Karena Shirah Kita Menemukan Arah: Saatnya Berhenti Jadi Generasi Gampang Patah

Mahasiswi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Andyni kurnia wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemerintah kerap bangga menyebut periode 2020-2025 sebagai momentum bonus demografis, hal ini karena terdapat peluang bagi peningkatan ekonomi dan pembangunan suatu negara melalui ketersediaan tenaga kerja usia produktif dalam skala besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah penduduk usia produktif mencapai 69%-70%. Namun, apa sebenarnya yang tersimpan dibalik angka yang terlihat menjanjikan tersebut?
Mari kita melihat realitas. Fenomena putus asa pada anak muda kini bukan lagi sekadar masalah personal, ia mewujud menjadi fakta sosial yang kian mengkhawatirkan. Pengangguran di Indonesia mencapai 16,2% berdasarkan data BPS tahun 2024. Lulusan SMA dan SMK yang digadang-gadang menjadi lulusan “siap kerja” justru menjadi penyumbang terbesar. Di sisi lain, media sosial malah menjadi sarana budaya komparasi, menyodorkan ilusi pencapaian instan yang lambat laun akan menghasilkan depresi kolektif. Hal itu didukung dengan statistik Kemenkes (2022) yang menyebut sekitar 11% remaja Indonesia mengalami depresi, dan lebih dari 14% pernah berpikir untuk bunuh diri. Itu artinya, besaran persentase terkait jumlah penduduk usia produktif oleh BPS sebenarnya menyimpan generasi yang rentan akan krisis identitas dan ketahanan diri.
Sebuah negara tidak akan berdiri dengan gagah jika pasak-pasak penyangga nya tidak kokoh. Generasi muda Indonesia harus penuh daya juang, bukan menjadi manusia-manusia bermental lemah yang bisa dikalahkan oleh satu dua kali kegagalan. Di sinilah sirah berperan sebagai catatan perjalanan yang harus dijadikan pedoman, bukan sekadar dongeng penghantar tidur untuk kemudian dilupakan.
Putus Asa Bukan Warisan Islam
Banyak dari anak muda kita saat ini merasa putus asa karena tidak lolos masuk ke perguruan tinggi impian, galau karena putus cinta, menyerah karena tidak diterima kerja, atau ketika banyak kenyataan ternyata melesat jauh dari apa yang sudah diimpikan. Namun, semua yang kita anggap sebagai ujian tidak pernah boleh memutus langkah-langkah kita jika Allah belum berkehendak untuk menghentikan perjalanan. Dan pemahaman akan hal tersebut baru bisa kita dapatkan saat kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. Bagaimana tidak? Saat banyaknya kejadian membuat kita merasa bahwa takdir berlaku dengan tidak adil, lalu pernahkah dunia ini adil bahkan bagi manusia yang paling Allah cinta?
Ayah Rasulullah meninggal ketika singgah di Madinah dalam perjalanan dagang menuju Syam, bahkan saat itu Rasulullah belum dilahirkan. Tidak berselang lama beliau resmi menyandang status yatim piatu dengan kehidupan yang tidak bergelimang harta. Ketika dalam asuhan paman nya, kaum Quraisy membujuk Abu Thalib agar mau melepas perlindungan terhadap dirinya dengan memberikan Ammarah bin Al-Walid bin Al-Mughirah (pemuda terbaik yang dimiliki Kaum Quraisy) sebagai alat pertukaran nyawa. Beliau dicaci, dihina sebagai tukang sihir, dianggap pemecah belah masyarakat, hingga disebut orang gila. Jika ada kesempatan, maka Rasulullah lah yang paling berhak untuk menyerah, beliau lah yang paling berhak mengeluh dan berputus asa. Namun faktanya, tidak ada satupun dari hal-hal tersebut yang beliau lakukan. Tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa beliau menjadikan putus asa sebagai jalan keluar. Dan itu semua karena beliau adalah representasi islam yang sesungguhnya.
Rasulullah adalah contoh implementasi terbaik dari nilai-nilai islam. Dengan akalnya beliau mengamati keadaan negeri, dengan fitrahnya beliau mengamati keadaan manusia dan berbagai golongan. Beliau berinteraksi dengan mempertimbangkan keadaan diri beliau dan keadaan manusia lainnya. Maka dengan kejernihan pemikiran lahirlah kemampuan untuk bisa melihat berbagai peluang. Itulah seorang muslim seharusnya. Tidak berhenti di satu titik, dan tidak melihat hanya ke satu arah. Gagal itu hal biasa. Jika dunia adalah pertandingan, maka kalah adalah hal yang wajar dalam kompetisi. Jatuh adalah hal yang normal untuk orang yang berjalan maupun berlari. Tapi titik terpentingnya adalah bagaimana kita bangkit lagi dan tidak berdiam diri. Jika seorang muslim tidak berlaku demikian, itu berarti ada jurang besar antara identitas keagamaan dan internalisasi nilai dirinya. Karena menyerah dengan mudah adalah bentuk pengkhianatan terhadap warisan spiritual islam dan penghinaan tehadap teladan kita sendiri.
