Konten dari Pengguna

Alasan Sulitnya Penanganan COVID-19

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andy Nuriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi positif terkena virus corona.
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi positif terkena virus corona. Foto: Shutterstock

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dan lintas sektoral dalam penanganan pandemic Coronavirus Disease (COVID-19). Namun melihat trend perkembangan insiden penambahan kasus positif beberapa minggu terakhir dan respon masyarakat semakin membuat kekhawatiran baru akan perkembangan penyakit menular COVID-19 ini.

Kasus COVID-19 pertama kali dinyatakan positif di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu sebagai Kaus 01 dan 02 membuat masyarakat serentak menjadi gempar dan phobia akan tertular penyakit ini. Kebijakan untuk kewaspadaan pun semakin diperketat dan ditingkatkan agar penyebaran tidak semakin meluas meski penambahan kasus positif tetap bertambah.

Pada masa awal, trend Nasional hingga 23 maret 2020 tidak pernah ditemukan penambahan kasus positif melebihi 100 new case confirmed. Namun sejak 24 maret 2020 hingga tulisan ini dibuat, penambahan kasus baru lebih sering di atas angka 100 insiden baru dalam setiap updating di website resmi gugus tugas penanganan COVID-19.

Trend Nasional Kasus Konfirmasi Positif COVID-19 Per hari s/d 20 Mei 2020. Sumber: https://covid19.go.id/peta-sebaran

Puncak penambahan kasus baru tertinggi terjadi sekitar tanggal 13 dan 14 mei 2020, yaitu sebanyak 689 new case confirmed dan berlanjut hingga 20 mei 2020 dimana penambahan kasus selalu melebihi 450 insiden kasus baru setiap harinya. Dan pada kurun waktu sembilan hari sejak 11 sampai dengan 20 mei 2020, peningkatan kasus baru melonjak sekitar 4.231 new case confirmed (dari 14.265 kasus meningkat menjadi 18.496 kasus).

Penambahan angka ini signifikan dengan kondisi kontak social masyarakat yang sulit dikontrol secara umum pada saat ini. Dan hingga saat ini Indonesia menempati peringkat ke 33 secara Global kasus tertinggi COVID-19.

Membandingkan situasi dan fenomena yang terjadi pada masa awal konfirmasi kasus COVID-19 hingga saat ini, bukan saja penerapan strategi yang kurang tepat hingga menjadi kegagalan penanganan COVID-19 yang menjadi alasan.

Namun kepedulian dan kewaspadaan masyarakat juga terbukti menurun seiring dengan peningkatan kasus yang semakin sulit untuk di control. Terlebih aktivitas social ekonomi yang semakin tidak stabil akibat gagalnya imbauan social dan physical distancing menjelang idul fitri yang identik dengan aktivitas mudik atau pulang kampung yang dilakukan masyarakat perantau di kota. Terutama setelah pemerintah memberikan kelonggaran mobilisasi dan transportasi pada masa pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar di pusat kota.

Saat ini, pemerintah telah banyak mengalihkan anggaran biaya proyek-proyek yang dinilai tidak lebih prioritas untuk penanganan pasien COVID-19 di rumah sakit. Namun insidennya tetap saja melonjak tinggi karena konsentrasi penanganan COVID-19 lebih difokuskan pada upaya kuratif daripada promotive dan preventif. Contoh sederhananya adalah, saat ini di sudut jalanan umum masih lebih banyak baliho iklan produk industry dan kampanye daripada iklan layanan masyarakat terkait pencegahan COVID-19. Faktor ini juga memicu ketidakpedulian masyarakat untuk bersama mencegah dan waspada pada penularannya.

Factor social humanity tidak bisa dikesampingkan dalam keadaan seperti sekarang. Baik pada pilihan herd immunity yang masih menjadi kontrofersi maupun public empowering (pemberdayaan masyarakat) yang dioptimalkan dalam pencegahan dan penanganan pandemic COVID-19 saat ini. Alasannya adalah kepedulian dan kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan secara menyeluruh untuk dapat mengawasi dan mencegah perkembangannya. Masyarakat harus mengontrol lingkungannya secara mandiri, peduli dan waspada pada kedatangan warga baru dengan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan (karantina, PHBS, menggunakan masker, dll) hingga membantu memenuhi kebutuhannya secara gotong royong maupun menyediakan jasa secara berbayar untuk menumbuhkan ekonomi di sekitarnya.

Jika pilihan upaya kuratif atau pengobatan dan perawatan di rumah sakit pada pasien yang telah dinyatakan positif dinilai lebih efektif, lalu kenapa angka insidensi tetap meningkat dengan signifikan? Bahkan pembiayaan yang semakin tinggi dan tidak terkontrol pun harus menjadi pilihan dalam ketidakpastian. Sehingga fokus pada upaya kuratif inilah yang menjadi alasan sulitnya penanganan COVID-19 karena tidak efektif dan efisien dalam strategi penanganan pandemi saat ini. Belum lagi memperhitungkan factor pembiayaan, penggunaan SDM medis dan kesehatan yang banyak bahkan tidak sedikit yang telah meninggal dunia, maupun sarana prasarana yang terbatas.

Pada akhirnya, konsep seperti yang dilakukan nenek moyang kita pada zaman dahulu dengan memberdayakan masyarakat (gotong royong) dapat menjadi strategi yang patut untuk dicoba. Dimana dalam penyelesaian masalah ini masyarakat menjadi pemeran utama, bukan hanya menjadi korban atas dampak pandemic yang dirasakan secara umum. Masyarakatlah yang memantau, mewaspadai, hingga saling membantu setiap anggota warganya agar tidak saling menjadi agen penular COVID-19. Dengan demikian, upaya kuratif tidak akan terlalu menjadi beban akibat lonjakan insiden yang semakin meningkat.