Konten dari Pengguna

Quiet Quitting: Bekerja Secukupnya atau Bentuk Menjaga Kesehatan Mental?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anfasa Praditaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi

Belakangan ini, istilah quiet quitting semakin sering dibicarakan di dunia kerja. Meski terdengar seperti mengundurkan diri, quiet quitting sebenarnya bukan berarti berhenti bekerja. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, tanpa memberikan usaha ekstra di luar kewajiban.

Fenomena ini memunculkan berbagai pandangan. Sebagian orang menganggap quiet quitting sebagai tanda menurunnya komitmen karyawan. Namun, ada pula yang melihatnya sebagai cara menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar kesehatan mental tetap terjaga. Lalu, apakah quiet quitting benar-benar merupakan bentuk menjaga kesehatan mental?

Salah satu penyebab quiet quitting adalah burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Ketika karyawan merasa beban kerja terlalu berat, kurang dihargai, atau tidak memiliki kesempatan berkembang, motivasi kerja dapat menurun. Akibatnya, mereka memilih bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaan tanpa mengambil tanggung jawab tambahan.

Di sisi lain, quiet quitting juga dapat menjadi sinyal bahwa organisasi perlu mengevaluasi lingkungan kerjanya. Kurangnya apresiasi, komunikasi yang tidak efektif, atau kepemimpinan yang kurang mendukung dapat membuat karyawan kehilangan keterikatan terhadap pekerjaannya. Dalam kondisi seperti ini, bekerja “sekadar memenuhi kewajiban” menjadi bentuk respons terhadap lingkungan kerja yang dirasa kurang sehat.

Meski demikian, tidak semua pelaku quiet quitting melakukannya demi menjaga kesehatan mental. Ada yang ingin menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi ada pula yang melakukannya karena kurang termotivasi atau tidak puas dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, fenomena ini tidak dapat disimpulkan hanya sebagai bentuk kemalasan maupun strategi menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, quiet quitting menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan. Karyawan kini semakin menyadari pentingnya keseimbangan hidup, sementara organisasi dituntut untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memberikan apresiasi yang adil, dan membangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, quiet quitting dapat dipahami bukan sekadar tren, melainkan pengingat bahwa produktivitas dan kesejahteraan karyawan perlu berjalan beriringan.