Harga Selembar Harapan, Kisah Mata Uang di Ujung Negeri

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Andyna Kurnia Wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap benda punya kehidupan rahasia. Batu merekam usia bumi, pohon menandai jejak musim, dan aku menyimpan rahasia manusia. Lapar, cinta, ambisi, juga doa-doa yang tak pernah terucap. Seperti doa yang terselip di lipatan dompet tipis, yang perlahan hidup dalam setiap tarikan napas. Ia merayap ke langkah kaki yang ragu di depan kasir, bergetar di jemari yang menimbang harus memberi atau menyimpan, dan bersemayam di mata yang menatap barang-barang bukan lagi sekadar benda, melainkan pilihan antara hari ini dan esok.
Aku lahir dari desisan mesin yang tak pernah tidur, keluar bersama ribuan kertas lain yang serupa. Wajah seorang pahlawan terpatri gagah di tubuhku, lengkap dengan angka yang selalu berhasil mengundang desir kecil di hati siapa pun yang memandang. Resmi aku disebut lima puluh ribu, tapi aku lebih suka dipanggil Rupi, nama yang membuatku terasa seperti sahabat perjalananmu. Barangkali suatu hari kau menemukanku, terselip di lipatan dompet, menyelinap di antara kuitansi belanja, atau mungkin tergeletak di meja kopi. Aku tak pernah tahu ke mana langkah membawaku, yang pasti setiap langkah yang kuikuti tak pernah luput meninggalkan cerita.
Di bank, untuk pertama kalinya kulit tipisku bersentuhan dengan tangan manusia. Teller menyalin nasibku ke tangan seorang pria kantoran. Wajahnya letih, sementara kemeja rapihnya tak lebih dari topeng. Angka-angka di layar komputer seolah perlahan mengikis sisa cahaya di matanya. Dengan gerakan cepat ia meletakkanku ke dalam dompet kulit yang kaku, berjejal kartu nama.
Sejenak aku tegak kepala, seakan menemukan tujuan. ‘Akhirnya perjalananku dimulai,’ batinku. Tapi sesaat kemudian segera muncul tanya, ‘ke mana aku akan dibawanya? Menemaninya pulang, menukar lelah dengan senyum hangat di meja makan? Atau justru hanyut ke sudut malam, di meja penuh kebisingan tempat orang mencari pelarian dari penat hidup?’
Belum sempat kutemukan jawabannya, gumam serak menyelinap dari lembar tua di sebelahku. Lembaran lusuh dengan ujung-ujung yang mulai sobek seakan menepuk bahuku.
“Nak, jangan terlalu banyak bertanya tentang tujuan. Kita semua dibawa ke mana nasib mau,” ujarnya pelan, seolah mengerti isi pikiranku.
Ia tersenyum getir. “Dulu, angka kita ini bisa bawa orang jalan-jalan seharian. Sekarang?” Ia terkekeh pendek.
“Sekali pesan ojek online, sudah tinggal receh di dompet. Begitulah inflasi, tidak mengubah rupa, tapi perlahan mengurangi daya.”
Aku terdiam, mencerna kata-katanya. Inflasi datang pelan-pelan, ketika harga-harga terus merangkak naik, sementara isi dompet tetap saja tak bertambah. Akibatnya, inflasi membuat belanjaan semakin sedikit, ongkos perjalanan semakin mahal, dan tangki bensin lebih cepat kosong. Rupi tetap sama, wajah pahlawan di tubuhnya masih gagah, namun daya yang ia bawa tak lagi sekuat dulu.
Dari dompet kulitnya aku berpindah ke tangan seorang perempuan, teman hidup si pria kantoran. Di matanya terpantul sisa pagi yang panjang, tapi senyum di bibirnya tetap seperti rumah yang tak pernah menutup pintu.
“Cuma segini, Bu” kata si pria sambil terkekeh, “Bonus belum cair, jadi belanja harus pintar-pintar sulap.”
Perempuan itu menatapnya lama, lalu menepuk tangan suaminya yang masih setia merapikan uang di tangannya. “Tenang Pak, segini cukup untuk mengisi meja kita dengan rasa pulang, tidak hanya kenyang.”
Aku tertawa dalam hati, ikut larut dalam hangatnya momen itu. Inilah langkah pertamaku sebagai Rupi. Bukan sekadar benda yang berpindah tangan, melainkan janji kecil untuk menjaga cinta di meja makan. Nasi mengepul, sambal terasi, mungkin juga tempe goreng yang renyah.
