Sedekah Bumi: Warisan Leluhur Lengkong Wetan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Andrian Gouw tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah perkembangan kawasan pinggiran BSD yang semakin modern, masih ada tradisi lama yang terus dijaga oleh sebagian masyarakat Lengkong Wetan dan Lengkong Karya, Tangerang Selatan. Tradisi itu dikenal sebagai Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan, sebuah kegiatan turun-temurun yang menyimpan cerita tentang rasa syukur, kebersamaan, dan hubungan antarmasyarakat yang berbeda latar belakang.
Bagi sebagian orang, Sedekah Bumi mungkin hanya dikenal sebagai kegiatan adat yang dilaksanakan pada waktu tertentu. Namun, di balik pelaksanaannya, terdapat sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarah tersebut bukan hanya tentang sebuah tradisi, melainkan juga tentang orang-orang yang memulainya, keluarga yang mempertahankannya, serta masyarakat yang hingga kini masih berusaha menjaganya.
Tulisan ini disusun berdasarkan cerita keluarga dan penuturan yang diwariskan oleh para pendahulu, sebagai upaya mendokumentasikan salah satu bagian dari sejarah budaya lokal Lengkong Wetan.
Berawal dari Kehidupan Masyarakat Petani
Menurut cerita yang diwariskan oleh nenek penulis, Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan diperkirakan mulai dirintis sekitar tahun 1950-an. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat Lengkong Wetan menggantungkan kehidupannya pada pertanian.
Dari kehidupan yang dekat dengan tanah dan hasil pertanian itulah muncul pemikiran sederhana: manusia memperoleh makanan dan penghidupan dari bumi, sehingga sudah sepantasnya masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas apa yang telah diberikan.
Tradisi ini dirintis oleh Gouw Ketong, yang akrab dipanggil Mpek Sunyoh, bersama Amil Bosin dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Mpek merupakan sebutan dalam lingkungan Tionghoa Peranakan Benteng untuk menyapa laki-laki yang lebih tua daripada ayah sendiri, sebagai bentuk penghormatan.
Mpek Sunyoh merupakan keturunan Tionghoa Peranakan Benteng, sedangkan Amil Bosin berasal dari masyarakat Betawi. Keduanya menjadi bagian dari cerita awal sebuah tradisi yang kemudian dijalankan oleh masyarakat dengan latar belakang berbeda.
Pada awalnya, kegiatan ini belum dikenal dengan nama Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan. Pelaksanaannya berlangsung di sebuah persimpangan jalan yang menjadi titik berkumpul masyarakat. Nama Tugu baru melekat kemudian, setelah sebuah tugu dibangun di persimpangan tersebut, yang menurut cerita keluarga berkaitan dengan pemekaran wilayah Lengkong Wetan dan Lengkong Karya sekitar tahun 1980-an atau 1990-an.
Karena tradisi Sedekah Bumi telah lebih dahulu berlangsung di lokasi itu, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan.
Kesederhanaan yang Menjadi Bagian dari Tradisi
Pada masa awal pelaksanaannya, Sedekah Bumi berlangsung dengan sederhana. Warga datang membawa masakan dari rumah masing-masing, kemudian meletakkannya bersama makanan warga lainnya di atas alas yang terbuat dari bambu.
Sejumlah perlengkapan yang menurut cerita keluarga menjadi bagian wajib tradisi antara lain kopi pahit, kopi manis, air putih,susu, rokok, lisong, dan ayam bekakak.
Setelah seluruh persiapan selesai, amil memimpin doa dengan tata cara Islam. Salah satu kebiasaan yang dipertahankan hingga sekarang adalah mengucapkan amin sebanyak tujuh kali. Setelah rangkaian doa selesai, warga bersama-sama mengambil makanan yang telah dibawa dan dikumpulkan sebelumnya.
Di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan gambaran kehidupan masyarakat yang mengutamakan kebersamaan. Setiap orang datang membawa apa yang dimilikinya, berkumpul di tempat yang sama, berdoa bersama, lalu menikmati makanan bersama-sama.
Makna khusus dari setiap perlengkapan adat belum sepenuhnya diketahui oleh generasi penerus. Oleh karena itu, penjelasan mengenai simbol-simbol tersebut masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut melalui cerita para sesepuh dan sumber sejarah lainnya.
Meski demikian, kebiasaan berkumpul dan berbagi yang melekat dalam pelaksanaannya menjadi bagian penting dari ingatan keluarga tentang tradisi ini.
Dari Mpek Sunyoh ke Generasi Penerus
Setelah Mpek Sunyoh meninggal dunia sekitar tahun 1960-an, tradisi Sedekah Bumi diteruskan oleh istrinya, Ny. Karmah. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu bertumpu pada satu orang, tetapi juga membutuhkan keluarga yang bersedia meneruskan apa yang telah dirintis sebelumnya.
