Jendela Yang Menyimpan Dua Kota

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Andyna Kurnia Wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kereta melaju seperti garis lurus yang memaksa mataku membaca kota lapis demi lapis. Dari balik jendela, aku melihat gedung-gedung kaca berdiri jauh di belakang. Menjulang, berkilau, seakan menatap langit dengan sombong. Namun tak jauh darinya, tepat di garis terdekat pandangan, rumah-rumah warga berdempetan, atap seng berkarat saling menindih, jemuran baju yang hampir menempel ke rel, dan gang-gang sempit menelusup seperti urat-urat yang kusut. Barisan rapuh di depan itu seperti tirai yang menutup kemewahan, seakan mengingatkan bahwa Jakarta punya jurang yang tak selalu hadir sebagai tebing curam, tapi sebagai bentang bangunan yang berhimpitan tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Gerbong pagi itu penuh sesak. Dari Tanah Abang aku menumpang Commuter Line menuju Pasar Senen, bergabung dengan penumpang lain yang terburu waktu. Beberapa sibuk menatap layar ponsel, beberapa lagi tertidur sambil terhuyung di pegangan, sementara yang lain hanya diam, membiarkan waktu bergulir begitu saja. Sesaat aku merasa hanyut, hanya satu dari ribuan wajah tanpa nama, terbawa arus rel dan jadwal yang terus berputar.
Kereta berdecit pelan sebelum berhenti di sebuah stasiun kecil. Begitu pintu terbuka, udara pagi dan arus penumpang segera menyerbu gerbong. Netraku terhenti pada sosok mungil yang baru saja melangkah masuk. Seorang bocah berseragam putih biru menyingkir pelan di antara tubuh-tubuh dewasa, berusaha mencari ruang untuk berdiri. Usianya mungkin tak lebih dari tiga belas atau empat belas tahun. Seragam putih birunya sudah kusam, bagian kerahnya agak menguning, dan tas punggungnya hanya berisi beberapa buku tipis yang terlihat dari resleting yang rusak. Ia berdiri agak kaku, tapi dari caranya melirik papan rute di atas pintu, aku bisa menebak ia bukan anak yang asing dengan perjalanan ini. Mungkin setiap hari ia menempuhnya, dari perkampungan padat pinggiran rel menuju sekolahnya di pusat kota.
Tepat di belakangnya, dinding stasiun memajang poster raksasa. Sekelompok remaja berseragam jas abu-abu khas sekolah internasional, wajah mereka penuh tawa, seakan masa depan hanyalah hadiah yang tinggal mereka terima. Di bawahnya tertera kalimat tegas ‘MENDIDIK PEMIMPIN DUNIA’. Aku kembali menatap bocah berseragam kusam di depanku. Kontras itu menancap seperti cahaya yang jatuh pada kaca retak. Janji-janji megah terpantul jelas, tapi tak pernah menyentuh jejak langkah kecil yang berdiri kaku di gerbong. Lalu pintu kembali tertutup, kereta bergetar pelan, dan pemandangan itu lenyap secepat ia datang.
Aku terus menatap gerbong yang sesak ini, orang-orang yang sibuk dengan urusan paginya sendiri. Di antara seragam kusam seorang bocah dan senyum terang yang dipajang di poster sekolah internasional, kota terasa seperti mozaik yang dipaksakan menyatu. Potongan-potongan kehidupan itu berdiri berdampingan, tapi jaraknya seolah tak pernah benar-benar bisa dijembatani. Ada sesuatu yang menempel di pikiranku, semacam sebuah pertanyaan tentang ‘Seberapa lebar sebenarnya jurang tak kasat mata yang membelah kota ini?’
Rasa penasaran mendorongku mencari informasi, hingga sebuah laporan di salah satu situs berita menamparku. Badan Pusat Statistik, lembaga yang rajin menghitung denyut angka negeri ini, mencatat ketimpangan pengeluaran di Jakarta menyentuh 0,441 per Maret 2025. Angka itu disebut rasio Gini, semacam cermin yang mengukur seberapa lebar jarak antara si kaya dan si miskin. Nol berarti semua setara, satu berarti satu orang menguasai segalanya. Jakarta berdiri di tengah-tengah, tapi condong ke sisi yang membuat jarak makin terasa. Dari sana kutahu, dua puluh persen kelompok teratas menggenggam lebih dari separuh pengeluaran kota ini. Di ujung lain, empat puluh persen terbawah hanya mengantongi enam belas persen, seolah hidup dari sisa yang tercecer. Di tengah-tengah ada empat puluh persen kelompok menengah, memikul sekitar tiga puluh satu persen. Mereka sering disebut penyangga, tapi jumlah itu tak pernah cukup untuk menutup jurang yang terus menganga. Angka-angka di layar ponsel serasa menjelma menjadi pemandangan di luar. Gedung kaca yang membentang megah, atap seng yang renta, dan lorong-lorong sempit tempat kelas menengah bertahan, berdiri berdekatan, namun tetap tak saling menyentuh.
