Konten dari Pengguna

ACGS Rapor yang Mengubah Wajah Pasar Modal RI ( ESG Seri 9)

Andryanto EN

Andryanto EN

ESG Practitioner - IR & PR Specialist - Content Development and Research Analyst - Driving Strategic Communication at Indonesia Company

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andryanto EN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bursa Efek Indonesia (Kredit : Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Bursa Efek Indonesia (Kredit : Pribadi)

Pernah menemukan istilah ACGS saat membaca berita pasar modal, tetapi langsung menggulir layar ke bawah? Padahal, ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) sesungguhnya adalah “rapor tata kelola” yang menentukan seberapa layak sebuah emiten dipercaya oleh investor, mitra bisnis, hingga masyarakat luas.

ACGS, yang diinisiasi oleh ASEAN Capital Markets Forum (ACMF), menilai apakah perusahaan publik dikelola secara transparan, adil, bertanggung jawab, dan patuh regulasi. Bukan sekadar deretan skor, ACGS menjadi indikator apakah prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) benar-benar dipraktikkan, bukan hanya ditulis di laporan tahunan. Di era ketika publik kian kritis, reputasi tidak lagi bisa dibangun dengan narasi semata; tata kelola yang kuat menjadi fondasi utamanya.

Di tingkat global, isu tata kelola sudah naik kelas menjadi arus utama. Memasuki 2026, arus modal dunia bergerak deras ke instrumen investasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pilar tata kelola kini menjadi syarat mutlak sebelum manajer investasi besar menempatkan dana bernilai triliunan rupiah. Berbagai studi pasar menunjukkan, emiten dengan tata kelola yang kuat cenderung menikmati “governance premium”, yakni valuasi saham yang lebih tinggi daripada perusahaan sejenis yang abai pada etika dan transparansi. Singkatnya, integritas kini benar-benar memiliki harga.

Bagi perusahaan di Indonesia, skor ACGS yang tinggi ibarat magnet kepercayaan. Investor tidak lagi hanya memeriksa kinerja laba atau pertumbuhan pendapatan, melainkan juga cara dewan direksi mengambil keputusan, mengelola risiko, berkomunikasi saat krisis, hingga mengungkap informasi penting kepada publik. Skor ACGS yang baik membantu perusahaan memperoleh pendanaan dengan lebih mudah, menekan biaya modal, menjaga stabilitas harga saham, serta mengangkat reputasi di mata pasar regional dan global.

Bagi pemangku kepentingan, manfaatnya terasa nyata. Karyawan mendapatkan kepastian bahwa hak-hak mereka diatur dan diawasi dalam kerangka tata kelola yang jelas. Mitra usaha, pemasok, dan kreditur memperoleh kepastian kontraktual yang lebih kuat karena adanya prosedur yang transparan dan dapat diaudit. Pemegang saham minoritas mendapatkan perlindungan tambahan dari potensi tindakan sewenang-wenang pihak pengendali, karena ACGS mendorong keterbukaan informasi, mekanisme RUPS yang adil, dan pengawasan dewan komisaris yang lebih efektif.

ACGS juga membawa pengaruh langsung bagi masyarakat umum Indonesia. Perusahaan yang patuh pada standar ini didorong untuk lebih terbuka mengenai dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan usahanya. Hal ini mendorong pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengelola limbah, konsumsi energi, serta jejak karbonnya. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) pun dituntut lebih tepat sasaran dan terukur, bukan sekadar kegiatan seremonial. Masyarakat di sekitar wilayah operasi berpotensi mendapatkan manfaat berupa lapangan kerja yang lebih layak, lingkungan yang lebih terjaga, serta program pemberdayaan yang dirancang dengan perspektif jangka panjang.

Pada skala makro, praktik tata kelola yang mengacu pada ACGS membantu memperkuat kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional. Kasus-kasus penyalahgunaan wewenang yang mengguncang kepercayaan publik dapat dikurangi ketika perusahaan diawasi dengan kerangka yang jelas dan terukur. Hal ini berkontribusi pada stabilitas ekonomi, karena semakin sedikit perusahaan besar yang tumbang akibat tata kelola yang lemah, semakin kecil pula risiko rambatan krisis ke sektor lain.

Memasuki 2026, praktik tata kelola korporasi di Indonesia telah melampaui sekadar pemenuhan kewajiban administrasi. Emiten-emiten berkapitalisasi besar (blue chip) seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi langganan peraih skor ACGS tinggi. Banyak di antara mereka telah membentuk komite Environmental, Social, and Governance (ESG) di bawah pengawasan langsung dewan komisaris, sekaligus mulai membuka dasbor publik agar masyarakat dapat memantau jejak karbon dan aspek keamanan siber secara lebih transparan.

Kabar baiknya, kesadaran ini tidak hanya dimiliki oleh raksasa pasar. Di kelompok emiten berkapitalisasi menengah, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton/WTON) juga menorehkan capaian yang menonjol. Total nilai (overall score) praktik GCG yang diperoleh WIKA Beton dalam ASEAN CG Scorecard 2025 tercatat sebesar 97,59, jauh di atas rata-rata industri yang berada di kisaran 72,45 poin. Capaian tersebut menempatkan WIKA Beton di level Very Good, sekaligus menunjukkan bahwa praktik tata kelola di perusahaan ini telah melampaui standar minimal yang umum berlaku di sektor sejenis.

Bagi investor, angka ini menjadi sinyal bahwa ada pelaku di sektor konstruksi dan infrastruktur yang memilih membangun bisnis di atas landasan transparansi, akuntabilitas, dan manajemen risiko yang serius. Bagi pemangku kepentingan internal, hal ini memperkuat keyakinan bahwa arah kebijakan perusahaan diambil melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi masyarakat, capaian tersebut menunjukkan bahwa praktik bisnis yang beretika bukan hanya mungkin, tetapi juga mulai menjadi keunggulan bersaing baru bagi perusahaan Indonesia.

Meningkatnya kesadaran emiten terhadap pentingnya ACGS pada akhirnya merupakan kabar baik bagi ekosistem pasar modal kita. Standar ini membantu perusahaan yang sungguh-sungguh membenahi tata kelola untuk tampil lebih menonjol, sekaligus memberi panduan jelas bagi investor dan masyarakat dalam menilai kualitas sebuah emiten. Jika tren ini terus dijaga, pasar modal Indonesia berpotensi berkembang bukan hanya sebagai tempat mencari keuntungan, tetapi sebagai rumah bagi perusahaan-perusahaan yang sehat, berdaya saing global, dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.