Pada masa Mpek Sunyoh, kegiatan Sedekah Bumi juga diramaikan dengan hiburan rakyat, salah satunya pertunjukan topeng Betawi.
Setelah Ny. Karmah meninggal dunia pada sekitar tahun 1970-an, tradisi tersebut kembali diteruskan oleh anak-anak dan keponakan Mpek Sunyoh. Pada sekitar tahun 1980-an, masyarakat menggunakan hiburan seperti Gambang Kromong dan, pada kesempatan tertentu, Lenong.
Hiburan tersebut menjadi bagian dari suasana perayaan pada masa itu. Sedekah Bumi bukan hanya menjadi kesempatan bagi warga untuk berdoa dan berkumpul, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial melalui kesenian yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, perjalanan tradisi ini tidak selalu berjalan mulus. Pada sekitar tahun 1990-an, Sedekah Bumi sempat mengalami masa vakum karena berbagai keadaan. Sejumlah penerus yang selama ini berperan dalam pelaksanaannya telah meninggal dunia, sehingga keberlanjutan kegiatan menghadapi tantangan.
Sejak masa tersebut, menurut cerita keluarga, hiburan yang dahulu menyertai Sedekah Bumi tidak lagi diadakan.
Mak Uun dan Upaya Menghidupkan Kembali Tradisi
Memasuki tahun 2000-an, Sedekah Bumi kembali aktif melalui upaya Mak Uun, menantu Ny. Karmah, yang mengambil peran dalam mengoordinasikan pelaksanaannya.
Dalam menjalankan kegiatan tersebut, Mak Uun tidak sendiri. Sejumlah warga dan tokoh setempat turut membantu, di antaranya Koh Apen, Koh Eng Lih, Koh Kimcan, dan Koh Jokwah.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang tradisi yang tetap bertahan meskipun pernah mengalami masa berhenti.
Setelah Mak Uun meninggal dunia pada tahun 2025, upaya melanjutkan Sedekah Bumi kembali dijalankan oleh para penerus dan warga yang masih peduli terhadap keberadaan tradisi tersebut. Di antara mereka terdapat Ci Eng Moy, Ci Wawah, dan sejumlah warga lainnya yang saling mengingatkan agar kegiatan ini tetap berlangsung.
Perjalanan dari Mpek Sunyoh, Ny. Karmah, generasi keluarga berikutnya, Mak Uun, hingga para penerus masa kini memperlihatkan bahwa sebuah tradisi dapat bertahan melalui keterlibatan banyak orang. Setiap generasi memiliki peran tersendiri dalam menjaga sesuatu yang telah diwariskan kepadanya.
Pertemuan Budaya dalam Kehidupan Masyarakat
Salah satu hal yang menarik dari sejarah Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan adalah keterlibatan masyarakat dengan latar belakang etnis yang beragam.
Mpek Sunyoh berasal dari lingkungan Tionghoa Peranakan Benteng, sementara Amil Bosin berasal dari masyarakat Betawi. Keduanya menjadi bagian dari sejarah awal tradisi yang tumbuh di lingkungan masyarakat Lengkong Wetan.
Menurut penuturan keluarga, pada masa itu hubungan antarmasyarakat terasa sangat erat. Perbedaan suku tidak menghalangi warga untuk berkumpul dan menjalankan kegiatan bersama. Kehidupan bertetangga yang dekat turut membentuk suasana kekeluargaan yang menjadi bagian penting dari tradisi ini.
Dalam perjalanan waktu, masyarakat Tionghoa Peranakan Benteng dan Betawi di lingkungan tersebut juga hidup berdampingan dan saling berinteraksi. Karena itu, Sedekah Bumi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah hubungan sosial dan percampuran budaya yang berkembang di Lengkong Wetan.
Meski demikian, unsur-unsur budaya tertentu yang mungkin memengaruhi tradisi ini masih perlu ditelusuri lebih jauh. Sejarahnya tidak cukup hanya dilihat dari identitas para perintis, tetapi juga perlu dipahami melalui kesaksian warga, kebiasaan masyarakat, serta perubahan yang terjadi dari masa ke masa.
Nilai yang paling terasa dalam cerita keluarga bukanlah perbedaan latar belakang para pelakunya, melainkan kemampuan mereka untuk menjaga kebersamaan.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Saat ini, Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan dilaksanakan pada bulan Maulid, setiap hari Jumat sekitar pukul 12.30. Tradisi tersebut masih diikuti oleh masyarakat, terutama warga Lengkong Wetan dan Lengkong Karya yang tinggal di sekitar Tugu.
Di kawasan yang kini berada di pinggiran BSD dan terus mengalami perkembangan, keberadaan tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat memiliki sejarah yang lebih panjang daripada perubahan lingkungan di sekitarnya.
Namun, ada tantangan yang mulai terasa. Berdasarkan ingatan penulis sejak masih kecil, jumlah warga yang mengikuti Sedekah Bumi sekarang cenderung lebih sedikit dibandingkan sekitar 10–15 tahun yang lalu.