Esok harinya aku meluncur ke pasar. Dunia yang riuh oleh teriakan pedagang dan aroma sayur bercampur peluh. Di sini aku berpindah cepat, dari telapak tangan ke tangan lain, diselipkan di kantong plastik, dihitung dengan jari yang masih berdebu. Tidak ada ruang untuk mengeluh, justru disinilah aku merasakan nadi kehidupan paling nyata. Denyutnya terasa dalam genggaman kasar yang menukar uang dengan cabai yang beratnya ditawar sampai koma terkecil, dalam tawa getir pedagang yang masih bisa melontarkan lelucon meski dagangannya hampir layu di ujung hari.
Dari pasar aku terus berpindah, ikut mengalir bersama belanjaan yang dijajakan, masuk ke saku seorang pedagang ikan. Dari tangannya aku menyeberang jauh bersama hasil laut, dibawa kapal kecil menuju pelabuhan, lalu terselip di transaksi antar kota. Begitulah, tanpa kusadari, aku terbawa melintasi lautan, meninggalkan keramaian kota Jawa, hingga tiba di tanah timur, Papua. Di sini, matahari terasa lebih garang, tapi keramahan orang-orangnya membuat langkah terasa ringan, seolah panas siang tak lagi begitu menyakitkan.
Di tanah itu, aku tak lagi berpindah secepat di kota. Aku disimpan lama dalam dompet seorang guru honorer, terselip rapi di antara buku catatan dan kapur tulis yang membekas di saku bajunya. Ia tak tergesa melepasku, setiap lembar di dompetnya serasa keputusan yang harus ditimbang dengan hati-hati. Seakan di tubuh tipisku tersusun daftar yang tak tertulis, biaya kapur, perjalanan ke sekolah, atau sekadar membeli minyak tanah untuk malam yang panjang.
“Bapa… kapur tulis tinggal sedikit,” suara anak kecil itu pelan, sambil menunjuk papan hitam yang hampir kosong.
Guru itu tertawa kecil, mengelus kepala si anak. Ia membuka dompet lusuh nya, memandangku lama, lalu berkata dengan logat khas Papua,
“Eee… nanti kalau bapa pigi kota, baru bapa beli lagi, ee. Sekarang kita pake apa yang ada dulu. Tidak apa-apa, toh?”
Anak-anak di kelas itu mengangguk cepat, beberapa bahkan senyum, lalu kembali duduk. Di balik dinding papan yang tipis, debur ombak terdengar samar, seperti ikut mengisi jeda di antara tawa dan kata-kata mereka.
Di ujung timur negeri ini, tubuh tipis Rupi seakan lebih berat daripada di tempat lain. Harga sebotol bensin bisa menembus tiga kali lipat dari Jakarta, sekilo beras pun bisa setara dengan ongkos makan sehari penuh di kota besar. Di warung kecil, satu kaleng susu kental manis dihargai hampir dua kali lipat dari harga di Jawa.
Semua itu bukan karena Rupi berubah, melainkan perjalanan yang ia tempuh jauh lebih panjang. Barang-barang yang di kota besar bisa sampai dalam hitungan jam, di sini harus melewati laut, gunung, bahkan jalan tanah yang rawan putus. Biaya angkut menumpuk, ongkos tenaga ikut naik, dan akhirnya semua beban itu melekat pada harga. Maka, setiap rupiah di tanah Papua selalu diperas lebih keras, seolah satu lembar tipis harus menanggung perjalanan ribuan kilometer sebelum sampai di meja makan.
Semakin jauh Rupi melangkah, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Kusam, lusuh, penuh lipatan, dan luka-luka kecil yang terbawa dari genggaman ke genggaman. Rupi bukan sekadar jejak angka, melainkan saksi diam atas beratnya perjuangan. Pernah singgah di perahu nelayan yang menantang ombak, berdiam lama di dompet guru honorer yang menimbang waktu untuk melepasnya, hingga berpindah di warung kecil yang harus bertahan di tengah harga serba mahal. Setiap goresan di tubuhnya adalah sisa pelukan keras kehidupan, bukti bahwa ia bertahan untuk terus memberi arti.
Di situlah makna sejati Rupi. Setiap jejak itu menyimpan doa. Doa untuk kenyang, harapan untuk bertahan, dan impian hidup yang lebih layak. Jika nilai bukan angka, melainkan cerita, maka setiap lembar lusuh adalah puisi tanpa tinta. Ditulis oleh tangan-tangan yang kelelahan, dibacakan diam oleh perut yang menggigil menahan lapar, lalu disimpan di hati mereka yang masih percaya, bahwa esok, meski tetap berat, selalu layak diperjuangkan. ~