Solusi Bukan Dalam Bentuk Berdiam Diri
Ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan jika kita mau mengeksplorasi lebih jauh. Berpikirlah untuk tetap hidup dan menghidupkan jiwa-jiwa lain. Pahami esensi penciptaan manusia sebagai hamba yang berguna. Jika ditolak satu universitas, masih banyak tempat lain yang menanti mu menjadi mahasiswa nya. Jika tidak diterima kerja, siapa yang tau jika kamu ditakdirkan untuk menjadi pemberi kerja? Selami banyak ketidak mungkinan. Seperti dalam penggalan Al Quran surat An-Nisa ayat 97:
اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ…. ٩٧
Artinya: “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah disana?...”
Apabila dimaknai lebih dalam, ayat tersebut menunjukan bahwa ada banyak hal yang bisa kita temui jika kita mau mencari. Jangan terpaku hanya pada satu waktu, jangan berkutat disatu tempat. Seperti dakwah Mekkah yang buntu selama 13 tahun. Ketika itu muslim disiksa, dihina, diboikot. Dakwah terbatas hanya dikalangan kecil dan tidak ada perlindungan politik. Ketika Mekkah bukan lagi tanah yang subur bagi pertumbuhan islam, maka Rasulullah mengambil sikap kritis dengan mencari peluang di tempat lain. Thaif dipilih sebagai alternatif pertama. Namun disinilah Rasulullah mendapat pelajaran bahwa mencari peluang berarti siap menghadapi kegagalan. Rasulullah berhasil membaca tanda bahwa sikap yang harus beliau ambil adalah mencari jalan lain. Maka bertemulah beliau dengan sekelompok pemuda Yastrib yang menerima seruan dakwah dengan antusias, lalu terbentuklah Bai’at Aqabah I dan Bai’at Aqabah II. Maka ketika Quraisy merencanakan pembunuhan, Rasulullah hijrah ke Madinah. Beliau memilih Madinah karena dianggap sebagai kota strategis secara ekonomi, dan adanya masyarakat yang heterogen. Artinya beliau melihat potensi dan peluang jangka panjang.
Kisah hijrah menunjukan pola pikir Rasulullah yang visioner. Tidak stagnan di tempat yang buntu. Tidak berhenti pada kegagalan, menghitung peluang dengan matang, dan berani mengambil risiko. Maka generasi muda kita harus menerapkan pesan berharga dari sirah Rasulullah bahwa hidup adalah soal mencari dan menciptakan peluang, bukan menunggu keajaiban. Jika gagal di satu tempat, carilah ditempat lain. Ditolak sekali, carilah pada seribu kesempatan lain. Jika kita menemui kesulitan di depan mata, coba lihat dan carilah celah dibaliknya. Jika generasi muda kita terus memelihara mentalitas mudah patah, maka bonus demografi hanya akan tercatat sebagai lelucon sejarah. Kalau Sirah dipahami dengan benar, maka ia akan menjadi tamparan. Bahwa sebenarnya Indonesia tidak kekurangan pemuda. Kita hanya kekurangan pemuda yang berdaya, baik dari segi daya saing, daya tahan, hingga daya juang. Betapa sebenarnya kita membutuhkan kualitas lebih dari kuantitas. Sebagaimana Rasulullah tidak butuh ribuan pasukan di awal dakwahnya, beliau hanya butuh segelintir sahabat yang tahan banting, berani gagal, tapi konsisten.
Indonesia adalah negeri dengan SDM dan SDA melimpah, teknologi terbuka, dan pendidikan formal mudah diakses. Indonesia memiliki anak muda sebagai aset bangsa. Maka sekarang saatnya generasi muda kita siap menjadi Abu Bakar dan Umar di era modern. Dari sirah kita belajar, bahwa yang membuat peradaban maju bukanlah jumlah manusia, tapi kualitas daya tahannya. Mari buktikan bonus demografi bukan sekadar angka di slide presentasi pejabat, tapi benar-benar berkah yang lahir dari generasi anti putus asa.
Tulisan ini menempati juara 1 dalam Lomba Opini Publik yang di selenggarakan oleh Pusat Studi Qur'an dan Sirah Nabawiyyah (PSQS) Universitas Darussalam Gontor
