Konten dari Pengguna

Makam Keluarga Gouw: Jejak Leluhur Tionghoa di Lengkong Wetan

Andrian Gouw

Andrian Gouw

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andrian Gouw tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Andrian Gouw

Menelusuri sejarah leluhur, tradisi keluarga, dan peninggalan masa lalu di tengah perkembangan kawasan BSD.

Taman Makam Keluarga She Gouw, di kelurahan Lengkong Wetan Rt 001 Rw 010. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Jejak Leluhur di Lengkong Wetan

Di kawasan Lengkong Wetan, Tangerang Selatan, terdapat sebuah kompleks pemakaman Tionghoa yang dikenal sebagai Makam Keluarga Gouw. Dengan luas sekitar 3.500 meter persegi, kawasan pemakaman ini menjadi salah satu peninggalan yang menyimpan cerita mengenai keberadaan masyarakat keturunan Tionghoa di Lengkong Wetan.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti kapan makam tersebut pertama kali dibangun. Berdasarkan cerita yang diwariskan oleh keluarga, makam ini sudah ada sejak masa kecil generasi engkong atau kakek mereka. Karena itu, keluarga memperkirakan keberadaannya mungkin telah berlangsung selama ratusan tahun, meskipun belum ada dokumen yang dapat memastikan usia sebenarnya.

Bagi keluarga Gouw, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Keberadaannya menjadi penghubung dengan generasi terdahulu yang sebagian besar sejarah hidupnya kini hanya tersimpan dalam ingatan keluarga.

Dua Makam Besar dan Cerita tentang Leluhur

Dua makam besar ditengah pemakaman. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Di bagian tengah kompleks terdapat dua makam berukuran besar yang menyimpan cerita tersendiri. Menurut penuturan yang diterima dari papa, nenek, dan anggota keluarga lainnya, kedua makam tersebut dipercaya sebagai tempat peristirahatan leluhur yang dahulu memiliki tanah tersebut.

Leluhur itu diyakini berasal dari keluarga bermarga Gouw dan konon merupakan tuan tanah di Lengkong pada masa lampau. Namun, hingga kini, nama asli dan riwayat hidup mereka belum diketahui secara pasti.

Menurut cerita keluarga, leluhur tersebut bahkan tidak bisa berbicara bahasa Indonesia. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka hidup pada masa yang jauh lebih awal, mungkin enam atau tujuh generasi sebelum keluarga yang masih hidup sekarang, atau bahkan lebih.

Akan tetapi, cerita mengenai kepemilikan tanah dan kedudukan mereka sebagai tuan tanah masih berupa kesaksian lisan yang belum didukung dokumen sejarah. Identitas kedua leluhur ini menjadi salah satu misteri terbesar yang ingin ditelusuri oleh generasi sekarang.

Sejarah Keluarga dan Para Pengurus Makam

Nama keluarga ini dikenal sebagai Gouw. Dalam sejumlah sumber terdahulu, nama tersebut pernah ditulis sebagai “She Ghow”. Berdasarkan keterangan keluarga, ejaan yang benar adalah Gouw, sehingga penulisan tersebut digunakan secara konsisten dalam dokumentasi ini.

Menurut cerita keluarga, pada sekitar tahun 1950-an, Mpek Sunyoh merupakan salah satu tokoh yang dituakan dan berperan penting dalam pengurusan makam.

Pada sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, tanggung jawab tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, antara lain Gouw Kun Eng, Gouw Tjang Pih, dan Gouw Tjeng Suih, bersama sejumlah anggota keluarga lainnya.

Pada generasi berikutnya, pengurusan makam melibatkan Gouw Eng Lih, Gouw Suntong yang dikenal sebagai Botoy, Edi Sasmita, Gouw Jok Wah, Lauw Apen, dan banyak pihak lainnya.

Nama-nama tersebut dicatat berdasarkan keterangan keluarga. Periode kepengurusan dan hubungan antargenerasi masih dapat diperdalam melalui wawancara dengan para pengurus yang mengetahui sejarahnya secara langsung.

Bentuk Makam dan Jejak Leluhur yang Hilang

Salah satu hal yang menarik dari kompleks pemakaman ini adalah keberadaan banyak makam lama yang tidak memiliki batu nisan atau bongpay. Sebagian hanya berupa gundukan tanah yang meninggi, berbeda dari bentuk makam yang umum dijumpai saat ini.

beberapa makam yang sudah berbentuk ( bong pay ). Sumber : Dokumentasi Pribadi

Menurut cerita keluarga, banyak makam tanpa nisan maupun makam yang kemudian diberi bongpay berasal dari masa sekitar tahun 1970-an ke bawah. Namun, perkiraan tersebut belum dapat dipastikan untuk setiap makam.

