Konten dari Pengguna

SEMUT NARSIS: Upaya Skrining Menuju Eliminasi TBC 2030 di Kabupaten Berau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andy Nuriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tuberkulosis (TBC) hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia dengan peringkat beban tertinggi ke 2 secara global setelah India. Pada dasarnya TBC dapat disembuhkan, namun permasalahan utamanya masih banyak kasus belum terdeteksi atau tersembunyi, sehingga penularannya masih berpotensi dapat terus terjadi di masyarakat. Karena itulah, skrining TBC menjadi langkah penting dan strategis dalam upaya percepatan mencapai eliminasi TBC tahun 2030. Bukan hanya oleh tenaga kesehatan saja, namun juga tuntutan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dahak jika ada tanda gejala TBC seperti batuk lebih dari 14 hari atau disertai dengan demam, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening ketika batuknya kurang dari durasi tersebut.

Pada dasarnya skrining TBC dilakukan dengan beberapa metode dengan cara melakukan kajian atau anamesa tanda gejala dan status kontak, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium mikroskopis, hingga pemeriksaan kultur. Agar hasilnya optimal, skrining TBC harus dilakukan sesuai standar, mulai dari penjaringan gejala, pemeriksaan lanjutan dengan alat diagnostik yang tepat, hingga pencatatan dan pelaporan yang akurat. Skrining yang baik memastikan setiap terduga TBC mendapatkan pelayanan yang cepat dan tepat sesuai standar. Kegiatan ini menjadi upaya dalam penemuan kasus secara dini untuk menemukan orang yang berisiko atau bergejala TBC agar segera diperiksa dan diobati. Semakin cepat TBC ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularan kepada orang lain.

Skrining TBC berbasis Komunitas di Salah satu wilayah kerja Puskesmas Sambaliung Kabupaten Berau melalui pendekatan inovasi SEMUT NARSIS (Sumber: Dokumentasi Kegiatan Skrining TBC Puskesmas Sambaliung - Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Berau)
zoom-in-whitePerbesar
Skrining TBC berbasis Komunitas di Salah satu wilayah kerja Puskesmas Sambaliung Kabupaten Berau melalui pendekatan inovasi SEMUT NARSIS (Sumber: Dokumentasi Kegiatan Skrining TBC Puskesmas Sambaliung - Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Berau)

Skrining bukan hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga dapat dilakukan langsung di komunitas masyarakat oleh petugas yang berkompeten. Misalnya dengan penerapan program "Semarak Temukan Terduga dan Kasus Tuberkulosis" atau disingkat dengan SEMUT NARSIS seperti yang dilaksanakan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2025. Konsep tersebut dilakukan dengan cara menjaring sasaran yang memiliki indeks kasus TBC di suatu wilayah kampung/desa. Seluruh warga di wilayah tersebut dilakukan skrining mulai dari tingkat Keluarga hingga Kampung atau Kelurahan dan diupayakan secara menyeluruh selesai dalam kurun waktu maksimal selama 3 hari. Melalui kegiatan ini juga berdampak pada semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dahak karena stigma masyarakat secara tidak langsung dapat ditepis dengan edukasi dan kampenya pemeriksaan dahak secara massal.

Pada dasarnya skrining TBC dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Yaitu skrining pasif-intensif yang dilakukan pada pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dengan gejala batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan. Pendekatan selannjutnya adalah skrining secara aktif-massif yang dilakukan dengan mendatangi masyarakat atau sasaran secara langsung melalui investigasi kontak, kunjungan rumah, skrining komunitas, dan kegiatan layanan bergerak lainnya seperti kegiatan SEMUT NARSIS tersebut.

Dalam pelaksanaannya skrining melalui inovasi SEMUT NARSIS diharapkan dapat selesai dalam kurun waktu secepat mungkin (maksimal 3 hari dengan target harian 300-600 skrining), sehingga jika ada kasus TBC yang ditemukan dapat segera dilakukan diagnosis yang tepat dan pengobatan sesuai standar sedini mungkin. Konsep ini secara signifikan dapat meningkatkan capaian target kinerja program Pencegahan dan Pengendalian TBC di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dimana studi kasus sepanjang tahun 2025 ditemukan 708 kasus TBC (52,7% dari target 1.342 perkiraan kasus) dari total 8.067 orang terduga TBC (123,7% dari target terduga 6.523). Nilai tersebut meningkat secara signifikan jika dibandingkan tahun 2024 dimana ditemukan 662 kasus TBC (49,2% dari target 1.345 perkiraan kasus) dari total 6.784 orang terduga TBC (103,8% dari target terduga 6.535) (Sumber: Bidang P2P Dinas Kesehatan Kab. Berau).

Perlu diketahui bahwa secara khusus kelompok berisiko tinggi penularan TBC adalah kontak serumah pasien TBC (tinggal satu rumah dengan pasien TBC), orang dengan HIV, penderita diabetes mellitus, perokok, lansia, dan masyarakat di wilayah padat penduduk perlu menjadi prioritas skrining. Kelompok tersebut menjadi prioritas pelaksanaan skrining TBC. Tanpa skrining yang aktif dan terarah, dimungkinkan banyak penderita TBC tidak menyadari penyakitnya dan tetap beraktivitas seperti biasa, sehingga penularan sulit dikendalikan. Dalam implementasinya, keberhasilan skrining TBC sangat bergantung pada kompetensi dan peran tenaga kesehatan, kader, serta dukungan masyarakat. Edukasi yang benar dan kampanye anti stigma akan mendorong masyarakat lebih berani dan mawas diri memeriksakan dahaknya tanpa rasa takut atau malu.

Pada akhirnya, eliminasi TBC 2030 bukan sekadar target angka yang harus dicapai saja, melainkan juga menjadi komitmen bersama untuk melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan paripurna. Dengan skrining TBC yang aktif, berkualitas, dan berkelanjutan, diharapkan penularan kasus dapat dicegah, diputus dan semakin banyak orang dapat disembuhkan dengan pengobatan sesuai standar.