Kadang aku bertanya dalam hati, “Kalau saja aku lahir di sisi lain rel, apakah hidupku akan berjalan dengan cara yang sama?” Kereta ini memang memberi tempat yang sama. Siapa pun bisa duduk, siapa pun bisa berdiri, tak peduli sepatu kulit atau sandal jepit. Tapi di luar jendela, dunia tidak serata itu. Ada anak yang harus berhenti sekolah karena biaya, ada orang yang setiap harinya habis hanya untuk bertahan hidup.
Kereta ini menampung semua tanpa pilih kasih. Orang-orang berdesak, menunggu, ingin cepat sampai. Namun aku tahu, begitu turun di stasiun masing-masing, jalan hidup itu kembali bercabang. Ada yang melangkah ke gedung perkantoran ber-AC, ada yang menyusuri lorong pasar untuk berdagang, ada pula yang pulang ke rumah petak sempit di seberang rel. Rel nya sama, tapi nasibnya tidak. Seakan ada pena tak terlihat yang menulis garis hidup sebelum kita menapaki rel pertama. Setiap stasiun menjadi persimpangan, setiap pintu gerbong terbuka pada kemungkinan yang berbeda-beda.
Kereta terus melaju, deru roda dan getaran rel menjadi irama kehidupan yang tak pernah menunggu. Peluang muncul seperti cahaya yang menembus celah jendela kereta, terang di satu sisi, redup di sisi lain. Di sanalah aku merasakan, keberuntungan bukan sekadar kebetulan, tapi soal jarak dan peluang yang terbentang jauh sebelum kita lahir.
Di antara wajah-wajah penumpang yang tak familiar, aku melihat dunia dalam miniatur. Tangan-tangan kecil yang menggenggam lebih dari yang mampu, senyum yang berusaha menutupi lelah, mata yang menatap ke depan sambil berharap. Dan di balik semua itu, aku menyadari bahwa hidup ini mirip dengan perjalanan kereta. Kita bisa memilih cara menapakinya, tapi tidak bisa memilih stasiun awal. Setiap langkah, setiap nafas, adalah bagian dari perjalanan. Terkadang, yang paling menentukan bukan apa yang kita capai, tapi seberapa peduli kita pada mereka yang menumpang di gerbong sebelah.
Kereta akhirnya melambat, deru roda mereda, dan pintu terbuka di stasiun tujuan. Tubuhku melangkah keluar, tapi pikiranku masih tersangkut di ‘garis senyap’ antara menara kaca yang menjulang dan gang-gang sempit yang berdesakan. Suara langkah penumpang bergabung dengan gemuruh roda kereta yang kembali melaju, seperti irama yang berbeda setiap kali kereta meluncur.
Lirik lagu Hindia tiba-tiba terngiang,
Bayangkan jika kita tidak menyerah, tantangan apapun dari Ayah atau dunia, kita hadapi, kita lewati.
Sejenak aku memutar kembali gambar-gambar yang baru saja singgah di mataku. Bocah berseragam lusuh yang berdiri kaku, dan di belakangnya poster sekolah internasional yang menebar bayangan esok seperti langit biru tanpa awan. Keduanya berbagi ruang dalam bingkai yang sama, tapi jejak yang mereka tinggalkan di benakku bertolak belakang, seolah kota ini selalu menampilkan dua wajah dalam sekali pandang.
Dari situ, pikiranku melayang pada kata-kata Nelson Mandela,
“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
Aku mulai sadar, perbedaan yang baru saja kulihat bukan hanya soal langkah di gerbong atau jalan hidup yang bercabang, tapi soal kesempatan yang diberikan sejak awal. Pendidikan, peluang, dan pengetahuan yang bisa menjadi senjata untuk menutup jurang yang terlalu sering memisahkan kita.
Mungkin perjalanan ini tak pernah sekadar soal tiba di stasiun akhir. Dari jendela itu, jendela yang menyimpan dua kota, tersimpan pula ingatan tentang perjalanan hidup. Satu pandang saja sudah cukup membuka mataku pada dunia yang begitu timpang. Kota ini berjalan di atas rel yang sama, tetapi tak semua penumpang menempuhnya dengan bekal yang setara. Dan barangkali, keberanian terbesar kita adalah tetap berani menatap jendela itu, meski pemandangan di baliknya kerap bergetar seperti nada sumbang di tengah harmoni kota.