Keadaan ini menjadi perhatian bagi masyarakat yang ingin tradisi tersebut tetap bertahan. Tanpa upaya mengenalkan sejarahnya kepada generasi muda, bukan tidak mungkin sebuah tradisi terus dilaksanakan tanpa banyak orang mengetahui siapa yang merintisnya dan bagaimana perjalanan panjangnya.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan dokumentasi. Pada masa lalu, ketika lingkungan Lengkong Wetan masih berupa perkampungan, dokumentasi kegiatan seperti foto tidak banyak dilakukan. Akibatnya, sebagian besar cerita sejarah harus ditelusuri melalui ingatan keluarga dan penuturan para sesepuh.
Kondisi tersebut menjadikan pencatatan sejarah lisan sebagai langkah yang penting. Wawancara dengan keluarga penerus, pengumpulan cerita warga, serta pendokumentasian kegiatan masa kini dapat membantu menyimpan informasi yang mungkin tidak lagi tersedia pada masa mendatang.
Peran Generasi Muda dalam Menjaga Warisan Leluhur
Dalam perkembangan terbaru, anak-anak muda Karang Taruna RW 010 mulai ikut membantu pelaksanaan Sedekah Bumi. Keterlibatan ini masih berada pada tahap awal, tetapi menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan tradisi yang telah ada sejak generasi terdahulu.
Bagi generasi muda, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar. Membantu persiapan acara, mengajak warga berpartisipasi, mendokumentasikan pelaksanaan, dan menggali cerita dari para sesepuh merupakan langkah yang dapat dilakukan secara bertahap.
Lebih dari itu, pelestarian budaya membutuhkan kesadaran tentang alasan sebuah tradisi perlu dipertahankan. Mengetahui nama para perintis, memahami perjalanan keluarga penerus, dan mencatat perubahan yang terjadi merupakan bagian dari upaya agar tradisi tidak kehilangan akar sejarahnya.
Bagi penulis, ketertarikan terhadap sejarah menjadi salah satu alasan untuk mulai mendokumentasikan Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan. Sebagai keturunan langsung Gouw Ketong atau Mpek Sunyoh, penulis merasa memiliki kedekatan tersendiri dengan tradisi yang dirintis oleh leluhurnya.
Keinginan untuk menulis bukan semata-mata karena hubungan keluarga, melainkan juga karena adanya kekhawatiran bahwa cerita tersebut dapat hilang apabila tidak diwariskan secara tertulis.
Menjaga Tradisi, Merawat Kekeluargaan
Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan merupakan bagian dari perjalanan masyarakat yang telah melewati berbagai generasi. Dari kehidupan masyarakat petani pada sekitar tahun 1950-an, masa ketika hiburan rakyat turut meramaikan kegiatan, periode vakum, hingga upaya menghidupkannya kembali pada tahun 2000-an, tradisi ini menyimpan cerita tentang ketekunan orang-orang yang berusaha mempertahankannya.
Sejarah tersebut masih memerlukan penggalian dan dokumentasi lebih lanjut. Akan tetapi, cerita keluarga tentang Mpek Sunyoh, Amil Bosin, Ny. Karmah, Mak Uun, dan para penerus lainnya telah memberikan titik awal untuk mengenali perjalanan Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan.
Bagi penulis, hal yang paling penting untuk dipertahankan bukan hanya bentuk acara atau perlengkapan adatnya, tetapi juga rasa kekeluargaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu.
Perbedaan suku dan agama seharusnya tidak menjadi penghalang untuk menjaga warisan yang telah dibangun bersama. Justru melalui tradisi seperti Sedekah Bumi, masyarakat memiliki kesempatan untuk kembali berkumpul, saling mengenal, dan mengingat bahwa mereka merupakan bagian dari lingkungan yang memiliki sejarah bersama.
Harapannya, sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang, Sedekah Bumi Tugu Lengkong Wetan masih dapat dilaksanakan dan dikenal oleh generasi berikutnya. Bukan hanya sebagai kegiatan tahunan, tetapi juga sebagai warisan sejarah yang diketahui asal-usulnya, dipahami nilai kebersamaannya, dan dijaga oleh masyarakatnya sendiri.
Apa yang telah dimulai oleh para leluhur tidak harus berhenti pada generasi mereka. Selama masih ada orang yang bersedia mengingat, menceritakan, dan meneruskan tradisi tersebut, selalu ada kesempatan untuk menjaga warisan itu tetap hidup.
Sebab, melestarikan budaya bukan sekadar mempertahankan apa yang dilakukan pada masa lalu. Pelestarian juga berarti memastikan bahwa generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk mengenal sejarah, memahami identitas daerahnya, dan merasakan ikatan kekeluargaan yang diwariskan oleh para pendahulu.
