padaku, Surtinah, jika benar itu tasmu!” ucapku mulai emosi.

“Tidak! Aku tidak akan mau!”

Tanpa permisi, aku pun masuk indekos Surtinah, hendak mengambil tas rajut itu. Surtinah pun muntap bukan kepalang, tetapi aku tak mau menghiraukan. Ku raih tas rajut itu dari gantungan dan benar saja, ini Tas Rahayu.

“DIMANA RAHAYU, SURTINAH?” ucapku emosi.

Mata kami beradu. Saling melotot tak ada yang ingin mengalah.

“DIMANA?” Bentakku lagi.

“RAHAYU SUDAH MATI SEMINGGU LALU,” jerit Surtinah.

“AAPA!”

“Dia tidak mau hamil anakmu! Dia menggugurkan anak itu dan tidak selamat,” ucap Surtinah mulai tersedu-sedu. “Kau tahu, kau ini bangsat, Kliwon.”

Aku membiarkan tangis Surtinah menggaung, seperti sarang lebah dikepalaku. Makian-makiannya yang cadas tidak sama sekali melukai hatiku. Rasanya aku sudah ikut mati bersama Rahayu dan anakku.

Ya, ternyata dia sedang hamil anakku. Suara hujan mulai bertumbukan dengan seng indekos Rahayu. Bersamanya, aku mematung di depan indekos Rahayu. Entah sudah berapa harinya, aku di sana, tak makan dan minum. Berharap, bisa bertemu Rahayu dan anakku.