Tidak adanya nama, tanggal, dan tulisan pada makam lama membuat penelusuran silsilah menjadi sulit. Hingga kini, keluarga belum mengetahui siapa nama leluhur yang dipercaya dimakamkan di dua makam besar di tengah kompleks tersebut.

Makam ini juga tidak hanya berisi anggota keluarga bermarga Gouw. Menurut keterangan keluarga, terdapat makam dari berbagai marga keturunan Tionghoa lainnya. Dengan demikian, kompleks ini berpotensi menyimpan sejarah yang lebih luas mengenai kehidupan masyarakat Tionghoa di Lengkong Wetan.

Dari Kebun Karet dan Sawah Menuju Kawasan BSD

Menurut ingatan keluarga, lingkungan Lengkong Wetan pada masa lalu masih didominasi kebun karet dan persawahan. Kondisinya berbeda dengan keadaan sekarang, ketika pembangunan perumahan dan perkembangan kawasan BSD semakin terasa.

Di sekitar makam, permukiman telah berkembang dan jalan menjadi semakin ramai. Meski lingkungan terus berubah, kompleks pemakaman ini masih bertahan sebagai peninggalan masa lalu.

Keluarga juga mengingat bahwa hubungan masyarakat pada masa itu cukup erat. Pernikahan antara laki-laki keturunan Tionghoa dengan perempuan Betawi atau pribumi disebut sebagai salah satu bentuk percampuran keluarga yang banyak terjadi. Namun, hubungan kekerabatan tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui keterkaitannya dengan keluarga yang dimakamkan di sini.

Tradisi Ceng Beng dan Tanggung Jawab Merawat Makam

Keberadaan makam tetap terjaga berkat keterlibatan para pengurus dan anggota keluarga. Menurut keterangan keluarga, pembersihan dilakukan kurang lebih setiap tiga bulan sekali, dengan kegiatan pembersihan yang lebih besar menjelang Ceng Beng.

Sekitar satu minggu sebelum sembahyang Ceng Beng, keluarga biasanya datang untuk membersihkan makam masing-masing. Kegiatan ini dikenal dengan sebutan Te Cuah dalam penuturan keluarga.

Te cuah satu minggu sebelum sembahyang ceng beng. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Amanat untuk menjaga makam diwariskan oleh para orang tua terdahulu kepada generasi berikutnya. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga dengan penghormatan kepada leluhur dan upaya mempertahankan peninggalan keluarga.

Gouw Eng Lih sedang meminta 'izin' untuk membersihkan makam Ny. Karmah ( istri Mpek Sunyoh ). Sumber : Dokumentasi Pribadi

Makam ini berada tidak jauh dari Tugu Lengkong. Meski demikian, menurut keterangan keluarga, keberadaan makam tidak secara langsung berkaitan dengan tradisi Sedekah Bumi. Kedekatan keduanya lebih berkaitan dengan lokasi dan keberadaan tokoh masyarakat pada masa lalu, termasuk Mpek Sunyoh.

Menjaga Sejarah agar Tidak Hilang

Hingga kini, belum ditemukan catatan silsilah, foto lama, atau dokumen keluarga yang dapat menjelaskan sejarah makam secara lengkap. Sebagian besar informasi masih berasal dari cerita orang tua, sesepuh, dan pengurus makam.

Keterbatasan tersebut membuat sejumlah pertanyaan belum terjawab, terutama mengenai identitas dua leluhur yang dipercaya sebagai pemilik tanah dan tuan tanah Lengkong. Cerita mereka masih bertahan, tetapi nama dan riwayat hidupnya belum diketahui secara pasti.

Karena itu, dokumentasi sejarah menjadi langkah penting untuk menjaga ingatan yang masih tersisa. Wawancara dengan para pengurus, pencatatan nama-nama keluarga, serta pendokumentasian kondisi makam dapat membantu generasi mendatang memahami sejarah tempat ini.

Makam Keluarga Gouw bukan hanya bagian dari sejarah sebuah keluarga, tetapi juga salah satu jejak kehidupan masyarakat Tionghoa di Lengkong Wetan. Di tengah perkembangan kawasan BSD, keberadaannya mengingatkan bahwa sejarah suatu wilayah tidak hanya tersimpan dalam bangunan atau dokumen resmi, tetapi juga dalam tempat-tempat yang dirawat dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebab, ketika nama seorang leluhur telah hilang, cerita yang masih tersisa menjadi salah satu jalan untuk mengenali kembali asal-usul dan perjalanan sejarah keluarga.

Beberapa warga keturunan tionghoa di Lengkong Wetan. foto diambil sekitar tahun 1990, Sumber : Arsip Keluarga

⸻

Catatan sumber: Artikel ini disusun berdasarkan kesaksian lisan keluarga dan pengurus makam. Perkiraan usia makam, luas kawasan, identitas leluhur, serta cerita mengenai kepemilikan tanah masih perlu dikonfirmasi melalui dokumen atau sumber pendukung lainnya.