LAWAN STIGMA HIV: Jauhi Virusnya, Bukan Orangnya

Ns. Andy Nuriyanto, S. Kep., M.Kep., CHt., CP.NNLP Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Andy Nuriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

HIV hingga saat ini masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang sering disalah pahami. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan, stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) sering mencuat dan masih menjadi tantangan besar. Padahal, yang perlu dijauhi adalah virusnya, bukan orangnya atau penderitanya.
Stigma dan diskriminasi pada ODHIV secara langsung berdampak tidak hanya melukai psikologis, namun juga berdampak serius pada upaya pengendalian virus HIVnya sendiri. Hal ini disebabkan ketakutan akan stigma dan diskriminasi masyarakat membuat banyak orang enggan melakukan test HIV, menunda atau bahkan menolak pengobatan setelah ditegakkan diagnose HIV, atau menyembunyikan status kesehatannya.
Yang perlu diketahui adalah HIV tidak menular melalui sentuhan, pelukan, berbagi makanan, atau interaksi sosial sehari-hari yang sewajarnya. Sehingga tidak ada alasan untuk mendeskriminasi atau menjauhi orangnya. ODHIV adalah individu yang sama seperti kita, mereka juga memiliki keluarga, cita-cita dan harapan, serta mereka juga berhak untuk diperlakukan dengan hormat. ODHIV juga tetap berhak bekerja selayaknya orang yang tidak HIV dengan menempatkan mereka pada tempat bertugas yang tidak berisiko terjadi trauma luka dan penularan kepada orang lain.
Yang perlu kita lakukan adalah tetap memberikan sikap empati, memberikan dukungan sosial, dan penerimaan masyarakat atau komunitas untuk membantu ODHIV menjalani pengobatan secara konsisten dan menjaga kualitas hidupnya. Pada saat ini virus HIV dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV). Sehingga ODHIV yang rutin menjalani pengobatan sesuai standar dapat hidup sehat dan produktif hampir sama dengan orang tanpa HIV. Bahkan, ada istilah U=U dengan pengobatan ARV yang baik, dimana risiko penularan dapat ditekan jika virus load yang ada di dalam tubuhnya Undetectable (tidak terdeteksi) sehingga dapat Untransmittable (tidak menularkan). Tapi sebaliknya, terkait stigma masyarakat tidak akan pernah bisa menyembuhkan siapa pun. Justru stigma semakin memperburuk kondisi kesehatan, meningkatkan tekanan mental, menimbulkan penolakan pengobatan, hingga menghambat keberhasilan program pencegahan serta pengobatan pada ODHIV.
Sehingga, melawan HIV tidak cukup hanya dengan pengobatan sesuai standar di layanan kesehatan saja. Melawan Stigma HIV juga bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah saja, namun juga menjadi tanggung jawab masyarakat secara luas karena masyarakat adalah komunitas terdekat dengan ODHIV yang hidup disekitarnya. Sehingga juga dibutuhkan adalah keberanian untuk melawan stigma dan mengubah cara pandang di lingkungan masyarakat terhadap ODHIV. Masyarakat luas harus menyadari bahwa yang benar adalah “jauhi virusnya, bukan orangnya”. Akan lebih baik jika masyarakat luas juga turut menciptakan lingkungan yang lebih adil, manusiawi, dan mendukung keberhasilan pengendalian HIV. Bukan sebaliknya, karena adanya stigma dan diskriminasi , ODHIV menjadi enggan untuk melakukan pengobatan dan menjalani hidup sehatnya secara produktif sehingga berdampak pada kualtias hidupnya.
